Tabooo.id: Regional – Seorang ibu hamil di Kampung Wae Tulu, Kelurahan Tange, Kecamatan Lembor, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, harus menantang maut demi mendapatkan layanan kesehatan. Pada Kamis (25/12/2025), warga menandu ibu tersebut menggunakan bambu sejauh lima kilometer menuju akses jalan raya sebelum membawanya ke puskesmas.
Perjalanan itu jauh dari kata aman. Warga harus menyeberangi Sungai Wae Mese dengan arus deras dan bentangan sekitar 120 meter. Dalam kondisi darurat, gotong royong menjadi satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan nyawa.
Pendarahan di Kebun, Warga Bergerak Menyelamatkan
Ahmad Wahyudin, warga setempat yang mengunggah peristiwa itu di Facebook, mengungkapkan bahwa ibu hamil tersebut mengalami pendarahan saat bekerja di kebun. Begitu mengetahui kondisi darurat itu, warga segera bergerak bersama.
“Kami gotong dari kebun ke kampung, lalu lanjut ke kampung tetangga yang punya akses jalan raya,” ujar Ahmad saat dikonfirmasi Kamis sore.
Menurutnya, warga harus menggotong korban tanpa henti sejauh lima kilometer. Tantangan terberat muncul saat mereka menyeberangi sungai dengan arus deras.
“Kami benar-benar bertaruh nyawa. Arusnya kuat, tapi kami tidak punya pilihan lain,” tambahnya.
Ambulans Menunggu di Batas Akses
Setelah melewati sungai dan jalan tanah, warga akhirnya mencapai Kampung Pandang, kampung tetangga yang sudah memiliki akses jalan. Di lokasi itu, ambulans sudah bersiaga dan langsung membawa ibu hamil tersebut ke puskesmas untuk mendapat penanganan medis.
Meski berhasil menyelamatkan korban, peristiwa ini kembali membuka kenyataan pahit tentang kondisi infrastruktur di wilayah tersebut.
Dusun Terisolasi di Tengah Status Kelurahan
Ahmad menegaskan, peristiwa menandu orang sakit bukan kejadian langka di Kampung Wae Tulu. Warga sudah terbiasa menggotong orang sakit menggunakan bambu karena dusun mereka tidak memiliki jalan dan jembatan.
“Ke sini tidak ada akses. Tidak ada jalan, tidak ada jembatan. Kami benar-benar terisolasi,” tegasnya.
Ia bahkan menilai dusunnya tidak layak masuk dalam wilayah kelurahan. Menurutnya, status kelurahan seharusnya menjamin akses dasar seperti jalan dan jembatan, sesuatu yang hingga kini belum mereka rasakan.
Siapa Paling Terdampak?
Kelompok paling terdampak adalah perempuan hamil, anak-anak, lansia, dan warga miskin yang bergantung penuh pada fasilitas kesehatan publik. Saat musim hujan tiba, akses keluar masuk dusun terputus total. Warga memilih menahan diri di rumah karena menyeberangi sungai berarti mempertaruhkan nyawa.
“Kalau hujan, kami tidak ke pasar, tidak ke kota. Air kali besar dan deras,” ujar Ahmad.
Harapan Mekar Jadi Desa Sendiri
Kekecewaan terhadap pemerintah pun menguat. Ahmad dan warga berharap pemekaran wilayah menjadi desa sendiri agar mereka bisa mengelola dana desa untuk membangun akses jalan dan jembatan.
“Kalau kami jadi desa, mungkin ada harapan bangun jalan. Sekarang ini kami seperti tidak terlihat,” pungkasnya.
Refleksi: Negara Hadir Sejauh Mana?
Perjuangan warga Wae Tulu menandu ibu hamil sejauh lima kilometer menunjukkan jurang nyata antara narasi pembangunan dan realitas lapangan. Di saat kota bicara soal hilirisasi dan proyek besar, sebagian warga masih harus menggendong nyawa melawan arus sungai. Pertanyaannya sederhana, tapi menohok sampai kapan keselamatan warga desa bergantung pada bambu dan gotong royong? @dimas







