Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sejarah Mobil Pertama di Indonesia: Raja Jawa Lebih Dulu dari Belanda

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Otomotif
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Lifestyle- Catatan sejarah menyebut Indonesia mulai mengenal mobil pada 1894. Pada tahun itu, Pakubuwono X membeli Benz Victoria Phaeton dengan harga fantastis, 10.000 Gulden. Nominal ini menunjukkan satu hal: sejak awal, mobil sudah menjadi simbol kelas dan kekuasaan.

Pakubuwono X memesan kendaraan tersebut langsung dari John C Potter, seorang masinis pabrik gula di Probolinggo yang juga dikenal sebagai penjual mobil pertama di Hindia Belanda. Prosesnya tidak instan. Pabrik di Eropa membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk menyelesaikan pesanan khusus tersebut.

Spesifikasinya tentu jauh dari mobil modern. Mesin satu silinder berkapasitas 2.000 cc hanya menghasilkan 5 tenaga kuda. Ban mobil bahkan terbuat dari kayu. Meski begitu, kendaraan ini mampu mengangkut hingga delapan orang, sebuah capaian yang tergolong luar biasa pada masanya.

Simbol Modernitas Seorang Raja

Pakubuwono X dikenal sebagai raja yang gemar tampil elegan. Ia sering mengenakan busana mewah lengkap dengan atribut kebesaran. Mobil lalu hadir sebagai pelengkap citra tersebut. Kendaraan ini tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai pernyataan sikap.

Secara psikologis, manusia memang kerap menggunakan benda untuk menegaskan identitas. Pada masa lalu, raja menunjukkan wibawa lewat kereta kencana dan pusaka. Ketika teknologi berkembang, mobil mengambil peran itu. Hari ini, peran serupa dijalankan oleh gawai mahal, mobil listrik, hingga barang edisi terbatas.

Ini Belum Selesai

Kenapa Kucumbu Tubuh Indahku Membuat Banyak Orang Tidak Nyaman?

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

Fenomena ini menegaskan satu hal: gaya hidup selalu menjadi alat komunikasi sosial.

Mengapa Indonesia Bisa Lebih Dulu?

Pertanyaan ini sering muncul. Bagaimana Indonesia bisa mengenal mobil lebih cepat dari Belanda? Jawabannya terletak pada sosok Pakubuwono X. Ia tidak menolak perubahan. Ia justru memeluk teknologi sebagai alat adaptasi.

Sikap ini terasa relevan dengan kehidupan Gen Z dan Milenial saat ini. Kita hidup di era serba cepat. Siapa sigap beradaptasi, dia bertahan. Siapa lambat, dia tertinggal. Prinsip itu ternyata sudah dipraktikkan seorang raja Jawa lebih dari satu abad lalu.

Mobil yang Pergi dan Tak Pernah Pulang

Sejarah juga menyimpan sisi pahit. Pada 1924, mobil milik Pakubuwono X dikirim ke Belanda melalui Semarang untuk keperluan pameran. Setelah itu, kendaraan bersejarah tersebut tidak pernah kembali ke Indonesia.

Mengutip Kompas.com, mobil pertama di Indonesia kini dipamerkan di Museum Louwman, Belanda. Fakta ini memunculkan refleksi penting. Indonesia kerap menciptakan sejarah lebih awal, tetapi belum selalu berhasil menjaga warisannya.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kisah mobil Pakubuwono X bukan cerita nostalgia kosong. Cerita ini mengajak kita meninjau ulang cara memandang kemajuan. Gaya hidup modern seharusnya tidak berhenti pada ikut tren, tetapi juga memahami makna di balik pilihan.

Gen Z dan Milenial sering dicap konsumtif. Namun, sejarah membuktikan bahwa konsumsi teknologi juga bisa mencerminkan visi. Semuanya bergantung pada kesadaran dan arah.

Jadi, mungkin pertanyaannya bukan lagi soal kendaraan apa yang kamu pakai hari ini.
Melainkan, nilai apa yang ingin kamu bawa saat melaju ke masa depan. @eko

Tags: MobilNasionalOtomotif

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Bicara Cara Bertahan

Saat Negara Bicara Pertumbuhan, Warung Kecil Belum Selesai Bertahan

by jeje
Mei 9, 2026

Di tengah harga pangan yang terus naik, pedagang kecil mulai menghadapi dilema paling melelahkan: menaikkan harga jual dan kehilangan pelanggan,...

Next Post
Konsep Otomatis

Yusril: Pilkada via DPRD Lebih Mudah Diawasi, Pilkada Langsung Berbiaya Tinggi

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id