Jumat, Juni 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Threads vs X: Kenapa Timeline Sekarang Terasa Lebih Ramah dan Sepi Drama

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Pernah nggak sih kamu buka X yang dulu kita kenal sebagai Twitter terus refleks nutup lagi sambil mikir, Capek amat isinya? Atau sebaliknya, kamu malah betah scroll Threads karena suasananya terasa lebih santai, lebih aman, dan lebih “waras”? Kalau iya, tenang, kamu nggak sendirian. Perlahan tapi pasti, Threads memang mulai merebut posisi yang dulu begitu melekat pada X rumah percakapan publik di internet.

Fenomena ini bukan cuma soal pindah aplikasi. Lebih dari itu, ini soal kelelahan digital, kebutuhan psikologis, dan cara generasi sekarang memilih ruang ngobrol yang bikin kepala nggak panas.

Angka Bicara Threads Unggul di Mobile

Pertama-tama, mari lihat datanya. Berdasarkan laporan perusahaan riset pasar Similarweb, Threads mencatat 141,5 juta pengguna aktif harian (DAU) di iOS dan Android per 7 Januari 2026. Pada saat yang sama, X hanya mengumpulkan 125 juta DAU di perangkat seluler. Data ini dikutip oleh Tech Crunch pada Rabu (21/1/2026).

Memang, X masih unggul untuk versi web. Namun, kita juga tahu satu hal penting: Gen Z dan Milenial hidup di ponsel, bukan di tab browser. Karena itu, dominasi di mobile jadi kunci utama dalam perang aplikasi sosial hari ini.

Selain itu, Meta mengungkapkan Threads sudah menembus 400 juta pengguna aktif bulanan per Agustus 2025. Bahkan, pada Oktober 2025, angka pengguna aktif hariannya sudah mencapai 150 juta. Artinya, lonjakan ini bukan kebetulan sesaat, melainkan tren yang konsisten.

Ini Belum Selesai

PB XIV Hangabehi Turunkan 14 Pusaka di Tengah Dualisme Keraton

Pakoe Boewono XIV Purbaya Batal Kirab Pusaka, Ada Apa?

Bukan Cuma Soal Promosi, Tapi Soal Rasa Aman

Tentu saja, Meta memainkan peran besar. Threads mendapat dorongan masif dari Facebook dan Instagram. Sekali klik, akun langsung jadi. Timeline pun langsung hidup. Namun, kalau cuma promosi yang bekerja, lonjakannya tidak akan bertahan lama.

Faktanya, Threads juga rajin menambahkan fitur yang terasa relevan. Platform ini fokus ke kreator, menyediakan komunitas berbasis minat, menghadirkan filter yang lebih rapi, membuka DM, mendukung teks panjang, bahkan menguji postingan yang bisa menghilang. Semua fitur itu menjawab satu kebutuhan besar orang ingin ngobrol tanpa harus siap berkelahi.

Sebaliknya, X justru sering terasa seperti arena debat tanpa jeda. Algoritma mendorong konten yang memicu emosi. Akibatnya, banyak pengguna datang bukan untuk berdiskusi, tapi untuk bertahan.

Kontroversi, Kelelahan, dan Pencarian Ruang Baru

Di sisi lain, X juga menghadapi serangkaian kontroversi. Salah satu yang paling disorot ialah integrasi chatbot Grok. Chatbot ini sempat memunculkan gambar asusila perempuan dan anak di bawah umur tanpa persetujuan. Publik pun bereaksi keras. Indonesia, bersama beberapa negara lain, langsung memblokir sementara aplikasi tersebut.

Walaupun bukan satu-satunya alasan, kontroversi semacam ini mempercepat eksodus pengguna. Tech Crunch mencatat, setelah kasus tersebut, aplikasi sejenis seperti BlueSky ikut menikmati lonjakan pemasangan. Artinya, pengguna sebenarnya tidak loyal pada satu platform. Mereka loyal pada rasa nyaman.

Secara psikologis, ini masuk akal. Banyak orang mengalami digital fatigue. Mereka lelah dengan konflik, polarisasi, dan linimasa yang terasa agresif. Maka, ketika muncul platform yang menawarkan suasana lebih ringan, otak langsung menghela napas lega.

Threads dan Budaya “Ngobrol Tanpa Teriak”

Threads datang dengan karakter yang berbeda. Nada percakapannya lebih pelan. Humor lebih cair. Debat tetap ada, tetapi jarang berubah jadi perang. Bagi Gen Z dan Milenial yang sudah kenyang drama, ini terasa seperti pindah dari warung kopi ribut ke kafe kecil yang musiknya adem.

Selain itu, Threads juga menumpang pada identitas Instagram yang visual, personal, dan relatif terkurasi. Banyak pengguna merasa lebih aman mengekspresikan diri tanpa takut diserang massal. Di sini, well-being digital mulai ikut bermain.

Menariknya, perpindahan ini juga mencerminkan perubahan nilai. Orang kini lebih memilih ruang yang mendukung kesehatan mental, bukan sekadar viralitas.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Akhirnya, pertanyaannya sederhana kamu mau tinggal di platform yang bikin kamu terus siaga, atau pindah ke ruang yang bikin kamu bisa bernapas? Naiknya Threads bukan cuma soal angka pengguna. Ini soal arah budaya digital kita.

Kalau tren ini berlanjut, media sosial mungkin akan berubah fungsi. Dari arena adu argumen, menjadi ruang berbagi ide tanpa harus selalu menang. Dari tempat teriak, menjadi tempat ngobrol.

Dan mungkin, di tengah dunia yang makin bising, pilihan paling radikal justru memilih platform yang lebih tenang. Jadi, setelah baca ini, kamu masih betah di timeline lama atau sudah mulai cari rumah baru?. @teguh

Tags: AplikasiChatbotGen ZGrokInstagramKontroversiMilenialPlatformpsikologistimeline

Kamu Melewatkan Ini

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

by Naysa
Mei 31, 2026

Timeline masih ramai meski malam hampir habis. Orang memperdebatkan politik, agama, sampai hal receh yang seharusnya tak perlu berubah jadi...

Next Post
OnePlus di Ujung Tanduk: “Flagship Killer” Tersingkir Restrukturisasi Oppo

OnePlus di Ujung Tanduk: “Flagship Killer” Tersingkir Restrukturisasi Oppo

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id