Tabooo.id: Sports – Langit Dubai masih cerah, tetapi langkah Janice Tjen terasa berat saat meninggalkan lapangan. Sorak penonton belum sepenuhnya reda. Raket masih tergenggam erat. Namun papan skor sudah berbicara tegas. Perjalanan Janice di Dubai Championships 2026 harus berhenti di babak 16 besar.
Duel Sengit Lawan Unggulan Kedua
Pada laga Rabu (18/02/2026), Janice menghadapi unggulan kedua dunia, Amanda Anisimova. Sejak awal, pertandingan langsung berjalan dalam tempo tinggi. Janice tampil berani. Ia meladeni reli panjang dan berusaha menekan lewat pukulan menyilang tajam.
Namun Anisimova menunjukkan kelasnya. Ia mengontrol ritme, menjaga konsistensi servis, dan memaksimalkan momen krusial. Petenis Amerika itu akhirnya mengamankan kemenangan dalam dua set langsung dan memastikan tiket ke perempat final.
Meski kalah straight set, Janice tidak tampil inferior. Ia sempat menciptakan peluang break point di beberapa gim awal. Bahkan, beberapa kali ia membuat Anisimova terpaksa bertahan ekstra keras. Sayangnya, pengalaman dan ketenangan sang unggulan kedua menjadi pembeda di poin-poin penting.
Mental Baja di Panggung Besar
Janice tidak menunduk saat tekanan datang. Ia tetap agresif dan terus mencari celah. Setiap poin ia rayakan dengan kepalan tangan kecil. Setiap kesalahan ia respons dengan fokus baru.
Seusai pertandingan, Janice mengakui kualitas lawannya, tetapi ia juga menegaskan semangatnya. “Saya sudah berusaha memberikan yang terbaik. Lawan saya bermain sangat solid, tapi saya belajar banyak dari pertandingan ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Anisimova memberi respek. “Dia pemain muda dengan potensi besar. Dia membuat saya harus bekerja keras,” kata Anisimova.
Ucapan itu bukan basa-basi. Janice memang memaksa sang unggulan keluar dari zona nyaman.
Lebih dari Sekadar Hasil
Langkah Janice memang terhenti di 16 besar. Namun turnamen ini memberi lebih dari sekadar angka di papan skor. Ia mendapatkan pengalaman menghadapi tekanan level elite. Ia merasakan intensitas pertandingan besar. Ia menantang salah satu pemain top dunia tanpa rasa gentar.
Bagi tenis Indonesia, penampilan ini membawa harapan. Janice menunjukkan bahwa jarak menuju level atas bisa ditempuh dengan kerja keras dan keberanian. Ia tidak sekadar tampil sebagai pelengkap. Ia hadir sebagai penantang.
Kekalahan ini bukan akhir. Justru ini bagian dari proses panjang menuju kematangan. Setiap reli, setiap poin, setiap tekanan di Dubai akan menjadi bekal untuk turnamen berikutnya.
Di lapangan Dubai, Janice mungkin kalah dalam skor. Namun dalam mentalitas dan pengalaman, ia melangkah satu level lebih tinggi.
Dan perjalanan besar selalu dimulai dari keberanian untuk melawan bahkan saat hasil belum berpihak. @teguh




