Tabooo.id: Regional – Pemerintah membuka pintu spillway Waduk Gajah Mungkur pada Selasa (3/3/2026) siang. Keputusan itu langsung berdampak pada kenaikan debit aliran Bengawan Solo yang melintasi wilayah Kabupaten Sukoharjo.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo, menyebut operator waduk membuka spillway pukul 13.50 WIB dengan debit 49,01 meter kubik per detik. Total outflow air mencapai 109,01 meter kubik per detik.
“Pembukaan ini akan meningkatkan ketinggian air Bengawan Solo secara signifikan,” ujar Ariyanto.
Kenaikan debit tersebut belum tentu memicu banjir. Namun, jika hujan deras dengan intensitas tinggi turun di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya, air sungai bisa meluap. Kombinasi kiriman air dari hulu dan curah hujan lokal sering kali mempercepat limpasan ke permukiman warga.
Permukiman dan Jalan Kampung Jadi Titik Rawan
Ariyanto menegaskan bahwa luapan air berpotensi merendam jalan perkampungan serta rumah warga yang berada di bantaran sungai. Karena itu, BPBD meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di sekitar aliran sungai.
“Warga sebaiknya tidak beraktivitas di dekat sungai setelah pembukaan spillway,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah kecamatan dan desa diminta aktif memantau tinggi muka air di wilayah masing-masing. Petugas BPBD bersama relawan juga terus berpatroli dan memantau kondisi sungai secara berkala. Mereka memperkuat koordinasi lintas wilayah untuk mengantisipasi skenario terburuk.
Dampak Sosial dan Ekonomi di Tingkat Lokal
Pembukaan spillway memang bertujuan menjaga keselamatan bendungan. Namun, konsekuensinya langsung dirasakan warga di hilir. Petani, pedagang kecil, dan warga yang tinggal di bantaran sungai menjadi kelompok paling terdampak jika banjir benar-benar terjadi.
Jika air meluap, aktivitas ekonomi desa bisa terhenti. Jalan kampung yang terendam akan menghambat distribusi hasil pertanian dan akses kerja harian. Anak-anak sekolah pun berisiko terganggu mobilitasnya. Situasi ini menambah beban masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan ekonomi akibat cuaca ekstrem dan fluktuasi harga pangan.
Di sisi lain, pengelola waduk harus menyeimbangkan dua kepentingan: menjaga keselamatan bendungan dan meminimalkan dampak di hilir. Keputusan teknis di hulu selalu membawa konsekuensi sosial di bawahnya.
Kini, warga Sukoharjo hanya bisa bersiap sambil berharap hujan tidak turun deras. Sebab dalam urusan air, selisih beberapa sentimeter saja bisa menentukan apakah ia tetap di sungai atau masuk ke ruang tamu. @dimas




