Kamis, Juli 30, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

“Unseen, Unannounced”: Yang Tak Terlihat, atau yang Sengaja Kita Tutup?

by eko
Mei 7, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Sebuah film diputar di Winongo. Namun, yang terguncang bukan layar melainkan cara berpikir warganya. “Unseen, Unannounced” tidak hanya menampilkan realita, tetapi juga memaksa satu pertanyaan yang selama ini kita hindari: kita benar-benar jujur, atau hanya rapi dalam berpura-pura?

Tabooo.id: Talk – Kalau semua terlihat rukun, apakah itu berarti semuanya benar-benar baik? Atau justru, tanpa sadar, kita sepakat untuk menghindari hal yang penting?

Pada Rabu (22/4/2026), warga Winongo berkumpul untuk menonton film tersebut. Namun setelah itu, mereka tidak pulang dengan hiburan. Sebaliknya, mereka membawa pulang pertanyaan.

Awalnya, acara ini terasa seperti silaturahmi biasa. Tetapi kemudian, arah diskusi berubah. Warga mulai menyentuh hal-hal yang sebelumnya jarang dibicarakan.

Pertanyaan pun muncul dengan jelas:

Apakah kita hidup jujur, atau hanya menjaga suasana tetap tenang?

Ini Belum Selesai

AI Mempercepat Jawaban, Tetapi Bukan Pemahaman

URI: Ambisi Besar dan Dasar Hukum yang Dipersoalkan

Sejak saat itu, perhatian tidak lagi tertuju pada film. Justru, fokus berpindah ke diri masing-masing.

Kita Terbiasa Terlihat Baik, Bukan Jujur

Selama ini, budaya kita menjunjung tinggi harmoni. Karena itu, banyak orang menjaga sopan santun, menghindari konflik, dan mempertahankan kenyamanan.

Namun di sisi lain, kebiasaan tersebut juga membentuk pola komunikasi yang dangkal.

Akibatnya, banyak orang menahan kejujuran terutama ketika kejujuran berpotensi memicu gesekan.

Karena itu, percakapan sering berhenti di permukaan.

Orang saling menyapa, tetapi tidak benar-benar terbuka.
Permintaan maaf terdengar, tetapi akar masalah tetap tidak tersentuh.

Akhirnya, halal bihalal tetap berjalan. Namun, maknanya perlahan memudar.

Di tengah situasi itu, Jeje memilih arah berbeda.

“Saya tidak datang ke sini untuk sekadar mengucapkan ‘mohon maaf lahir dan batin.” tegas Jeje menegaskan kalimat yang dikutip dari Komisaris Tabooo Network Indonesia, KPA Hari Andri Winarso.

Jeje dan Cara Bicara yang Mengganggu

Sebagai CEO Tabooo Network Indonesia, Jeje tidak memilih cara aman.

Sebaliknya, ia berbicara langsung, tajam, dan tanpa basa-basi. Dengan pendekatan itu, ia sengaja mendorong orang keluar dari zona nyaman.

Menurutnya, media tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Lebih dari itu, media harus membuka realita yang sering ditutup.

Karena itu, dalam forum Winongo, ia tidak sekadar berbicara. Ia memicu.

Ia menggeser diskusi dari nyaman menjadi jujur.

Kalimat yang ia sampaikan pun terasa menampar:

“Kesopanan tanpa kejujuran adalah kebohongan yang rapi.” ungkapnya

Ketika Kesopanan Menjadi Penghalang

Memang, kesopanan tetap penting. Namun, ketika orang menggunakannya untuk menghindari kenyataan, maknanya berubah.

Faktanya, banyak warga sudah menyadari persoalan di sekitar mereka.

Lingkungan belum tertata.
Potensi belum dimanfaatkan.
Kebiasaan lama masih menghambat.

Namun demikian, kesadaran itu tidak selalu berubah menjadi keberanian berbicara.

Sebaliknya, banyak orang memilih diam karena takut konflik.

Akibatnya, masalah terus berulang tanpa penyelesaian.

Film Itu Hanya Pemicu

Sebenarnya, film ini tidak mengandalkan efek dramatis. Justru, kesederhanaannya membuat pesan terasa kuat.

Tim kreator menampilkan realita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mereka menunjukkan hal-hal yang sering dianggap biasa.

Misalnya, sampah yang terlihat tetapi diabaikan.
Selain itu, potensi yang sering dibahas namun tidak dijalankan.
Bahkan, kebiasaan yang tampak normal ternyata bermasalah.

Dari situ, muncul konsep “unseen” dan “unannounced”.

Artinya, realita itu selalu ada. Namun, orang jarang mengakuinya.

Ketika warga melihatnya di layar, mereka tidak bereaksi keras.

