Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sewa Kios Mencekik, Pedagang PGS Angkat Kaki

by Waras
Agustus 10, 2026
in Bisnis, Reality
A A
Home Reality Bisnis
Share on Facebook
Share on Twitter
Kenaikan sewa kios membuat pedagang PGS Solo kembali menghitung untung-rugi. Saat omzet tak mampu mengejar biaya ruang, memilih pergi menjadi jalan keluar.

Tabooo.id: Kenaikan biaya sewa membuat pedagang PGS Solo kembali menghitung kelayakan usaha. Ketika omzet melemah, ruang dagang yang mahal bisa berubah menjadi beban.

Pusat Grosir Solo (PGS) menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar perubahan harga sewa.

Pedagang harus menghitung ulang apakah pendapatan mereka masih mampu menutup biaya ruang usaha.

Materi yang dihimpun redaksi mencatat perubahan skema sewa yang cukup tajam.

Dalam skema lama, tarif jangka panjang tercatat sekitar Rp150 juta untuk 20 tahun.

Ini Belum Selesai

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Prabowo dan Guterres Bertemu di Hambalang, Apa Agenda Indonesia di Panggung Dunia?

Dalam skema pengelolaan kurator, angkanya menjadi sekitar Rp600 juta untuk 10 tahun.

Ada pula opsi jangka pendek sekitar Rp40 juta untuk enam bulan.

Namun, angka tersebut perlu dibaca hati-hati.

Sumber publik terbaru yang memuat keluhan pedagang menyebut tarif sewa bisa mencapai Rp70–100 juta per stand setiap tahun.

Pedagang juga menyebut angka tersebut dapat mencapai dua sampai tiga kali lipat dari harga sebelumnya.

Sewa Naik, Omzet Tidak Ikut Berlari

Masalahnya bukan sekadar nominal sewa.

Pedagang juga menghadapi pasar yang sedang melemah.

Persaingan dengan perdagangan digital semakin keras.

Pembeli kini punya lebih banyak pilihan tanpa harus datang ke pusat grosir.

Margin pedagang pun semakin tertekan.

Dalam kondisi seperti itu, kenaikan biaya ruang membuat perhitungan usaha menjadi semakin berat.

Sewa Rp600 juta mungkin terlihat berbeda ketika dibayar dalam kontrak panjang.

Namun, pedagang tetap harus menghitung berapa biaya yang harus kembali dari penjualan.

Setiap rupiah sewa akhirnya harus dibayar dari omzet.

Pertanyaannya sederhana.

Berapa omzet yang harus dikejar agar sebuah kios tetap layak dipertahankan?

Pedagang Mulai Memilih Pergi

Keluhan soal harga sewa bukan sekadar wacana.

Sejumlah pedagang disebut tidak memperpanjang kontrak karena tidak mampu menanggung biaya baru.

Sebagian akhirnya memilih pindah ke lokasi perdagangan lain.

Menariknya, perpindahan itu juga tidak otomatis menyelesaikan masalah.

Pedagang yang sudah pindah ke Beteng Trade Center dan Pasar Klewer disebut masih ingin kembali.

Mereka menilai kondisi perdagangan di lokasi lain juga belum sepenuhnya ramai.

Artinya, pedagang tidak sedang mencari tempat yang sempurna.

Mereka sedang mencari tempat yang masih masuk akal secara ekonomi.

Di sinilah persoalan PGS menjadi lebih kompleks.

Pedagang menghadapi dua tekanan sekaligus.

Mereka membutuhkan lokasi fisik untuk berjualan.

Namun, lokasi tersebut juga harus menghasilkan omzet yang cukup untuk membayar biaya keberadaannya.

Ketika Pedagang Pergi, Traffic Bisa Ikut Pergi

Pusat grosir hidup dari ekosistem.

Pedagang membutuhkan pembeli. Pembeli membutuhkan banyak pilihan.

Pengelola membutuhkan tenant yang tetap bertahan.

Ketika salah satu bagian melemah, bagian lain ikut terdampak.

Jika banyak kios kosong, pilihan barang ikut berkurang.

Ketika pilihan berkurang, alasan pembeli untuk datang juga bisa melemah.

Traffic kemudian turun. Omzet pedagang kembali tertekan.

