Tabooo.id: Kuliner – Pernah nggak lagi scroll TikTok, tiba-tiba muncul makanan yang namanya bikin kening berkerut tahu arab? Begitu lihat videonya, makin bingung lagi kok warnanya gelap, teksturnya padat, tapi dibilangnya tahu? Buat Gen Z dan Milenial yang besar dengan oat milk dan croffle, makanan satu ini mungkin terasa seperti tamu misterius yang tiba-tiba muncul di FYP.
Padahal, makanan ini bukan pendatang baru. Tahu arab sudah lama jadi bagian kuliner tradisional di beberapa daerah. Tapi kenapa baru sekarang heboh? Jawabannya: internet memang jago bikin hal lama jadi tren baru.
FYP yang Mengangkat Makanan Lama ke Spotlight Baru
Viralnya tahu arab bermula dari unggahan TikTok @Bangtarjovlog yang memperlihatkan proses pembelian makanan ini di Pasar Paing, Bojonegoro. Videonya meledak 19 ribu like, ribuan komentar, dan ribuan simpanan. Dalam hitungan jam, publik penasaran.
Lalu muncul fakta mengejutkan yang bikin warganet terbagi dua kubu: tahu arab bukan terbuat dari kedelai, tapi dari darah hewan yang didinginkan hingga memadat, lalu dikukus. Orang Jawa mengenalnya dengan nama lain dideh, marus, atau saren.
Perpustakaan Digital Budaya Indonesia mencatat bahwa marus punya warna hitam kemerahan dan tekstur lembut berongga, mirip tahu. Rasanya pun unik: seperti hati, tapi lebih ringan, dan sedikit mengingatkan pada daging setengah matang.
Tren pun melebar dari rasa penasaran ke debat panjang soal “Ini halal atau enggak?”
Ketika Tren Bertemu Sensitivitas: Perdebatan Halal Tak Terhindarkan
Food trend memang selalu datang dengan drama. Kali ini, dramanya menyentuh isu yang sensitif bagi banyak orang kehalalan.
Lembaga Pemeriksa Halal dan Kajian Halalan Thayyiban Muhammadiyah akhirnya memberi penjelasan yang lumayan tegas. Mereka merujuk pada QS Al-Mā’idah ayat 3 yang menyatakan bahwa darah baik cair maupun padat termasuk bahan yang diharamkan.
Artinya, walaupun bentuknya sudah mirip tahu, atau namanya tahu arab, statusnya tetap haram untuk dikonsumsi.
Nah, di sinilah kekacauan informasi mulai terasa. Nama “tahu arab” memang terdengar seolah-olah makanan ini berasal dari budaya Timur Tengah, alias dekat dengan identitas Muslim. Padahal sebenarnya tidak. Nama itu lebih bersifat sebutan populer di daerah, bukan identitas budaya atau agama tertentu.
Fenomena ini jadi pengingat penting bahwa nama makanan bisa membangun persepsi yang menyesatkan apalagi jika disebarkan secara viral tanpa konteks.
Kenapa Kita Mudah Tertarik pada Makanan Viral?
Kalau dipikir-pikir, kenapa sih kita cepat banget ikut penasaran sama makanan unik? Jawabannya ada di psikologi dasar manusia kita selalu mencari hal baru. Otak kita suka kejutan kecil, termasuk dari makanan yang tampil aneh atau punya cerita “terlarang”.
Belum lagi faktor FOMO. Saat satu video naik, kita merasa “kok orang lain tau, gue enggak?”. Akhirnya kita klik, scroll, bahkan ikut makan kalau sempat ketemu di pasar.
Namun, makanan tradisional seperti marus juga punya daya tarik tersendiri. Banyak anak muda mulai melakukan heritage hunting kuliner, ingin mencoba makanan nenek moyang sebagai bentuk eksplorasi identitas lokal. Tren ini mirip dengan kebangkitan jamu, jenang, dan kuliner jadul lain yang dianggap “vintage tapi estetik”.
Masalahnya, rasa penasaran kadang lebih cepat dari pemahaman. Kita terpancing visual dan narasi, tapi lupa memeriksa bahan dan aturan agama atau bahkan aturan kesehatan.
Ini bukan salah internet semata. Kebiasaan overshare dan overhype memang membuat budaya viral berjalan lebih cepat daripada kemampuan publik untuk memverifikasi.
Di Balik Nama Manis, Ada Risiko Salah Persepsi
Tahu arab menjadi contoh bagus bagaimana naming bisa membentuk asumsi. Istilah “arab” memberi kesan seolah makanan ini punya hubungan dengan budaya Islam. Buat sebagian orang, itu menjadi semacam “stempel halal” tak resmi. Padahal, kenyataannya bertolak belakang.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya:
- Memahami asal-usul kuliner, bukan hanya mengikuti tren visual,
- Menelusuri bahan dasar, terutama yang berkaitan dengan aturan agama,
- Melihat konteks sejarah, karena nama dan tampilan sering menipu,
- Menahan diri sebelum ikut-ikutan, terutama kalau sudah menyangkut nilai kepercayaan.
Ujung-ujungnya, viral memang menyenangkan, tapi keputusan makan itu masuk ke tubuh. Nggak ada salahnya jadi critical eater di era serba cepat ini.
Jadi… Apa Dampaknya Buat Kamu?
Tren tahu arab mengingatkan kita bahwa dunia kuliner bukan cuma soal rasa. Ada identitas budaya, aturan agama, sampai isu misinformasi yang ikut bermain.
Buat kamu yang suka eksplor kuliner rasa penasaran itu bagus, tapi jangan biarkan FYP mengatur penuh apa yang kamu makan. Terutama kalau sudah menyentuh ranah halal-haram.
Buat kamu yang Muslim: kehati-hatian tetap nomor satu. Nama yang “kedengarannya Islami” belum tentu mencerminkan kehalalan isinya.
Buat kita semua fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya info bergerak, dan betapa mudahnya persepsi bergeser. Karena itu, kita perlu otak yang sigap, bukan cuma jempol yang cepat.
Di era makanan viral, pilihan akhirnya tetap ada di kamu. Mau cuma ikut tren, atau mau tahu apa yang sebenarnya kamu makan?
Pilihanmu menentukan bukan hanya rasa di lidah, tapi juga nilai di baliknya. @teguh




