Selasa, Juni 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Honda Jazz Sudah Mati, Tapi Kenapa Masih Bikin Orang Jatuh Hati?

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Otomotif
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Otomotif – Pernah nggak sih kamu jatuh cinta sama sesuatu yang sudah nggak diproduksi lagi? Kayak mantan yang “udah move on tapi kok masih kepikiran.” Nah, kurang lebih begitu juga hubungan banyak orang dengan Honda Jazz.

Mobil ini resmi “pamitan” dari pasar Indonesia sejak 2021. Lalu Honda City Hatchback RS langsung mengisi posisi kosongnya karena dianggap lebih cocok dengan selera pasar sekarang. Tapi anehnya, Jazz justru makin dicari. Bahkan di pasar mobil bekas, orang memburunya seperti barang langka yang auranya nggak pernah redup.

Jazz Itu Bukan Sekadar Mobil, Tapi “Identitas”

Kalau kamu perhatiin, Jazz bukan cuma kendaraan. Ia berubah jadi simbol. Di era 2000-an sampai awal 2020-an, banyak anak muda urban memilih Jazz karena mobil ini terasa aktif, praktis, dan tetap stylish.

Data pasar juga menunjukkan harga Jazz bekas masih cukup “sehat.” Generasi pertama (2004–2007) dijual di kisaran Rp50–90 juta. Generasi kedua (2008–2013) naik ke Rp100–160 juta. Sementara generasi terakhir (2014–2021), terutama tipe RS, bisa tembus Rp150 juta sampai Rp275 juta lebih.

Per Maret 2026, pasar masih mematok harga yang stabil:

Ini Belum Selesai

Sutradara James Gunn Memuji Joe Taslim: Ada Apa dengan The Furious?

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

  • 2013 RS AT: Rp156–165 juta
  • 2016 RS CVT: Rp189–210 juta
  • 2018 S AT: sekitar Rp190 juta
  • 2020 RS CVT: Rp225–275 juta
  • 2021 RS CVT: Rp250–270 jutaan

Artinya? Secara logika ekonomi, Jazz ini “tua-tua keladi” umur nambah, tapi nilainya tetap bertahan.

Kenapa Masih Diburu?

Pertanyaannya sekarang: kenapa orang tetap mengejar Jazz, padahal opsi baru terus bermunculan?

Jawabannya nggak sesederhana “irit” atau “bandel.” Ini soal rasa.

Pertama, desain Jazz terasa timeless. Nggak terlalu agresif, tapi juga nggak membosankan. Kedua, kabinnya fleksibel dan fungsional. Ketiga, performanya cukup untuk harian, tapi tetap fun kalau kamu ingin sedikit ngebut.

Sebaliknya, generasi terbaru Jazz yang masih beredar secara global justru terlihat terlalu “imut” untuk selera pasar Indonesia. Di sinilah gap selera muncul. Banyak orang Indonesia lebih suka desain yang sporty dan “berisi,” bukan yang terlalu futuristik atau minimalis.

Di titik ini, kita masuk ke ranah psikologis: manusia cenderung memilih hal yang terasa familiar.

Nostalgia Itu Mahal (Dan Kadang Rasional)

Fenomena Jazz mirip dengan tren lain: kamera analog, iPod lama, atau sneakers retro. Kita hidup di era yang berubah cepat. Karena itu, banyak orang justru mencari sesuatu yang terasa stabil.

Jazz menjadi representasi masa ketika hidup terasa lebih simpel. Distraksi belum sebanyak sekarang, pilihan juga belum seramai hari ini. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi otomotif, mobil lama justru terasa lebih “nyambung” secara emosional.

Bahkan Gen Z yang belum pernah merasakan Jazz baru tetap tertarik. Citra “mobil anak muda yang nggak ribet” sudah terlanjur melekat kuat.

Tapi Ini Bukan Cuma Soal Perasaan

Di balik nostalgia, ada faktor sosial-ekonomi yang ikut bermain.

Harga mobil baru terus naik. Di sisi lain, kebutuhan mobilitas tetap tinggi. Di sinilah Jazz bekas menjadi sweet spot: harganya masih masuk akal, kualitasnya sudah teruji, dan nilai jual kembalinya relatif aman.

Namun, kamu tetap harus realistis. Membeli mobil bekas bukan cuma soal harga beli. Kamu perlu mengecek kondisi mesin, riwayat pemakaian, dan potensi biaya perawatan.

Jadi, kamu nggak bisa asal pilih. Kamu harus benar-benar teliti.

Antara Gengsi, Kebutuhan, dan Realita

Menariknya, keputusan membeli Jazz hari ini sering kali bukan sekadar kebutuhan, tapi juga soal gengsi versi baru.

Bukan gengsi memamerkan mobil baru, tapi gengsi menunjukkan “taste.” Saat kamu mengendarai Jazz bekas yang masih kinclong, kamu seolah bilang: kamu tahu apa yang kamu mau, bukan sekadar ikut tren.

Di sisi lain, banyak orang juga memilih Jazz karena alasan praktis. Mobil ini irit, nyaman, dan nggak ribet dibanding mobil baru dengan fitur yang kadang terasa berlebihan.

Sementara itu, Honda City Hatchback RS tetap hadir sebagai opsi modern. Lebih fresh, lebih update, tapi belum tentu lebih “klik” di hati semua orang.

Jadi, Ini Tentang Kamu

Pada akhirnya, cerita tentang Jazz bukan cuma soal mobil. Ini soal cara kamu mengambil keputusan di tengah banyak pilihan.

Apakah kamu tipe yang selalu mengejar hal baru, atau justru menghargai sesuatu yang sudah terbukti?

Apakah kamu membeli karena kebutuhan, atau karena ingin kembali ke sesuatu yang familiar?

Dan yang paling penting: apakah pilihan itu benar-benar mencerminkan dirimu, atau sekadar mengikuti arus?

Karena di era sekarang, bahkan keputusan sederhana seperti membeli mobil bekas pun bisa mencerminkan siapa kamu.

Jadi, kalau kamu masih naksir Honda Jazz, itu cuma soal mobil atau ada cerita lain yang diam-diam kamu pertahankan?@eko

Tags: HondaMobilNostalgiaOtomotif

Kamu Melewatkan Ini

Bosan Warna Pabrik? Kini Motor Honda Bisa Dicat Sesuai Selera

Motor Honda Kini Bisa Pilih Warna Sesuka Hati

by eko
Mei 31, 2026

Motor kini bukan sekadar alat transportasi. Banyak orang menjadikan kendaraan sebagai bagian dari identitas diri. Karena itu, warna motor tidak...

Uji Tipe Kendaraan: Filter Keselamatan apa Formalitas atau Stempel Industri?

Uji Tipe Kendaraan: Filter Keselamatan apa Formalitas atau Stempel Industri?

by teguh
Mei 20, 2026

Uji tipe keselamatan itu tidak bisa ditawar. Kalimat itu sering muncul di industri otomotif global. Namun pertanyaannya sederhana kalau keselamatan...

Mobil Baru Aman? Kenapa Banyak Kendaraan Gagal Uji Tipe?

Mobil Baru Aman? Kenapa Banyak Kendaraan Gagal Uji Tipe?

by teguh
Mei 18, 2026

Keselamatan jalan tidak boleh bergantung pada keberuntungan, begitu pesan yang kerap muncul dari pengamat transportasi saat membahas standar kendaraan di...

Next Post
Bukan Radiasi, Bahaya Nyata Headphone yang Sering Kamu Abaikan

Bukan Radiasi, Bahaya Nyata Headphone yang Sering Kamu Abaikan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id