Tan Malaka mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi keberanian bangsa menentukan jalan sendiri tanpa ketergantungan.
Tabooo.id – “Bangsa yang tidak percaya pada dirinya sendiri akan selalu mencari tuan baru.”
Setiap Agustus, Indonesia kembali mengulang satu kata yang terdengar sederhana: merdeka. Kata itu memenuhi tiang bendera, spanduk jalanan, pidato pejabat, perlombaan kampung, hingga linimasa media sosial. Merah putih berkibar, lagu kebangsaan terdengar lebih sering, dan kisah perjuangan kembali mengisi ruang publik.
Namun, perayaan itu menyimpan pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada sekadar menghitung usia Republik apa sebenarnya arti merdeka bagi sebuah bangsa?
Kemerdekaan memang menandai berakhirnya kekuasaan kolonial dan lahirnya sebuah negara. Tetapi setelah penjajah pergi, sebuah bangsa masih harus membuktikan bahwa dirinya mampu menentukan arah tanpa terus mencari pihak lain sebagai penentu. Di titik inilah gagasan Tan Malaka terasa mengganggu sekaligus relevan.
Tan Malaka tidak menjalani hidup seperti kebanyakan tokoh yang kemudian masuk buku sejarah. Ia pernah menjadi guru, aktivis bawah tanah, pemikir politik, buronan, dan revolusioner yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain. Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara, ia sudah membayangkan republik yang kelak harus dibangun di atas kemampuan bangsa sendiri.
Kehidupannya berlangsung jauh dari kenyamanan kekuasaan. Penjara, pengasingan, perjalanan rahasia, konflik ideologi, dan pertarungan politik menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Karena itu, Tan Malaka sulit ditempatkan dalam satu kotak politik.
Ia pernah berada dalam jaringan komunisme internasional, tetapi tidak mau menjadikan Indonesia sekadar pengikut garis politik dari luar. Ia percaya pada sosialisme, tetapi tetap mempertahankan sikap kritis terhadap dogma. Ia mengenal berbagai gagasan dunia, tetapi terus mencari jalan yang sesuai dengan pengalaman masyarakat Indonesia.
Semakin luas dunia yang ia kenal, semakin kuat pula keyakinannya bahwa Indonesia harus menentukan jalannya sendiri.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Mengganti Penguasa
Tan Malaka melihat penjajahan lebih jauh daripada sekadar persoalan siapa yang menguasai tanah dan pemerintahan. Penjajahan juga dapat membentuk cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri. Masyarakat yang terus menganggap dirinya lebih rendah akan mudah bergantung, bahkan setelah kekuasaan kolonial secara formal berakhir.
Karena itu, perjuangan politik bagi Tan Malaka selalu berjalan bersama perjuangan intelektual. Ia menulis Naar de Republiek Indonesia, Massa Actie, Madilog, Dari Penjara ke Penjara, serta berbagai tulisan tentang politik, ekonomi, dan strategi perjuangan. Karya-karya tersebut menunjukkan keyakinannya bahwa revolusi tidak cukup berhenti pada perebutan kekuasaan.
Revolusi juga harus mengubah cara manusia memahami kenyataan.
Melalui Madilog, Tan Malaka mendorong penggunaan cara berpikir yang lebih rasional dan logis. Menurut kerangka pemikirannya, bangsa yang ingin membangun negara merdeka membutuhkan lebih dari sekadar keberanian melawan penjajahan. Mereka juga perlu kemampuan membaca keadaan, menguji keyakinan, dan mengambil keputusan berdasarkan penalaran.
Gagasan itu membuat kemerdekaan memiliki makna yang jauh lebih dalam. Tan Malaka tidak hanya memikirkan bagaimana Indonesia memperoleh negara, tetapi juga bagaimana masyarakat Indonesia mampu menjadi subjek yang menentukan masa depannya.
Dengan demikian, kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera.
Ia merupakan perubahan cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Semakin Jauh Berjalan, Semakin Kuat Mencari Indonesia
Ironi kehidupan Tan Malaka muncul dari satu kenyataan: orang yang begitu keras memikirkan Indonesia justru menghabiskan sebagian besar hidupnya jauh dari tanah air. Perjalanannya membawanya dari Sumatra Barat ke Belanda, kemudian ke berbagai pusat gerakan politik di Asia dan Eropa.
Pengalaman itu memperluas cakrawala politiknya. Ia mengenal berbagai bentuk perjuangan, membaca perubahan politik internasional, dan bersentuhan dengan gerakan antikolonial dari berbagai negara. Namun, keluasan pengalaman tersebut tidak membuatnya kehilangan akar.
Sebaliknya, pengalaman internasional itu memperkuat keyakinannya bahwa Indonesia tidak boleh sekadar menyalin jalan bangsa lain.
