Tabooo.id: Sports – Malam membara di Stadion Haji Agus Salim, Rabu (04/03/2026). Tribun penuh, nyanyian menggema, dan harapan membuncah. Semen Padang langsung menggebrak sejak peluit awal. Mereka ingin menang. Mereka butuh poin. Namun, laga pekan ke-24 Super League itu justru berakhir tanpa gol.
Peluang Datang, Gol Menghilang
Sejak menit awal, tuan rumah menekan. Kasim Botan melepaskan tembakan keras, tetapi bola melenceng tipis. Tak lama kemudian, Firman Juliansyah menguji refleks Cahya Supriadi. Kiper PSIM itu sigap menepis peluang di menit ke-17.
Meski ditekan, PSIM tetap berani menyerang balik. Pada menit ke-19, Fahreza Sudin mendapat peluang emas. Namun sentuhannya kurang sempurna. Bola gagal bersarang di gawang.
Kartu Merah yang Mengubah Arah
Pertandingan berubah drastis pada menit ke-38. Dalam duel udara, lutut Fahreza mengenai kepala Samuel Christianson yang sedang melakukan clearance. Wasit langsung mengeluarkan kartu merah. PSIM pun harus bermain dengan 10 orang.
Samuel terkapar dan segera dilarikan dengan ambulans untuk mendapat penanganan medis. Insiden itu membuat tensi pertandingan meningkat. Kini, Semen Padang unggul jumlah pemain dan menguasai permainan.
Dominasi Tanpa Ketajaman
Memasuki babak kedua, Semen Padang makin agresif. Mereka memutar bola, mengurung pertahanan lawan, dan terus mencari celah. Ricki Ariansyah yang masuk sebagai pemain pengganti hampir memecah kebuntuan. Tembakannya meluncur deras ke sudut gawang. Namun, lagi-lagi Cahya Supriadi tampil gemilang dan menggagalkan peluang tersebut.
Keunggulan jumlah pemain tak otomatis memudahkan. Serangan tuan rumah kerap terhenti di lini akhir. Koordinasi kurang tajam, keputusan terburu-buru, dan disiplin pertahanan PSIM membuat peluang demi peluang menguap.
Satu Poin, Dua Cerita
Hingga peluit panjang berbunyi, skor 0-0 tak berubah. Tambahan satu poin membuat Semen Padang tertahan di peringkat ke-17 dengan 17 poin. Sebaliknya, PSIM tetap kokoh di posisi kedelapan dengan 37 poin.
Bagi PSIM, hasil ini terasa seperti kemenangan kecil. Bermain dengan 10 orang selama lebih dari setengah laga, mereka menunjukkan mental baja. Sebaliknya, bagi Semen Padang, malam itu meninggalkan rasa frustrasi. Mereka menguasai laga, tetapi gagal memaksimalkan momentum.
Sepak bola selalu menghadirkan paradoks. Kadang, tim yang unggul jumlah pemain justru kehabisan ide. Dan malam di Padang membuktikan satu hal dominasi tanpa ketajaman hanya akan melahirkan penyesalan. @teguh