Pada akhirnya, biaya sewa yang tinggi bisa menciptakan lingkaran yang semakin sulit diputus.

Materi redaksi mencatat penyusutan tenant aktif PGS dari sekitar 700 kios menjadi sekitar 60 tenant menjelang akhir operasional.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar perubahan ekosistem perdagangan ketika pedagang mulai meninggalkan ruang usahanya.

Ini Bukan Sekadar Soal Harga Sewa

PGS sebenarnya sudah mencoba beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Pengelola menyiapkan konsep baru, digitalisasi, CRM, fasilitas live streaming, hingga pendampingan ekspor.

Situs resmi PGS juga menawarkan pilihan sewa lima, 10, hingga 20 tahun.

Masalahnya, transformasi bisnis membutuhkan waktu.

Pedagang membutuhkan omzet sekarang.

Mereka tidak bisa membayar biaya hari ini menggunakan janji traffic beberapa tahun kemudian.

Di sinilah kepentingan pengelola dan pedagang bisa bertemu dalam satu titik yang sulit.

Pengelola membutuhkan pendapatan sewa.

Pedagang membutuhkan biaya ruang yang sejalan dengan kemampuan bisnis.

Jika titik temu itu hilang, kontrak bisa berubah menjadi keputusan untuk pergi.

Sepi Bukan Hanya Penyebab

Selama ini, pusat perdagangan yang sepi sering dianggap gagal karena kalah dari e-commerce.

Cerita PGS menunjukkan persoalannya bisa lebih rumit.

Sepi bukan hanya penyebab. Sepi juga bisa menjadi akibat.

Tenant berkurang. Pilihan barang ikut berkurang.

Traffic melemah. Omzet turun.

Kemampuan membayar sewa ikut melemah.

Lalu semakin banyak pedagang mempertimbangkan untuk pergi.

Siklus itu membuat persoalan biaya ruang berubah menjadi persoalan keberlangsungan ekosistem.

Pada Akhirnya, Pedagang Menghitung Satu Hal

Bagi pedagang, keputusan bertahan tidak ditentukan oleh nostalgia.

Bukan pula oleh seberapa lama mereka pernah berjualan di PGS.

Mereka akan menghitung satu hal: apakah kios tersebut masih menghasilkan nilai.

Jika biaya ruang terus naik sementara omzet tidak bergerak, keputusan bisnis menjadi dingin.

Bertahan bukan lagi soal mau atau tidak mau.

Bertahan menjadi soal mampu atau tidak mampu.

Dan ketika angka akhirnya tidak masuk, pedagang akan melakukan hal yang paling rasional.

Mereka mengangkat barang.

Lalu mencari tempat lain yang masih memungkinkan bisnis mereka hidup. @waras

Tags: bisnis ritelpedagang pgsperdagangan solosewa pgs soloTekanan Ekonomi

Kamu Melewatkan Ini

Satu Titik Belanja Tutup, Satu Ekosistem Ikut Goyang

Satu Titik Belanja Tutup, Satu Ekosistem Ikut Goyang

by Waras
Agustus 18, 2026

PGS Solo sudah berhenti beroperasi. Kios dibongkar, barang dipindahkan, dan pedagang mencari tempat baru. Namun, kerugian dari penutupan ini tidak...

PGS Gulung Tikar: Salah Model Bisnis?

PGS Gulung Tikar: Salah Model Bisnis?

by Waras
Agustus 16, 2026

PGS Solo tutup permanen. Sekilas, kita dengan mudah menuding penyebabnya adalah perubahan perilakubelanja dan maraknya marketplace. Namun, ketika jumlah tenant...

Rolling Door PGS Turun, Pekerjaan Ratusan Orang Ikut Hilang

Rolling Door PGS Turun, Pekerjaan Ratusan Orang Ikut Hilang

by Waras
Agustus 11, 2026

Manekin masuk kardus. Etalase dibongkar. Rolling door turun satu per satu. Namun, yang paling sulit dikemas bukan barang dagangan. Pekerjaan...

Next Post
Benang Layangan Picu Kebakaran Pabrik Plastik di Solo

Benang Layangan Picu Kebakaran Pabrik Plastik di Solo

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id