Tabooo.id: Nasional — Keraton Kasunanan Surakarta sedang bersiap menyambut babak baru. Upacara adat Jumenengan nDalem Noto Binayangkare (Bayangkari) untuk pengukuhan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono XIV dipastikan tetap digelar sesuai jadwal, Sabtu, 15 November 2025. Bagi sebagian orang mungkin hanya tradisi, tapi bagi masyarakat Solo dan pecinta budaya Jawa, ini momen sejarah yang menandai lahirnya raja baru setelah kepergian PB XIII.
Warisan yang Tak Boleh Putus
Putra mahkota KGPAA Hamengkunegoro telah berikrar menjadi penerus tahta pada 5 November 2025, sesaat sebelum jenazah ayahandanya, PB XIII, dimakamkan di Imogiri, Bantul. Kini, upacara Bayangkari akan menjadi pengesahan simbolis sekaligus emosional atas sumpah tersebut.
“Segala persiapan berjalan lancar. Sesuai musyawarah keluarga dan sesepuh keraton, pengukuhan Sampeyan Dalem PB XIV tetap dilaksanakan sesuai jadwal,” ungkap GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, putri tertua PB XIII, kepada Tabooo.id, Rabu (13/11/2025).
Menurutnya, persiapan sudah mencapai lebih dari 70 persen, mulai dari perlengkapan adat hingga penataan pendapa untuk tamu kehormatan. Sejumlah nama besar dijadwalkan hadir: Sri Sultan Hamengku Buwono X dari Kasultanan Yogyakarta, KGPAA Mangkunegoro X dari Pura Mangkunegaran, serta KGPAA Pakualam X dari Puro Pakualaman. Sentono dalem, abdi dalem, dan ribuan masyarakat juga disebut bakal memadati kompleks keraton.
Kenapa Ini Penting Buat Kamu?
Di tengah dunia yang makin digital, peristiwa seperti ini jadi pengingat bahwa akar budaya kita masih hidup dan butuh dijaga. Jumenengan bukan cuma soal gelar dan mahkota, tapi juga tentang kontinuitas sejarah, identitas, dan rasa memiliki terhadap tradisi yang menua tapi tak punah.
Harapan dari Balik Tembok Keraton
Pihak keraton berharap, pengukuhan PB XIV berjalan khidmat dan membawa semangat baru bagi pelestarian budaya Jawa. “Ini bukan akhir, tapi awal tanggung jawab besar menjaga warisan,” ujar salah satu abdi dalem muda yang enggan disebutkan namanya.
Karena di balik setiap pergantian raja, selalu ada pertanyaan tak terucap: apa yang berubah dan apa yang tetap kita perjuangkan? (sig)