Tan Malaka mempelajari revolusi dunia, tetapi ia ingin Indonesia menerjemahkan pengalaman tersebut sesuai dengan kondisi masyarakatnya sendiri. Baginya, kerja sama dengan kekuatan luar tidak sama dengan menyerahkan kendali kepada kekuatan luar.
Perbedaan itu penting.
Sebuah bangsa membutuhkan dunia, tetapi tidak boleh kehilangan kemampuan menentukan kepentingannya sendiri. Bangsa yang terbuka terhadap pengetahuan dari luar tetap dapat mempertahankan kemandirian selama ia memiliki kemampuan untuk memilih, menilai, dan menentukan arah.
Di situlah Tan Malaka melihat garis tipis antara kerja sama dan ketergantungan.
“Merdeka 100 Persen” dan Kesendirian Politik
Setelah Proklamasi 1945, Tan Malaka tidak otomatis masuk ke dalam lingkaran kekuasaan Republik. Ketika sebagian elite memilih jalur diplomasi menghadapi Belanda, ia mengambil posisi yang lebih keras melalui gagasan “Merdeka 100 Persen.”
Bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak boleh ditukar dengan kompromi yang membuka peluang bagi kembalinya pengaruh kolonial. Ia kemudian membangun Persatuan Perjuangan dan mendorong garis perjuangan yang menurutnya lebih tegas dalam menghadapi Belanda.
Sikap tersebut memperlebar jaraknya dengan pemerintah Republik.
Di sinilah paradoks Tan Malaka terlihat jelas. Ia memperjuangkan Republik, tetapi tidak merasa wajib menyetujui setiap keputusan pemerintah Republik. Ia menentang Belanda, tetapi juga mengkritik pemimpin bangsanya sendiri ketika menganggap kebijakan mereka terlalu lunak.
Bagi Tan Malaka, negara dan pemerintah bukanlah dua hal yang harus selalu berjalan tanpa kritik. Republik merupakan cita-cita bersama, sedangkan pemerintah tetap harus menghadapi kritik ketika kebijakannya menjauh dari tujuan perjuangan.
Sikap seperti itu membuat ruang komprominya semakin sempit. Namun, posisi tersebut juga menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak membangun politik semata-mata untuk mencari tempat dalam kekuasaan.
Ia lebih memilih mempertahankan prinsip meski pilihan itu membuatnya semakin sendirian.
Pemikir Besar yang Sulit Menjadi Penguasa Besar
Tan Malaka memiliki gagasan besar, pengalaman internasional, jaringan pergerakan, dan kemampuan menulis yang kuat. Meski begitu, semua modal tersebut tidak otomatis berubah menjadi mesin politik yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
Kondisi hidup menjadi salah satu persoalan utama. Pelarian, pengasingan, penggunaan nama samaran, dan perpindahan tempat membuatnya kesulitan membangun organisasi dengan struktur yang stabil. Padahal, partai membutuhkan kaderisasi, kepemimpinan, jaringan, disiplin, dan rutinitas yang terus berjalan.
Persoalan lain muncul dari karakter gagasannya sendiri. Tan Malaka berbicara tentang strategi revolusi, struktur sosial, ekonomi, nasionalisme, logika, dan hubungan internasional dalam satu kerangka pemikiran yang luas. Gagasan semacam itu kuat untuk membangun kesadaran intelektual, tetapi tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi slogan yang sederhana bagi mobilisasi massa.
Politik praktis memang sering menghadirkan paradoks. Gagasan yang rumit dapat menawarkan analisis yang lebih dalam, tetapi pesan sederhana sering bergerak lebih cepat di tengah massa.
Tan Malaka akhirnya lebih kuat sebagai penghasil gagasan daripada pembangun mesin kekuasaan.
Di situlah ia mengalami kekalahan politiknya.
Namun, kekalahan organisasi tidak otomatis berarti kekalahan gagasan.
Revolusioner yang Mati Sebelum Menikmati Republik
Akhir hidup Tan Malaka menghadirkan ironi paling pahit. Ia tidak sempat menikmati hasil perjuangannya, tidak menduduki jabatan tinggi di Republik, dan tidak melihat Indonesia tumbuh menjadi negara yang stabil.
Pada 1949, ia tewas dalam konflik bersenjata ketika revolusi masih berlangsung. Seorang tokoh yang selama puluhan tahun melawan kolonialisme justru mengakhiri hidupnya di tengah konflik antara sesama anak bangsa.
Sejarah memang tidak selalu memberikan akhir yang adil kepada orang-orang yang ikut membentuknya.
Negara kemudian mengakui Tan Malaka sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Pengakuan tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan sejarah dapat berubah seiring waktu. Seseorang yang pernah berada di luar arus utama kekuasaan akhirnya memperoleh tempat terhormat dalam ingatan resmi negara.
Namun, gelar kepahlawanan tidak menghapus pertanyaan yang lebih penting mengapa sebuah bangsa bisa begitu mudah mencurigai orang yang sama-sama memperjuangkan kelahirannya?
