Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tangis Reza Arap Pecah di Pemakaman Lula Lahfah: Duka yang Tak Perlu Ditata

by eko
Mei 8, 2026
in Culture
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak kamu berhenti menggulir layar karena satu adegan terasa menusuk? Bukan karena kelucuannya. Bukan juga karena efek sensasional. Justru ada sesuatu yang terlalu manusiawi untuk dilewati begitu saja.

Adegan itu muncul di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Pemakaman Lula Lahfah menjelma ruang duka yang senyap. Atmosfer berat menekan dada. Para pelayat memilih bungkam, seolah takut merusak rasa kehilangan yang menggantung di udara.

Di tengah prosesi, Reza Arap berusaha menjaga dirinya tetap utuh. Namun perlahan, benteng emosi yang ia bangun mulai runtuh.

Pemakaman yang Terasa Lebih Hening dari Biasanya

Sejak pagi, wajah-wajah murung memenuhi area makam. Langkah kaki bergerak perlahan, nyaris tanpa suara. Di antara kerumunan yang terdiam, lantunan doa mengalir lirih, menyelinap pelan.

Tak jauh dari situ, Reza berdiri tegak sambil menahan letih. Bukan hanya tubuhnya yang kelelahan, tetapi juga batinnya yang terkuras habis.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Selepas prosesi, ia melangkah menuju mobil. Kamera mulai mengarah. Mikrofon pun mendekat. Meski begitu, Reza tetap memilih diam.

Hingga akhirnya, satu kalimat pendek keluar dari mulutnya.

“Saya masih memproses semuanya. Masih belum… masih belum.”

Kalimat itu menggantung. Terpotong. Justru di situlah kejujuran terasa paling telanjang.

Duka yang Dijaga dengan Penuh Hormat

Sebelum meninggalkan area pemakaman, Reza menghentikan langkahnya. Ia mendekati ibunda Lula, merendahkan tubuh, lalu mencium tangannya. Ucapan lirih keluar nyaris tanpa suara.

Sesudah itu, ia berpamitan kepada ayah Lula, M. Feroz. Gesturnya sederhana. Sikapnya tenang. Tanpa drama. Tanpa sorotan berlebihan.

Di tengah dunia hiburan yang kerap memuja pencitraan, momen ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Kehilangan rupanya tak selalu berisik. Terkadang, ia hadir lewat keheningan yang panjang.

Saat Emosi Tak Lagi Bisa Dikendalikan

Namun, kesedihan jarang mau tunduk pada rencana siapa pun. Ketika tanah mulai menutup pusara Lula, emosi Reza runtuh sepenuhnya.

Tangis histeris pecah. Suara meninggi. Napas tersengal.

Tak lama berselang, satu teriakan meluncur tanpa kendali.

“Jawab gue, kenapa semua orang ninggalin gue? Kenapa?”

Seruan itu bukan untuk kamera. Ia juga tidak mengejar tajuk berita. Jeritan tersebut lahir dari seseorang yang kehilangan pegangan hidupnya.

Melihat kondisinya memburuk, beberapa sahabat segera mendekat. Mereka merangkul Reza, berusaha menenangkannya, lalu mengajaknya menjauh dari kerumunan agar emosinya tak semakin terkuras.

Figur Publik Juga Punya Hak untuk Runtuh

Pada akhirnya, peristiwa ini meninggalkan satu pengingat penting. Reza Arap bukan sekadar kreator konten. Ia juga bukan hanya figur hiburan. Ia manusia.

Di era serba tayang, publik kerap menuntut kesedihan tampil rapi: harus tenang, harus tertata, bahkan harus terlihat pantas. Padahal, pada kenyataannya, duka tak pernah mengenal kerapian.

Tangisan Reza menunjukkan kesedihan yang mentah. Tanpa filter. Tanpa skenario. Tanpa tuntutan untuk selalu kuat.

Penutup yang Tidak Menggurui

Mungkin, kita tak perlu menghakimi. Kita juga tak harus memaksa siapa pun agar selalu tegar.

Sebab itulah, kehilangan memang tak pernah sopan. Ia datang tiba-tiba, merobohkan segalanya, lalu pergi begitu saja.

Kini, pertanyaannya sederhana: masihkah kita memberi ruang bagi mereka yang berduka, tanpa memaksa terlihat baik-baik saja?

Tags: DukaKabar Duka

Kamu Melewatkan Ini

Nayato Fio Nuala Wafat, Film Indonesia Berduka

Nayato Fio Nuala Wafat, Film Indonesia Berduka

by teguh
April 18, 2026

Tabooo.id: Nasional - Dunia film Indonesia kembali berduka. Sutradara Nayato Fio Nuala meninggal dunia pada Sabtu, 18/04/2025. Artis Raffi Ahmad...

Lembah Anai 1944: Saat Rel Besi Menjadi Lorong Duka Bangsa

Lembah Anai 1944: Saat Rel Besi Menjadi Lorong Duka Bangsa

by teguh
April 16, 2026

Tabooo.id: Deep - Air terjun Lembah Anai masih jatuh dengaAir terjun Lembah Anai masih jatuh dengan suara yang sama seperti...

Sosok di Balik Pesawat Pertama RI Tutup Usia: Nyak Sandang Berpulang

Sosok di Balik Pesawat Pertama RI Tutup Usia: Nyak Sandang Berpulang

by dimas
April 8, 2026

Tabooo.id: Nasional - Kabar duka datang dari Kabupaten Aceh Jaya. Nyak Sandang, sosok dermawan yang ikut menyumbangkan hartanya untuk pembelian...

Next Post
Dunia Tanpa Power Bank: Larangan Maskapai yang Mengguncang Digital

Dunia Tanpa Power Bank: Larangan Maskapai yang Mengguncang Digital

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id