Tabooo.id: Global – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya akan segera mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul di tengah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung sekitar dua pekan.
Trump menyampaikan rencana tersebut pada Sabtu (14/3/2026). Ia menegaskan langkah pengawalan akan dilakukan dalam waktu dekat, meski belum mengungkap jadwal pasti pelaksanaannya.
“Itu akan segera terjadi, sangat segera,” tegasnya.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran besar Washington terhadap gangguan jalur energi global. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur paling vital bagi perdagangan minyak dunia.
Perang Iran Mengguncang Jalur Energi Dunia
Konflik terbaru di kawasan bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu balasan dari Teheran yang kemudian memperluas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Sebagai respons, Iran menutup akses Selat Hormuz. Langkah ini langsung mengguncang pasar energi global karena jalur laut sempit tersebut menjadi rute utama distribusi minyak dunia.
Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat itu setiap hari. Ketika jalur tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya terasa di Timur Tengah, tetapi juga menjalar ke Eropa, Asia, hingga Amerika.
Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz anjlok hingga 97 persen sejak operasi militer dimulai. Penurunan drastis itu membuat pasar energi global menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Militer AS Belum Sepenuhnya Siap
Meski Trump menjanjikan pengawalan tanker dalam waktu dekat, pemerintah Amerika Serikat mengakui kesiapan militernya belum sepenuhnya matang.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan militer Amerika saat ini masih memprioritaskan operasi militer terhadap Iran. Fokus utama Washington, kata Wright, adalah menghancurkan kemampuan ofensif Iran.
“Itu akan terjadi relatif segera, tetapi tidak bisa terjadi sekarang. Kami memang belum siap,” ujar Wright, Kamis (12/3/2026).
Ia menjelaskan sebagian besar aset militer Amerika masih difokuskan untuk operasi serangan dan menekan kemampuan militer Iran.
“Semua aset militer kami saat ini difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri manufaktur yang memasok kemampuan tersebut,” jelasnya.
Meski demikian, Wright memperkirakan pengawalan tanker dapat mulai berjalan sebelum akhir bulan.
Selat Hormuz: Titik Tekan Iran terhadap Dunia
Bagi Iran, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Jalur sempit ini menjadi kartu strategis untuk menekan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.
Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai Iran memahami bahwa mereka tidak memiliki kekuatan militer setara dengan Amerika Serikat dalam konfrontasi langsung.
Karena itu, Teheran memilih strategi berbeda: memperluas konflik dan menekan ekonomi global.
“Iran kalah persenjataan, tidak mungkin mereka bisa menang dalam konfrontasi langsung,” ujarVaez.
Menurutnya, Iran telah menyiapkan strategi ini sejak konflik singkat dengan Israel tahun lalu. Penutupan Selat Hormuz menjadi cara paling efektif untuk menciptakan tekanan global.
“Jika Iran menyandera ekonomi global, Trump akan menjadi pihak yang pertama ‘berkedip’,” tambahnya.
Dampak Langsung bagi Dunia
Ketika Selat Hormuz tersendat, dampaknya langsung terasa di pasar energi dunia. Harga minyak melonjak, biaya logistik meningkat, dan negara-negara pengimpor energi mulai cemas terhadap stabilitas pasokan.
Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah menjadi pihak yang paling terdampak. Industri manufaktur, transportasi, hingga harga bahan bakar domestik ikut terancam melonjak.
Situasi ini membuat konflik di Timur Tengah tidak lagi menjadi masalah regional semata. Ketika minyak tersendat, hampir seluruh ekonomi global ikut merasakan guncangannya.
Di tengah ketegangan ini, dunia menunggu satu pertanyaan besar apakah jalur energi global bisa segera dibuka kembali, atau justru berubah menjadi medan tarik-menarik kekuatan besar.
Sebab dalam geopolitik energi, satu selat sempit di Timur Tengah bisa menentukan stabilitas ekonomi setengah dunia. @dimas