Jawabannya tidak sederhana. Revolusi melahirkan perebutan pengaruh, perbedaan strategi, dan ketakutan terhadap gagasan yang dianggap mengancam keseimbangan kekuasaan. Dalam situasi seperti itu, kritik mudah berubah menjadi tuduhan pembangkangan.
Tan Malaka mengalami situasi tersebut secara langsung.
Ketika Kemerdekaan Masih Harus Diperjuangkan
Tan Malaka tentu bukan tokoh tanpa kesalahan. Ia mengambil keputusan politik yang kontroversial, mengalami kegagalan, dan terlibat dalam pertarungan ideologi yang tidak selalu menghasilkan kemenangan. Karena itu, mengingatnya tidak berarti menerima seluruh pemikirannya sebagai kebenaran mutlak.
Yang lebih penting adalah pertanyaan yang ia tinggalkan.
Apakah kita benar-benar mampu berpikir sendiri?
Pertanyaan tersebut semakin relevan ketika dunia berubah menjadi jauh lebih terhubung. Ketergantungan hari ini tidak selalu datang melalui kapal perang atau pemerintahan kolonial. Ia dapat muncul melalui teknologi yang tidak kita kuasai, modal yang memengaruhi keputusan, informasi yang mengikuti algoritma, atau opini publik yang terbentuk hanya karena sebuah isu sedang viral.
Tidak ada tentara asing yang perlu berdiri di depan rumah untuk membuat sebuah masyarakat kehilangan kendali atas pikirannya. Ketergantungan dapat bekerja melalui kenyamanan, kebiasaan, dan keinginan untuk mengikuti mayoritas.
Ketergantungan juga bisa bekerja melalui cara kita menerima informasi dan membentuk pendapat. Algoritma menentukan apa yang lebih sering muncul di depan mata, sementara arus percakapan publik mendorong kita mengikuti narasi yang sedang ramai. Pada akhirnya, kebebasan memilih tidak selalu berarti kebebasan menentukan arah pikiran. Bahkan dalam politik, keberanian memilih seorang pemimpin seharusnya berjalan bersama keberanian mengkritiknya ketika keputusan yang diambil mulai menyimpang dari kepentingan publik.
Di sinilah gagasan Tan Malaka kembali menemukan relevansinya.
Merdeka bukan berarti menutup diri dari dunia. Merdeka berarti mampu berhubungan dengan dunia tanpa kehilangan kemampuan menentukan arah sendiri. Sebuah bangsa boleh belajar dari siapa saja, bekerja sama dengan siapa saja, dan memanfaatkan perkembangan global, tetapi keputusan mengenai masa depannya tetap harus lahir dari kesadaran dan kepentingannya sendiri.
Kemerdekaan yang Tidak Boleh Berhenti di Upacara
Setiap Agustus, kita menghitung usia Republik, mengulang sejarah Proklamasi, mengenang para pejuang, mengibarkan bendera, lalu merayakan kemerdekaan sebagai sebuah kemenangan yang telah selesai.
Tan Malaka justru mengajak kita melihat kemerdekaan sebagai pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Penjajahan memang berakhir dalam bentuk kolonialisme klasik, tetapi ketergantungan dapat muncul melalui bentuk yang jauh lebih halus. Karena itu, pertanyaan tentang kemerdekaan tidak cukup berhenti pada siapa yang memerintah negeri ini. Kita juga perlu melihat apakah masyarakat memiliki keberanian untuk berpikir, mempertanyakan, menolak, dan menentukan pilihan tanpa selalu menunggu legitimasi dari pihak lain.
Ini bukan sekadar cerita tentang Tan Malaka. Ini cerita tentang kemerdekaan yang terus berubah bentuk.
Dulu, tantangannya datang dari kekuasaan kolonial. Hari ini, tantangannya bisa muncul melalui ketergantungan ekonomi, dominasi teknologi, banjir informasi, kultus terhadap figur, bahkan kemalasan berpikir yang membuat kita lebih nyaman mengikuti daripada mempertanyakan.
Maka, menjelang peringatan kemerdekaan, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan lagi berapa tahun Indonesia telah merdeka.
Pertanyaannya jauh lebih mengganggu:
Setelah puluhan tahun menjadi bangsa merdeka, apakah kita sudah cukup percaya kepada kemampuan sendiri untuk menentukan ke mana negeri ini harus berjalan?
Kemerdekaan dapat diwariskan melalui sejarah, tetapi keberanian untuk berpikir merdeka harus diperjuangkan oleh setiap generasi.
Tan Malaka mungkin tidak memenangkan perebutan kekuasaan. Namun, ia meninggalkan sesuatu yang lebih sulit dihancurkan: pertanyaan tentang apakah sebuah bangsa benar-benar merdeka ketika ia masih membutuhkan tuan untuk menentukan arah hidupnya.
Dan mungkin, selama pertanyaan itu masih relevan, perjuangan Tan Malaka belum benar-benar selesai. @dimas








