Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Semeru Kembali “Bicara”, Warga Diminta Lebih Siaga

by dimas
April 5, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitasnya. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meluncurkan awan panas, Minggu (5/4/2026) pagi, mengingatkan bahwa ancaman belum benar-benar usai.

Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru mencatat erupsi berlangsung selama 3 menit 44 detik. Getaran tercatat dengan amplitudo maksimal 10 milimeter. Aktivitas ini mulai terekam sekitar pukul 08.50 WIB.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, memastikan arah luncuran masih terkendali.

“Terjadi APG, tetapi jarak luncur 3 kilometer mengarah ke Besuk Kobokan,” ujar Isnugroho.

Tak lama setelah itu, aktivitas awan panas berhenti. Situasi kembali relatif tenang, setidaknya di permukaan.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Tenang di Atas, Risiko Mengendap di Bawah

Meski tidak menimbulkan dampak langsung, erupsi ini menyisakan ancaman yang tidak kasat mata. Material vulkanik terus menumpuk di lereng Semeru. Pasir, batu, dan abu kini menunggu satu pemicu: hujan.

Isnugroho mengingatkan, kondisi cuaca di sekitar Semeru belakangan cukup intens. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi kerap turun di kawasan tersebut.

“Saat ini di Gunung Semeru kerap terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Kalau kita lengah, bahaya dari banjir lahar bisa membahayakan warga di sekitar aliran sungai yang berhulu ke Gunung Semeru,” tambahnya.

Artinya, ancaman tidak datang saat erupsi terjadi, tetapi justru setelahnya. Saat hujan turun, material yang menumpuk bisa berubah menjadi banjir lahar yang bergerak cepat dan sulit dikendalikan.

Warga Diminta Waspada, Bukan Panik

Pemerintah daerah memilih pendekatan yang lebih terukur. Bupati Lumajang, Indah Amperawati, meminta warga tetap tenang namun tidak lengah.

Ia menilai masyarakat di sekitar Semeru sudah cukup paham dengan pola ancaman yang berulang. Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama.

“Jarak luncurnya masih pada radius aman, warga sudah tahu harus apa, harapannya tidak ada hujan deras sehingga memicu banjir lahar,” ujar Indah.

Imbauan ini bukan tanpa alasan. Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai berhulu Semeru menjadi kelompok paling rentan. Mereka berada di jalur langsung jika banjir lahar terjadi.

Dampak Nyata: Ancaman yang Datang Diam-Diam

Erupsi kali ini memang tidak memicu korban atau kerusakan. Namun, risiko justru bergerak lebih senyap. Material vulkanik yang terus menumpuk bisa berubah menjadi bencana susulan kapan saja.

Dalam banyak kasus, banjir lahar justru datang tanpa banyak peringatan. Air hujan membawa material dari puncak ke hilir dalam waktu singkat.

Bagi warga, ini bukan sekadar fenomena alam. Ini soal waktu dan kesiapsiagaan.

Ketika gunung berhenti mengeluarkan awan panas, bukan berarti ancaman ikut reda. Justru di situlah bahaya sering bersembunyi diam, menunggu hujan turun, lalu datang tanpa kompromi. @dimas

Tags: Awan PanasbanjirbencanaBencana AlamCuacaEkstremerupsiGunung ApiLaharLumajangMitigasiNasionalRisikosemerusiaga

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Tsunami Filipina Tiba di Kaltim: Gelombang Kecil, Ancaman Besar.

Tsunami Filipina Tiba di Kaltim: Gelombang Kecil, Ancaman Besar

by dimas
Juni 8, 2026

Tsunami akibat gempa M 7,7 di Filipina mencapai pesisir Kalimantan Timur. Meski hanya 20-30 sentimeter, BMKG mengingatkan ancamannya tidak boleh...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Tanggul Jebol, Demak Tenggelam: Bencana Alam atau Kelalaian?

Tanggul Jebol, Demak Tenggelam: Bencana Alam atau Kelalaian?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id