Sebaliknya, mereka diam dan mulai mengenali diri sendiri.

“Melalui karya ini, kami membaca realitas yang tidak diumumkan tapi selalu ada.” terangnya.

Silaturahmi Berubah Jadi Ruang Berpikir

Biasanya, acara seperti ini berakhir santai. Namun kali ini berbeda.

Alih-alih selesai di meja makan, warga justru membawa pulang kegelisahan.

Pertanyaan terus muncul di pikiran mereka.

Sebagian mulai mempertanyakan niat pribadi.
Sementara itu, sebagian lain mencoba melihat ulang kondisi lingkungan.

Dengan demikian, diskusi tidak berhenti di lokasi acara.

Sebaliknya, ia berpindah ke ruang yang lebih dalam: kesadaran.

“Yang kita bangun bukan sekadar acara. Kita membentuk cara berpikir bersama.”

Potensi Ada, Tapi Cara Pandang Menentukan

Dalam diskusi, warga sepakat pada satu hal penting:

Winongo tidak kekurangan potensi.

Namun demikian, masalah utama bukan terletak pada sumber daya.

Sebaliknya, hambatan muncul dari cara melihat realita.

Banyak orang sudah tahu apa yang perlu diperbaiki.
Tetapi, tidak semua siap mengakuinya secara terbuka.

Akibatnya, tanpa kejujuran, potensi hanya berhenti sebagai wacana.

Dorongan Ada, Keputusan Tetap di Tangan Warga

Di satu sisi, pemerintah mendukung kegiatan ini. Mereka melihat peluang dari pendekatan kreatif seperti film.

Namun di sisi lain, perubahan tidak bisa datang dari luar saja.

Lurah Winongo Dian Puspita menegaskan langkah yang harus diambil:

“Masyarakat perlu menerjemahkan diskusi ini menjadi tindakan nyata.”

Sementara itu, Kabid Pariwisata Yoga Pratama melihat peluang ekonomi yang bisa dikembangkan:

“Ini menjadi pemacu bagi kita untuk mengembangkan ekonomi kreatif.”

Dengan demikian, arah sudah terbuka.

Sekarang, masyarakat yang menentukan langkah berikutnya.

Ini Bukan Hanya Tentang Winongo

Sebenarnya, fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Winongo.

Sebaliknya, banyak komunitas mengalami pola yang sama.

Percakapan penting tertunda.
Masalah dibungkus dengan kesopanan.
Kebenaran disimpan demi kenyamanan.

Meskipun keterbukaan semakin luas, kejujuran belum selalu ikut tumbuh.

Kejujuran Itu Tidak Nyaman—Tapi Perlu

Memang, kejujuran sering memicu ketegangan.

Ia bisa membuka konflik.
Ia juga bisa mengubah hubungan.

Namun demikian, tanpa kejujuran, perubahan tidak akan terjadi.

Orang mungkin tetap rukun, tetapi tidak berkembang.
Lingkungan bisa terlihat baik, tetapi stagnan.

Pada akhirnya, Winongo sedang menguji satu hal penting:

Bukan tentang film. Melainkan tentang keberanian untuk jujur.@eko

Tags: Cinema IndonesiaFilm IndonesiaFilm Winongo MadiunKota MadiunTabooo PicturesUnseen Unannounced

Kamu Melewatkan Ini

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

FOUFO, Film yang Membuat Bahasa Madura Jadi Pemeran Utama

by eko
Juli 12, 2026

Selama bertahun-tahun, film Indonesia sering memakai bahasa daerah sebagai pelengkap dialog. Kehadirannya hanya muncul sesaat sebelum bahasa Indonesia kembali mengambil...

Nganglang Desa Winongo: Menjaga Batas, Merawat Ingatan

Nganglang Desa Winongo: Menjaga Batas, Merawat Ingatan

by dimas
Juli 11, 2026

Nganglang Desa Winongo mengajarkan bahwa menjaga batas wilayah bukan sekadar tradisi, tetapi cara merawat sejarah, spiritualitas, dan identitas kampung. Tabooo.id...

Doa Berbeda, Harapan Sama: Tiga Agama Satukan Winongo dalam Bersih Desa

Doa Berbeda, Harapan Sama: Tiga Agama Satukan Winongo dalam Bersih Desa

by dimas
Juli 10, 2026

Tiga agama bersatu dalam doa bersama pada Bersih Desa Winongo untuk memohon keberkahan, keselamatan, dan perdamaian bagi masyarakat. Tabooo.id: Madiun...

Next Post
Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Pemerintah Pastikan BBM Subsidi Aman

BBM Nonsubsidi Terus Naik, Sampai Kapan Dompet Rakyat Bertahan?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id