Kita sering bilang tukang parkir “cuma minta uang”. Tapi kalau suatu hari mereka berhenti jaga, kamu yakin masih nyaman ninggalin motor?
Tabooo.id: Talk – Kalau kamu pernah kesel bayar parkir, kamu nggak sendirian. Tapi sebelum menyimpulkan mereka cuma “minta uang”, coba tanya dulu: apa yang sebenarnya mereka lakukan saat kamu tidak melihat?
Kita jujur aja. Berapa kali kamu ngedumel tiap bayar parkir?
“Lah, cuma berdiri doang kok minta uang.”
“Ini mah pungli kecil-kecilan.”
“Atur parkir juga enggak.”
Narasi itu udah jadi kebiasaan. Bahkan mungkin refleks.
Tapi coba bayangin satu momen ini.
Kamu lagi makan di dalam. Hujan deras. Kamu aman, kering. Tapi di luar, ada tukang parkir yang tetap berdiri ngelapin jok motor kamu pakai kanebo, nutup helm pakai plastik, mindahin motor biar gak kena hujan.
Pertanyaannya: kalau itu kejadian ke kamu, masih mau bilang mereka “cuma berdiri”?
Kita Marah ke Orang yang Paling Terlihat
Masalahnya mungkin bukan sekadar tukang parkir.
Masalahnya: mereka adalah “wajah paling dekat” dari sistem yang berantakan.
Parkir liar? Mereka yang disalahkan.
Tarif gak jelas? Mereka yang disalahkan.
Tidak ada standar? Mereka juga yang kena.
Padahal, mereka sering cuma berada di posisi paling bawah.
Mereka bukan pembuat aturan.
Mereka bukan penentu sistem.
Tapi mereka yang paling sering menerima keluhan.
Antara Realita dan Persepsi
Di kepala kita, tukang parkir = orang yang minta uang.
Di lapangan, banyak dari mereka = orang yang bantu, jaga, dan kadang melakukan lebih dari yang kita lihat.
Masalahnya, kita jarang benar-benar memperhatikan.
Kita datang → parkir → pergi.
Selesai.
Padahal, ada aktivitas yang terjadi di sela-sela itu.
Dan justru di situ nilai kerjanya muncul.
Jadi Ini Soal Siapa?
Apakah semua tukang parkir baik? Jelas tidak.
Apakah semua sistem parkir rapi? Juga tidak.
Tapi menyederhanakan semuanya jadi “mereka cuma minta uang” mungkin terlalu malas untuk berpikir.
Karena realitanya lebih rumit dari itu.
Ada sistem informal, Ada ekonomi kecil yang hidup dari sana dan orang-orang yang menggantungkan hidup di ruang abu-abu.
Dan kita sebagai pengguna ada di tengah semua itu.
Kita Mau Nyaman, Tapi Gak Mau Melihat
Lucunya, kita ingin motor aman.
Kita ingin parkiran rapi.
Kita ingin ada yang bantu.
Tapi kita juga tidak ingin membayar dengan ikhlas.
Di titik ini, kita mulai kontradiktif.
Kita ingin layanan, tapi menolak keberadaan orang yang memberi layanan itu.
Lalu, Harus Gimana?
Ini bukan soal membela atau menyalahkan.
Ini soal jujur melihat realita.
Kalau sistem parkir memang bermasalah, ya kritik sistemnya.
Kalau ada tukang parkir yang tidak bekerja dengan benar, ya itu juga valid untuk dikritik.
Tapi kalau ada yang bekerja dengan niat dan tanggung jawab, apakah masih adil kalau kita tetap menyamaratakan?
Pertanyaan yang Gak Enak
Mungkin pertanyaan paling jujur bukan tentang mereka.
Tapi tentang kita.
Apakah kita benar-benar melihat?
Atau kita cuma melihat apa yang kita mau lihat?
Karena bisa jadi, masalahnya bukan di tukang parkir.
Tapi di cara kita memandang mereka.@eko





