Langit Surakarta Berduka
Tabooo.id: News – Langit Surakarta terasa berat pada Selasa (4/11/2025). Sri Sultan Hamengku Buwono X datang ke Keraton Kasunanan Surakarta, bergabung dengan KGPAA Paku Alam X untuk memberi penghormatan terakhir kepada Raja Pakoe Boewono XIII.
Dua penerus Dinasti Mataram itu berdiri berdampingan bukan dalam perebutan tahta, melainkan dalam kesetiaan menjaga warisan ratusan tahun.
Dua Raja, Satu Duka
Sultan tiba di Sasana Parasdya sekitar pukul 11.50 WIB. Langkahnya mantap, wajahnya teduh menatap kerumunan pelayat yang memenuhi halaman dalam keraton. Tak lama kemudian, Paku Alam X muncul dengan setelan jas biru dongker. Keduanya saling menunduk singkat, lalu berjalan menuju ruang pringgitan tempat peti jenazah PB XIII terbaring.
Di sisi barat Sasana Sewaka, Sultan menatap peti putih yang terbungkus kain batik. Ia menangkupkan tangan, memanjatkan doa di tengah kepulan asap dupa yang menari pelan di udara. Paku Alam berdiri di sampingnya, ikut larut dalam keheningan yang terasa lebih berat daripada kata-kata.
“Beliau itu sosok peneduh,” ujar seorang abdi dalem tua dengan suara bergetar. “Keraton sering ribut, tapi beliau selalu tenang.”
Kalimat itu melayang di antara dinding tua keraton, menegaskan betapa seorang raja kadang bukan diukur dari kekuasaan, melainkan dari kesabaran menjaga api di tengah bara.
Jalan Panjang ke Imogiri
Rabu (5/11/2025), jenazah PB XIII akan diberangkatkan dari Keraton Kasunanan menuju Loji Gandrung. Dari sana, ambulans akan membawa sang raja ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Di tanah itu, leluhur yang pernah memerintah Mataram bersemayam dalam satu garis yang sama garis sejarah yang kini kembali bertemu di bawah bayangan duka.
Pertemuan dua raja kali ini lebih dari sekadar prosesi adat. Ia menyalakan ingatan bahwa budaya tidak bisa diwariskan lewat dokumen saja, tapi harus dijaga dengan kesetiaan. Dunia boleh berubah, tapi tradisi hanya bertahan jika manusia memilih untuk tetap percaya.
Warisan yang Tak Pernah Usai
Keraton Surakarta dan Yogyakarta memang punya sejarah panjang yang berliku. Dari perpecahan Mataram hingga era modern yang menuntut mereka menyesuaikan diri dengan dunia digital, keduanya tetap berdiri sebagai jangkar identitas budaya Jawa.
Sultan Jogja dan Paku Alam hari itu tidak sekadar melayat mereka mengingatkan bahwa menjadi pewaris budaya berarti menjaga yang rapuh tanpa kehilangan arah.
Reflektif
Ketika doa mengalun dan dupa mengepul, dua raja berdiri dalam diam yang sarat makna. Mungkin, di sanalah manusia belajar bahwa yang mudah hilang bukan tradisi, tapi ingatan untuk menjaga asal mula. @teguh




