Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Soekiman Wirjosandjojo: Perdana Menteri yang “Menciptakan” THR?

by Tabooo
Maret 31, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Nama Soekiman Wirjosandjojo mungkin tidak sepopuler Soekarno atau Hatta. Tapi tanpa dia, mungkin kita tidak pernah mengenal satu hal yang terasa “wajib” hari ini, saat Lebaran, Tunjangan Hari Raya atau THR.

Lalu, siapa sebenarnya Soekiman? Dan kenapa kebijakannya masih kita rasakan sampai sekarang?

DARI ANAK PEDAGANG KE ELITE TERDIDIK

Soekiman lahir pada 19 Juni 1898 di Surakarta, dari keluarga pedagang beras yang cukup mapan. Lingkungan ini membentuk dua hal dalam dirinya sejak kecil, yaitu kedisiplinan ekonomi dan pemahaman terhadap realitas rakyat Ia bukan anak bangsawan. Tapi ia punya akses yang langka, yakni pendidikan Barat.

Soekiman masuk Europeesche Lagere School (ELS), sekolah elit yang biasanya hanya untuk orang Belanda atau priyayi. Dari sini, ia mulai melihat dunia dari dua sisi, kolonial dan pribumi.

STOVIA DAN KESADARAN POLITIK

Perjalanan intelektualnya berlanjut ke STOVIA, sekolah kedokteran paling prestisius saat itu. Tapi di sinilah transformasi sebenarnya terjadi. Soekiman tidak hanya belajar jadi dokter, tapi ia mulai masuk ke dunia pergerakan.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Ia aktif di organisasi Jong Java, tempat lahirnya banyak pemikir nasionalis awal. Di sini, ia mulai memahami bahwa kemerdekaan bukan sekadar mimpi, tapi proyek yang harus diperjuangkan.

TITIK BALIK IDEOLOGI

Saat melanjutkan studi ke Belanda, Soekiman tidak hanya belajar ilmu medis. Ia masuk ke jantung pergerakan mahasiswa Indonesia di Eropa. Ia memimpin Indonesische Vereniging dan mengubahnya menjadi Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi yang lebih tegas secara politik. Bahkan majalahnya diubah dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka.

Ini bukan sekadar perubahan nama. Ini deklarasi.

Di fase ini, Soekiman mulai melihat Islam bukan hanya sebagai agama, tapi sebagai fondasi etika politik dan sosial.

DARI DOKTER KE PERDANA MENTERI

Setelah kembali ke Indonesia, Soekiman aktif di dunia politik dan menjadi salah satu tokoh penting dalam Partai Masyumi. Puncaknya, ia menjadi Perdana Menteri Indonesia pada 1951.

Namun, masa pemerintahannya tidak panjang. Hanya sekitar satu tahun. Tapi dalam waktu singkat itu, ia membuat satu kebijakan yang dampaknya sangat panjang, yaitu Tunjangan Hari Raya (THR).

KEBIJAKAN ATAU STRATEGI?

Banyak orang menganggap THR sebagai bentuk “kebaikan negara”. Akan tetapi, kalau kita lihat konteksnya, ceritanya tidak sesederhana itu. Saat itu, Indonesia sedang dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Indonesia yang baru berdiri mengalami inflasi yang tinggi, APBN defisit.

Dalam kondisi seperti ini, Soekiman membuat kebijakan THR untuk satu tujuan utama yaitu menjaga stabilitas birokrasi negara

Konsep THR awalnya bukan bonus, melainkan persekot (utang) yang harus dikembalikan lewat potongan gaji. Artinya, THR itu bukan hadiah, tetapi sebuah manajemen sistem.

PEMIKIRAN BURUH DAN KEADILAN

Yang menarik, jauh sebelum jadi Perdana Menteri, Soekiman sudah bicara soal buruh di forum internasional. Di Konferensi Buruh Internasional (ILO) tahun 1939, ia mengkritik keras sistem kolonial yang mengeksploitasi pekerja Indonesia.

Ia percaya bahwa kemerdekaan tidak berarti apa-apa tanpa kesejahteraan rakyat. Jadi di satu sisi, Soekiman menciptakan kebijakan untuk stabilitas negara, dan di sisi lain, ia juga punya visi kesejahteraan sosial. Dan di situlah paradoks-nya Soekiman.

TOKOH ATAU SISTEM?

Soekiman sering dilihat sebagai tokoh politik biasa. Padahal kalau dilihat lebih dalam, ia adalah perancang awal sistem kesejahteraan berbasis negara

THR adalah contoh kecilnya. Sebuah kebijakan yang lahir dari krisis, didorong oleh strategi, dan kemudian berubah jadi hak. Jujur saja, ini bukan sekadar keputusan teknis, namun sebuah desain sosial.

DAMPAK BUAT KAMU

Hari ini, kamu mungkin tidak kenal Soekiman, tapi ingatlah, setiap kali kamu menerima THR… kamu sedang menikmati hasil dari kebijakan yang dibuatnya lebih dari 70 tahun lalu

Dan mungkin tanpa sadar, kamu juga ikut dalam sistem yang sudah ia rancang, yaitu sistem stabilitas, sistem konsumsi, dan sistem kesejahteraan musiman.

Soekiman bukan tokoh yang “heroik” dalam narasi populer. Ia adalah tokoh yang strategis. Perdana Menteri yang tak populer itu, tidak hanya berpikir tentang kemerdekaan, melainkan tentang bagaimana negara bisa bertahan setelah merdeka. Dan kadang, untuk bertahan, negara tidak butuh idealisme. Negara butuh sistem.

Sejarah sering mengingat nama-nama besar, tapi melupakan mereka yang membentuk sistem.

Soekiman Wirjosandjojo mungkin bukan tokoh yang sering dibicarakan, hanya saja jejaknya ada di kehidupan sehari-hari kita.

Dan sekarang pertanyaannya, apakah kita benar-benar memahami sistem yang kita jalani… atau hanya menikmatinya tanpa pernah bertanya? @tabooo

Tags: Sejarah IndonesiaTabooo Vibes

Kamu Melewatkan Ini

Hari Kesaktian Pancasila: Ketika Sejarah Menjadi Ingatan Negara

Hari Kesaktian Pancasila: Ketika Sejarah Menjadi Ingatan Negara

by dimas
Oktober 1, 2026

Hari Kesaktian Pancasila menjadi ruang mengingat peristiwa 1965, perjalanan sejarah, dan perubahan cara bangsa Indonesia membaca masa lalu setelah Reformasi....

Film G30S/PKI Pernah Catatkan Diri sebagai Film Termahal

Film G30S/PKI Pernah Catatkan Diri sebagai Film Termahal

by eko
September 30, 2026

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer tercatat menghabiskan Rp800 juta dan menjadi film termahal pada dekade 1980-an. Film...

G30S PKI: Tujuh Korban, Satu Malam dan Bayang-Bayang Sejarah

G30S PKI: Tujuh Korban, Satu Malam dan Bayang-Bayang Sejarah

by dimas
September 29, 2026

G30S PKI meninggalkan tujuh korban dan mengubah arah sejarah Indonesia. Simak kisah Lubang Buaya, perebutan kekuasaan, serta bayang-bayang sejarah yang...

Next Post
Film Na Willa: Nostalgia Hangat Era 1960-an

Film Na Willa, Sukses Bikin Penonton Pulang dengan Perasaan Hangat

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id