Tabooo.id: Nasional – Keraton Solo sore ini diselimuti suasana duka dan kehormatan. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo datang memberi penghormatan terakhir kepada Sinuhun Paku Buwono XIII sosok yang bukan sekadar raja, tapi simbol napas budaya Jawa yang kini berpulang.
Sekitar pukul 17.00 WIB, iring-iringan mobil Kapolri melintas pelan di depan Kori Kamandungan. Didampingi Kapolda Jawa Tengah Irjen Ribut Hari Wibowo, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, dan Kapolres Solo Kombes Catur Cahyono, Listyo memasuki Keraton dengan langkah tenang. Di dalam, keluarga besar Keraton menyambutnya dengan penuh hormat.
Kapolri langsung menuju Sasono Parasdya, tempat jenazah PB XIII disemayamkan. Ia berdoa khusyuk di depan peti sang raja, kemudian menundukkan kepala sebuah gestur sederhana namun sarat makna. “Kami mengucapkan turut berduka cita atas wafatnya almarhum Sinuwun Paku Buwono XIII,” ujar Listyo.
Tak lama setelah itu, Kapolri melakukan pertemuan tertutup bersama GKR Paku Buwono XIII dan KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram. Pertemuan itu membahas pengamanan prosesi pemakaman yang akan melibatkan ribuan masyarakat dan ritual budaya Jawa. “Kegiatan prosesi ini akan banyak melibatkan masyarakat, ada ritual budayanya, tentunya perlu ada kehadiran Polri,” jelas Listyo.

Kapolri Listyo Sigit Prabowo berbincang sejenak setelah melakukan pertemuan tertutup bersama KGPAA Hamangkunagoro di dampingi Keluarga Besar dan Sentono Dalem
Polri, katanya, siap mengawal setiap tahapan agar penghormatan terakhir bagi PB XIII berjalan khidmat dan aman. “Kami juga melaksanakan rangkaian pengamanan dari awal sampai selesai,” tambahnya.
Bagi masyarakat, kepergian PB XIII bukan hanya kabar duka bagi Keraton, tapi kehilangan simbol kontinuitas budaya yang menyatukan masa lalu dan masa kini. Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, kehadiran Kapolri di upacara adat ini seolah mengingatkan: negara dan budaya tidak boleh saling jauh.
Karena duka Keraton Solo bukan sekadar upacara tradisional ia cermin dari bagaimana bangsa ini menghormati akar budayanya. Di balik seragam dan protokol negara, masih ada ruang untuk penghormatan dan nilai-nilai yang tak lekang dimakan waktu.
Mungkin, di tengah gegap gempita modernitas, kita semua butuh sejenak belajar: bagaimana cara menundukkan kepala, bukan hanya karena kehilangan, tapi karena rasa hormat. (Sigit)





