Di tengah ledakan jumlah sarjana setiap tahun, satu pertanyaan lama masih menggantung kenapa perusahaan terus mengeluh kekurangan tenaga kerja siap pakai? Peluncuran buku Kampus Meretas Batas membuka luka lama pendidikan tinggi Indonesia kampus banyak, ijazah banyak, tapi jurang dengan dunia kerja belum juga rapat.
Tabooo.id: Deep – Indonesia sudah lama hidup dengan paradoks. Di satu sisi, kampus tumbuh di banyak kota. Di sisi lain, industri terus berburu tenaga terampil, adaptif, dan siap masuk sistem kerja global.
Buku karya Satrijo Tanudjojo itu merekam perjalanan model pendidikan tinggi yang dikawinkan langsung dengan kawasan industri selama dua dekade terakhir. Bukan sekadar cerita institusi, tetapi kritik halus terhadap sistem pendidikan nasional yang sering berjalan di jalur sendiri.
“Berani untuk berbeda, berani untuk menembus batas, itulah semangat yang ingin saya tangkap,” ujar Satrijo saat peluncuran buku secara daring dari Paris.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi maknanya tajam selama ini banyak kampus terlalu nyaman di menara gading, sementara pabrik bergerak cepat di lapangan.
Kampus Cetak Gelar, Industri Butuh Solusi
Masalah utamanya bukan jumlah lulusan. Masalahnya adalah relevansi.
Pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono, mengaku keresahan itu sudah muncul sejak 1994. Saat kawasan industri tumbuh pesat, tenaga kerja terampil justru langka.
“Berangkat dari kebutuhan kawasan industri akan tenaga kerja terampil, saya menyadari bahwa pendidikan tinggi di Indonesia saat itu belum sepenuhnya menjawab tuntutan dunia industri,” katanya. Kalimat itu masih relevan pada 2026.
Hari ini, banyak lulusan datang ke pasar kerja dengan teori di kepala, tetapi minim pengalaman kerja nyata, kemampuan problem solving, disiplin industri, komunikasi lintas budaya, hingga kecakapan teknologi.
Sosiolog pendidikan asal Inggris, Michael Young pernah mengingatkan bahwa pendidikan bisa berubah menjadi “mesin sertifikasi” ketika gelar lebih dihargai daripada kompetensi. Ketika itu terjadi, ijazah menjadi tiket masuk palsu ke dunia kerja.
Sistem Pendidikan Terjebak Masa Lalu
Masalahnya bukan mahasiswa malas. Bukan juga dosen semata. Ini soal desain sistem.
Banyak kurikulum berubah lebih lambat dari perubahan industri. Dunia kerja bergerak dengan AI, otomasi, data, dan kolaborasi global. Sebagian ruang kelas masih sibuk menghafal teori tanpa simulasi nyata.
Pengamat kebijakan publik Rhenald Kasali berkali-kali menyoroti bahwa disrupsi akan menghukum lembaga yang lambat berubah. Kampus termasuk di dalam daftar itu.
Ironisnya, mahasiswa sering dipaksa siap menghadapi masa depan dengan alat belajar dari masa lalu.

Model Cikarang: Kampus Masuk Ekosistem Industri
Di sinilah eksperimen seperti yang diceritakan buku Kampus Meretas Batas menarik dibaca. Kampus tidak berdiri jauh dari industri, tetapi masuk ke ekosistemnya.
Mahasiswa belajar dekat dengan realitas manufaktur, rantai pasok, budaya kerja multinasional, dan kebutuhan global. Artinya, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas.
Prof. M. Syafi’i Anwar menyebut buku itu menunjukkan keunggulan komparatif universitas internasional yang berakar di Indonesia.
Ini penting. Karena masa depan pendidikan bukan memilih lokal atau global. Tetapi mampu menjadi keduanya sekaligus.
Ini Bukan Soal Kerja Saja, Tapi Martabat
Ketika lulusan sulit terserap kerja, dampaknya bukan hanya angka pengangguran. Ada biaya psikologis, beban keluarga, krisis percaya diri, dan frustrasi generasi muda.
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyinggung bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan manusia, bukan sekadar memindahkan antrean dari bangku sekolah ke pintu lowongan kerja. Kalimat itu menampar.
Kalau kampus hanya menghasilkan pencari kerja yang bingung, lalu siapa yang sedang gagal?
Tabooo Analisis: Saatnya Hentikan Romantisme Gelar
Selama ini kita terlalu memuja wisuda, toga, dan foto keluarga. Tapi pasar kerja tidak merekrut seremoni. Pasar kerja merekrut kemampuan.
Buku ini mengingatkan satu hal penting kampus yang menolak berubah akan ditinggal zaman. Industri tidak bisa menunggu birokrasi akademik selesai rapat.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi berapa banyak universitas yang kita punya. Pertanyaannya berapa banyak kampus yang benar-benar menyiapkan masa depan?. @teguh





