Tabooo.id: Life – Di Bali, ogoh-ogoh biasanya menghadirkan simbol amarah yang kemudian dibakar. Namun di Legian, satu karya justru menyulut sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan. Satyaning Caraka tidak berhenti pada bentuk visual, melainkan mengangkat janji yang sering diucapkan, lalu diam-diam dilanggar.
Ketika Kesetiaan Jadi Cerita yang Terluka
Pada tahun 2026, para kreator memilih kisah tentang kesetiaan seorang raksasa kepada Dewa Siwa. Ia mengabdikan diri secara utuh, tetapi kemudian menghadapi gangguan dari sosok terdekatnya sendiri, yaitu istrinya.
Konfliknya memang sederhana, namun terasa akrab.
Bukan karena ancaman dari luar, melainkan karena pengkhianatan dari dalam.
Akibatnya, cerita ini terasa semakin dekat dengan realitas hari ini.
Lahir dari Keresahan yang Kita Rasakan Diam-Diam
Satyaning Caraka tidak muncul begitu saja. Para kreator merespons kegelisahan yang nyata: manusia semakin mudah berjanji, tetapi semakin sulit menjaga kesetiaan.
Di satu sisi, relasi terasa cepat terbentuk. Namun di sisi lain, kedalamannya justru menipis. Orang mengucapkan komitmen, tetapi sering mengabaikannya.
Karena itu, tema ini seperti menyindir tanpa suara. Kita tidak kekurangan kata-kata manis. Sebaliknya, kita justru kekurangan konsistensi.
Di Balik Megahnya Visual, Ada Proses yang Tidak Romantis
Sekaa Teruna Jaya Dharma Caka 1948 dari Banjar Legian Kulod mengerjakan ogoh-ogoh ini dengan Tu Dewa sebagai konseptor utama.
Mereka tidak hanya membangun visual untuk ditonton ribuan orang, tetapi juga menghadapi proses yang penuh tekanan.
“Prosesnya kurang lebih empat bulan. Biayanya sudah tembus ratusan juta. Tapi yang paling berat bukan cuma soal uang,” kata Tu Dewa.
Selama pengerjaan, tim menghadapi berbagai hambatan.
Konstruksi sering tidak berjalan sesuai rencana. Mesin kerap bermasalah di tengah proses. Selain itu, tim juga harus terus menyesuaikan desain, sementara cuaca sering berubah tanpa kompromi.
“Kadang kita sudah siap kerja, tapi hujan datang. Kadang mesin bermasalah di tengah proses. Belum lagi perbedaan pendapat soal desain,” lanjutnya.
Karena itu, proses ini tidak lagi sekadar proyek seni.
Tim benar-benar menguji komitmen mereka sendiri.
“Di situ sebenarnya diuji, bukan cuma kemampuan bikin ogoh-ogoh, tapi juga seberapa kuat kita bertahan sama apa yang sudah kita mulai.”
Di titik inilah, makna kesetiaan tidak lagi terasa abstrak, tetapi menjadi pengalaman nyata.
Filosofi yang Tidak Nyaman, Tapi Jujur
Satyaning Caraka membawa beberapa makna utama.
Karya ini menempatkan kebenaran sebagai pijakan hidup. Selain itu, karya ini mengingatkan bahwa setiap tindakan selalu membawa konsekuensi. Di saat yang sama, prosesnya juga menegaskan pentingnya kebersamaan, bukan sekadar formalitas.
Namun, kekuatan utamanya bukan hanya pada pesan.
Karya ini justru menekan satu pertanyaan yang sulit dihindari.
Kenapa kesetiaan hari ini terasa semakin langka?
Dalam perspektif Tabooology, masyarakat seharusnya tidak menutup hal-hal yang dianggap tabu seperti ketidaksetiaan. Sebaliknya, masyarakat perlu membongkar dan memahami hal tersebut sebagai sinyal sosial.
Melalui karya ini, pesan itu muncul tanpa perlu banyak penjelasan.
Ini Bukan Sekadar Tradisi
Banyak orang masih melihat ogoh-ogoh sebagai ritual tahunan. Ia hadir, meramaikan suasana, lalu selesai begitu saja.
Namun, Satyaning Caraka menawarkan sesuatu yang berbeda.
Karya ini tidak hanya menjadi simbol.
Ia berubah menjadi cermin.
Cermin yang memperlihatkan manusia yang mudah berjanji, tetapi sering gagal mempertahankannya.
Di tengah suara gamelan dan sorak penonton, tidak semua orang mungkin menangkap makna tersebut.
Namun satu hal tetap jelas.
Karya ini tidak sedang menceritakan raksasa.
Karya ini sedang membicarakan kita.
Lalu, pertanyaannya tetap sama.
Kalau kesetiaan mulai goyah, sebenarnya kita masih memegang apa? @jeje




