• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News

Tragedi Gunung Slamet: Kronologi Terpisahnya Syafiq dan Himawan

Januari 17, 2026
in News, Regional
A A
Konsep Otomatis

Lokasi lembahan di Gunung Slamet tempat pendaki Syafiq Ridhan Ali Razani ditemukan meninggal dunia. (Foto Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Hilangnya pendaki muda Syafiq Ridhan Ali Razani (18) di Gunung Slamet berujung tragedi. Setelah menghilang lebih dari dua pekan, tim SAR menemukan jasadnya pada Rabu (14/1/2026) di lereng selatan gunung tertinggi di Jawa Tengah itu. Namun, penemuan tersebut justru meninggalkan satu pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi di atas gunung hingga Syafiq dan rekannya, Himawan, terpisah?

Peristiwa ini bukan sekadar kisah pendakian yang berakhir buruk. Sebaliknya, tragedi ini kembali membuka perdebatan lama soal keselamatan pendaki, praktik pendakian tektok, serta kesiapan jalur dan manajemen risiko di gunung-gunung populer Indonesia.

RelatedPosts

MotoGP Brasil 2026: Semua Nol Lagi, Tapi Marquez Punya Satu Keunggulan

Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Fitri 1447 H pada Sabtu 21 Maret 2026

Awal Pendakian yang Pelan, Risiko yang Terabaikan

Syafiq dan Himawan memulai pendakian melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada 28 Desember 2025. Sejak awal, keduanya memilih berjalan kaki menuju basecamp tanpa menggunakan ojek. Akibatnya, perjalanan awal mereka berlangsung lambat dan melelahkan.

Mereka baru tiba di basecamp sekitar pukul 20.00 WIB. Meski begitu, keduanya merasa kondisi fisik masih cukup prima. Cuaca juga terlihat cerah, sehingga tidak ada tanda bahaya yang terasa saat itu. Setelah melakukan registrasi dan beristirahat singkat, mereka memutuskan langsung mendaki tengah malam dengan rencana tektok naik dan turun dalam satu hari.

Belakangan, keputusan inilah yang menuai sorotan dari banyak pendaki senior.

Puncak Terlambat, Ancaman Mulai Nyata

Pendakian berlangsung relatif lancar hingga Pos 5. Namun, seiring waktu berjalan, risiko perlahan membesar. Syafiq dan Himawan baru mencapai puncak Gunung Slamet sekitar pukul 14.00 WIB jauh melampaui batas waktu aman yang lazim dipahami para pendaki.

“Secara aturan tak tertulis, kalau pukul 10 pagi belum sampai puncak, seharusnya turun,” ujar Abdul Azis dari Wanadri, yang kemudian terlibat langsung dalam pencarian.

Selain itu, Gunung Slamet dikenal memiliki karakter cuaca ekstrem yang dapat berubah cepat. Dalam hitungan menit, langit cerah bisa berganti kabut tebal dan angin kencang. Kondisi inilah yang menyambut Syafiq dan Himawan ketika mereka mulai turun sekitar pukul 15.00 WIB.

Salah Arah dan Awal Disorientasi

Saat menuruni jalur, keduanya tertinggal dari pendaki lain dan menjadi rombongan terakhir yang meninggalkan puncak. Pada saat yang sama, kabut semakin tebal dan jarak pandang menyusut drastis.

Di titik krusial tersebut, mereka salah mengambil arah. Jalur yang seharusnya mengarah ke Dipajaya justru membawa mereka ke sisi Gunung Malang. Sejak itu, disorientasi mulai muncul. Emosi pun ikut memanas. Keduanya sempat saling menyalahkan, meski tetap berusaha bertahan bersama.

Hari beranjak gelap ketika mereka mencapai area bebatuan dan lembahan. Medan menjadi licin, jurang mengintai di sekitar mereka, sementara perlengkapan mulai bermasalah. Senter tidak berfungsi normal, sedangkan emergency blanket dan tas P3K sempat terjatuh.

Akhirnya, malam itu mereka memutuskan bertahan di balik batu besar dengan pakaian seadanya.

Pagi Penentuan dan Detik-detik Perpisahan

Memasuki pagi Senin, 29 Desember 2025, situasi tidak banyak membaik. Kaki Himawan terasa nyeri dan sulit digerakkan. Sebaliknya, Syafiq terlihat masih memiliki tenaga lebih.

Karena itu, Syafiq memilih bergerak lebih dulu untuk mencari bantuan. Sekitar pukul 08.00 WIB, ia melangkah ke arah kanan. Di titik inilah keduanya berpisah.

Tak lama kemudian, Himawan sempat mencoba menyusul, tetapi ia memilih jalur berbeda. Bahkan, dari kejauhan, ia mendengar Syafiq memanggil namanya dari arah bawah jurang. Sayangnya, panggilan itu tak pernah terjawab.

Sejak momen itu, Syafiq benar-benar menghilang.

Bertahan Sendiri dan Kronologi yang Terlambat Utuh

Sementara itu, Himawan bertahan hidup dengan kemampuan survival seadanya. Ia memakan buah cantigi dan dedaunan untuk mengisi tenaga. Pada hari keempat, ia akhirnya bertemu pendaki lain dan berhasil turun dengan bantuan ranger.

Namun, kondisi fisik dan mentalnya sangat buruk. Kelelahan ekstrem dan shock membuat penuturannya tidak runtut. Akibatnya, informasi awal yang beredar pun simpang siur dan menyulitkan proses pencarian.

Situasi berubah ketika Wanadri turun tangan. Abdul Azis mendatangi Himawan langsung di Magelang dan melakukan pendekatan personal tanpa tekanan. Dari situlah kronologi pendakian dan perpisahan keduanya akhirnya terungkap secara lebih utuh.

Tragedi yang Mengulang Pola Lama

Syafiq bukan sekadar korban alam. Ia mencerminkan rapuhnya sistem keselamatan pendakian di gunung-gunung populer. Pendaki muda, jalur ekstrem, keputusan tektok yang dipaksakan, serta minimnya kontrol waktu membentuk kombinasi berbahaya.

Yang paling terdampak tentu keluarga korban. Namun, dampaknya meluas ke komunitas pendaki, relawan SAR, hingga pengelola jalur pendakian yang kembali berada di bawah sorotan publik.

Gunung tidak pernah kejam. Namun, manusia kerap lalai dan sistem sering membiarkannya.

Di Gunung Slamet, satu nyawa kembali hilang. Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendesak berapa banyak lagi korban yang harus jatuh sebelum keselamatan benar-benar menjadi prioritas, bukan sekadar imbauan? @dimas

Tags: DipajayaGunung SlametHimawanIndonesiaJawa TengahKeselamatanPemalangpendakianRelawanSARSyafiqTektokTragedi
Next Post
Konsep Otomatis

KPK Dalami Dugaan Perantara Kuota Haji, Nama Tokoh NU Ikut Disorot

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.