Tabooo.id: Entertainment – Pernah nggak kamu berhenti menggulir layar karena satu adegan terasa menusuk? Bukan karena kelucuannya. Bukan juga karena efek sensasional. Justru ada sesuatu yang terlalu manusiawi untuk dilewati begitu saja.
Adegan itu muncul di TPU Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, Sabtu (24/1/2026). Pemakaman Lula Lahfah menjelma ruang duka yang senyap. Atmosfer berat menekan dada. Para pelayat memilih bungkam, seolah takut merusak rasa kehilangan yang menggantung di udara.
Di tengah prosesi, Reza Arap berusaha menjaga dirinya tetap utuh. Namun perlahan, benteng emosi yang ia bangun mulai runtuh.
Pemakaman yang Terasa Lebih Hening dari Biasanya
Sejak pagi, wajah-wajah murung memenuhi area makam. Langkah kaki bergerak perlahan, nyaris tanpa suara. Di antara kerumunan yang terdiam, lantunan doa mengalir lirih, menyelinap pelan.
Tak jauh dari situ, Reza berdiri tegak sambil menahan letih. Bukan hanya tubuhnya yang kelelahan, tetapi juga batinnya yang terkuras habis.
Selepas prosesi, ia melangkah menuju mobil. Kamera mulai mengarah. Mikrofon pun mendekat. Meski begitu, Reza tetap memilih diam.
Hingga akhirnya, satu kalimat pendek keluar dari mulutnya.
“Saya masih memproses semuanya. Masih belum… masih belum.”
Kalimat itu menggantung. Terpotong. Justru di situlah kejujuran terasa paling telanjang.
Duka yang Dijaga dengan Penuh Hormat
Sebelum meninggalkan area pemakaman, Reza menghentikan langkahnya. Ia mendekati ibunda Lula, merendahkan tubuh, lalu mencium tangannya. Ucapan lirih keluar nyaris tanpa suara.
Sesudah itu, ia berpamitan kepada ayah Lula, M. Feroz. Gesturnya sederhana. Sikapnya tenang. Tanpa drama. Tanpa sorotan berlebihan.
Di tengah dunia hiburan yang kerap memuja pencitraan, momen ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Kehilangan rupanya tak selalu berisik. Terkadang, ia hadir lewat keheningan yang panjang.
Saat Emosi Tak Lagi Bisa Dikendalikan
Namun, kesedihan jarang mau tunduk pada rencana siapa pun. Ketika tanah mulai menutup pusara Lula, emosi Reza runtuh sepenuhnya.
Tangis histeris pecah. Suara meninggi. Napas tersengal.
Tak lama berselang, satu teriakan meluncur tanpa kendali.
“Jawab gue, kenapa semua orang ninggalin gue? Kenapa?”
Seruan itu bukan untuk kamera. Ia juga tidak mengejar tajuk berita. Jeritan tersebut lahir dari seseorang yang kehilangan pegangan hidupnya.
Melihat kondisinya memburuk, beberapa sahabat segera mendekat. Mereka merangkul Reza, berusaha menenangkannya, lalu mengajaknya menjauh dari kerumunan agar emosinya tak semakin terkuras.
Figur Publik Juga Punya Hak untuk Runtuh
Pada akhirnya, peristiwa ini meninggalkan satu pengingat penting. Reza Arap bukan sekadar kreator konten. Ia juga bukan hanya figur hiburan. Ia manusia.
Di era serba tayang, publik kerap menuntut kesedihan tampil rapi: harus tenang, harus tertata, bahkan harus terlihat pantas. Padahal, pada kenyataannya, duka tak pernah mengenal kerapian.
Tangisan Reza menunjukkan kesedihan yang mentah. Tanpa filter. Tanpa skenario. Tanpa tuntutan untuk selalu kuat.
Penutup yang Tidak Menggurui
Mungkin, kita tak perlu menghakimi. Kita juga tak harus memaksa siapa pun agar selalu tegar.
Sebab itulah, kehilangan memang tak pernah sopan. Ia datang tiba-tiba, merobohkan segalanya, lalu pergi begitu saja.
Kini, pertanyaannya sederhana: masihkah kita memberi ruang bagi mereka yang berduka, tanpa memaksa terlihat baik-baik saja?





