Sebuah film diputar di Winongo. Namun, yang terguncang bukan layar melainkan cara berpikir warganya. “Unseen, Unannounced” tidak hanya menampilkan realita, tetapi juga memaksa satu pertanyaan yang selama ini kita hindari: kita benar-benar jujur, atau hanya rapi dalam berpura-pura?
Tabooo.id: Talk – Kalau semua terlihat rukun, apakah itu berarti semuanya benar-benar baik? Atau justru, tanpa sadar, kita sepakat untuk menghindari hal yang penting?
Pada Rabu (22/4/2026), warga Winongo berkumpul untuk menonton film tersebut. Namun setelah itu, mereka tidak pulang dengan hiburan. Sebaliknya, mereka membawa pulang pertanyaan.
Awalnya, acara ini terasa seperti silaturahmi biasa. Tetapi kemudian, arah diskusi berubah. Warga mulai menyentuh hal-hal yang sebelumnya jarang dibicarakan.
Pertanyaan pun muncul dengan jelas:
Apakah kita hidup jujur, atau hanya menjaga suasana tetap tenang?
Sejak saat itu, perhatian tidak lagi tertuju pada film. Justru, fokus berpindah ke diri masing-masing.
Kita Terbiasa Terlihat Baik, Bukan Jujur
Selama ini, budaya kita menjunjung tinggi harmoni. Karena itu, banyak orang menjaga sopan santun, menghindari konflik, dan mempertahankan kenyamanan.
Namun di sisi lain, kebiasaan tersebut juga membentuk pola komunikasi yang dangkal.
Akibatnya, banyak orang menahan kejujuran terutama ketika kejujuran berpotensi memicu gesekan.
Karena itu, percakapan sering berhenti di permukaan.
Orang saling menyapa, tetapi tidak benar-benar terbuka.
Permintaan maaf terdengar, tetapi akar masalah tetap tidak tersentuh.
Akhirnya, halal bihalal tetap berjalan. Namun, maknanya perlahan memudar.
Di tengah situasi itu, Jeje memilih arah berbeda.
“Saya tidak datang ke sini untuk sekadar mengucapkan ‘mohon maaf lahir dan batin.” tegas Jeje menegaskan kalimat yang dikutip dari Komisaris Tabooo Network Indonesia, KPA Hari Andri Winarso.
Jeje dan Cara Bicara yang Mengganggu
Sebagai CEO Tabooo Network Indonesia, Jeje tidak memilih cara aman.
Sebaliknya, ia berbicara langsung, tajam, dan tanpa basa-basi. Dengan pendekatan itu, ia sengaja mendorong orang keluar dari zona nyaman.
Menurutnya, media tidak cukup hanya menyampaikan informasi. Lebih dari itu, media harus membuka realita yang sering ditutup.
Karena itu, dalam forum Winongo, ia tidak sekadar berbicara. Ia memicu.
Ia menggeser diskusi dari nyaman menjadi jujur.
Kalimat yang ia sampaikan pun terasa menampar:
“Kesopanan tanpa kejujuran adalah kebohongan yang rapi.” ungkapnya
Ketika Kesopanan Menjadi Penghalang
Memang, kesopanan tetap penting. Namun, ketika orang menggunakannya untuk menghindari kenyataan, maknanya berubah.
Faktanya, banyak warga sudah menyadari persoalan di sekitar mereka.
Lingkungan belum tertata.
Potensi belum dimanfaatkan.
Kebiasaan lama masih menghambat.
Namun demikian, kesadaran itu tidak selalu berubah menjadi keberanian berbicara.
Sebaliknya, banyak orang memilih diam karena takut konflik.
Akibatnya, masalah terus berulang tanpa penyelesaian.
Film Itu Hanya Pemicu
Sebenarnya, film ini tidak mengandalkan efek dramatis. Justru, kesederhanaannya membuat pesan terasa kuat.
Tim kreator menampilkan realita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka menunjukkan hal-hal yang sering dianggap biasa.
Misalnya, sampah yang terlihat tetapi diabaikan.
Selain itu, potensi yang sering dibahas namun tidak dijalankan.
Bahkan, kebiasaan yang tampak normal ternyata bermasalah.
Dari situ, muncul konsep “unseen” dan “unannounced”.
Artinya, realita itu selalu ada. Namun, orang jarang mengakuinya.
Ketika warga melihatnya di layar, mereka tidak bereaksi keras.
Sebaliknya, mereka diam dan mulai mengenali diri sendiri.
“Melalui karya ini, kami membaca realitas yang tidak diumumkan tapi selalu ada.” terangnya.
Silaturahmi Berubah Jadi Ruang Berpikir
Biasanya, acara seperti ini berakhir santai. Namun kali ini berbeda.
Alih-alih selesai di meja makan, warga justru membawa pulang kegelisahan.
Pertanyaan terus muncul di pikiran mereka.
Sebagian mulai mempertanyakan niat pribadi.
Sementara itu, sebagian lain mencoba melihat ulang kondisi lingkungan.
Dengan demikian, diskusi tidak berhenti di lokasi acara.
Sebaliknya, ia berpindah ke ruang yang lebih dalam: kesadaran.
“Yang kita bangun bukan sekadar acara. Kita membentuk cara berpikir bersama.”
Potensi Ada, Tapi Cara Pandang Menentukan
Dalam diskusi, warga sepakat pada satu hal penting:
Winongo tidak kekurangan potensi.
Namun demikian, masalah utama bukan terletak pada sumber daya.
Sebaliknya, hambatan muncul dari cara melihat realita.
Banyak orang sudah tahu apa yang perlu diperbaiki.
Tetapi, tidak semua siap mengakuinya secara terbuka.
Akibatnya, tanpa kejujuran, potensi hanya berhenti sebagai wacana.
Dorongan Ada, Keputusan Tetap di Tangan Warga
Di satu sisi, pemerintah mendukung kegiatan ini. Mereka melihat peluang dari pendekatan kreatif seperti film.
Namun di sisi lain, perubahan tidak bisa datang dari luar saja.
Lurah Winongo Dian Puspita menegaskan langkah yang harus diambil:
“Masyarakat perlu menerjemahkan diskusi ini menjadi tindakan nyata.”
Sementara itu, Kabid Pariwisata Yoga Pratama melihat peluang ekonomi yang bisa dikembangkan:
“Ini menjadi pemacu bagi kita untuk mengembangkan ekonomi kreatif.”
Dengan demikian, arah sudah terbuka.
Sekarang, masyarakat yang menentukan langkah berikutnya.
Ini Bukan Hanya Tentang Winongo
Sebenarnya, fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Winongo.
Sebaliknya, banyak komunitas mengalami pola yang sama.
Percakapan penting tertunda.
Masalah dibungkus dengan kesopanan.
Kebenaran disimpan demi kenyamanan.
Meskipun keterbukaan semakin luas, kejujuran belum selalu ikut tumbuh.
Kejujuran Itu Tidak Nyaman—Tapi Perlu
Memang, kejujuran sering memicu ketegangan.
Ia bisa membuka konflik.
Ia juga bisa mengubah hubungan.
Namun demikian, tanpa kejujuran, perubahan tidak akan terjadi.
Orang mungkin tetap rukun, tetapi tidak berkembang.
Lingkungan bisa terlihat baik, tetapi stagnan.
Pada akhirnya, Winongo sedang menguji satu hal penting:
Bukan tentang film. Melainkan tentang keberanian untuk jujur.@eko





