• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News

Rumah Nenek Elina Dirusak, Ormas Madas Buka Suara

Desember 28, 2025
in News, Regional
A A
Rumah Nenek Elina Dirusak, Ormas Madas Buka Suara

Ketua Umum DPP MADAS Sedarah, Moh Taufik, menemui Samuel, penjual rumah nenek Elina, untuk klarifikasi terkait pengusiran dan perobohan rumah di Surabaya. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Nenek Elina Widjajanti, 80 tahun, masih menyimpan luka dari pengusiran paksa dan perobohan rumahnya di Kawasan Balongsari, Kecamatan Tandes. Awalnya, publik menduga tindakan itu dilakukan oleh anggota Organisasi Masyarakat Madura Asli (Madas). Dugaan itu membuat nama ormas tersebut terseret ke pusaran kontroversi, meski pihak Madas menegaskan bahwa sebagian besar pelaku bukan anggota mereka.

Ketua Umum DPP Madas Sedarah, Moh Taufik, menyambangi rumah Elina pada Jumat (26/12/2025). Ia menyampaikan klarifikasi secara langsung dan membuka ruang dialog.

“Kami datang untuk ngobrol dan mengklarifikasi terkait kejadian tersebut. Sekelompok orang yang melakukan pengusiran sebagian besar bukan anggota Madas,” ujar Taufik dikutip dari Kompas.com, Sabtu (27/12/2025).

Taufik menambahkan bahwa dari lima orang pelaku, empat di antaranya bukan terdaftar sebagai anggota Madas, sementara satu orang, Muhammad Yasin, baru bergabung pada Oktober 2025.

“Tulisan yang menyatakan bahwa semua pelaku anggota Madas itu salah besar,” tegasnya.

Ia juga mendorong publik untuk mengecek identitas anggota melalui KTA agar tidak ada kesalahpahaman.

Dampak pada Korban dan Publik

Kejadian ini menimbulkan guncangan emosional bagi Elina dan keluarganya. Rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat tinggal dan kenangan kini dirusak, meninggalkan ketidakpastian dan rasa aman yang hilang. Masyarakat yang mengikuti kasus ini melalui media sosial ikut terdampak, baik secara emosional maupun persepsi keamanan lingkungan.

RelatedPosts

Jubir IRGC Tewas Diserang AS-Israel, Konflik Iran Kian Memanas

Lebaran 2026: Prabowo Undang Ribuan Warga ke Istana Kepresidenan

“Yang penting sekarang adalah proses hukum berjalan adil,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa Madas terbuka menerima kritik, saran, maupun laporan jika ada anggota yang melanggar hukum. Namun, ia meminta agar publik tidak langsung menggeneralisasi seluruh anggota Madas.

Cyberhate dan Perlunya Klarifikasi Hukum

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial ramai dengan spekulasi dan framing yang salah tentang keterlibatan Madas. LBH Madas kini mengumpulkan bukti-bukti terkait cyberhate untuk menyiapkan langkah hukum jika diperlukan. Taufik berharap semua pihak menggunakan jalur hukum secara adil, tanpa tekanan terhadap aparat yang menangani kasus ini.

“Silakan menempuh upaya hukum, tetapi harus sesuai aturan dan berkeadilan,” pungkasnya.

Selain itu, Taufik menyebutkan bahwa Madas menyiapkan berbagai program edukasi untuk masyarakat, termasuk pengawalan kasus hukum dan pelayanan ambulans yang bisa dimanfaatkan warga. Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif dan mencegah kesalahpahaman di masyarakat.

Refleksi: Ketika Identitas Ormas Terseret Konflik

Kasus Elina menunjukkan bagaimana satu insiden dapat memengaruhi reputasi komunitas yang lebih luas. Ketika berita dan video tersebar, masyarakat sering menilai lebih cepat daripada aparat hukum bertindak. Di sinilah risiko framing politik atau sosial muncul, memicu ketegangan di lapangan.

Bagi Elina, yang paling terdampak adalah rasa aman dan kenyamanan hidupnya. Bagi ormas, dampaknya lebih pada reputasi dan kepercayaan publik. Dan bagi kota, setiap konflik yang melibatkan kelompok masyarakat harus disikapi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan ketegangan yang lebih luas.

Di ujungnya, kasus ini mengingatkan kita publik mungkin mudah menilai dan memberi vonis, tapi hukum tetap harus bekerja secara adil. Dan mungkin, terkadang media sosial lebih cepat menabuh genderang kemarahan daripada aparat yang menangani kasus secara resmi. @dimas

Tags: AdilElina WidjajantihukumKonflikmadasMoh TaufikNenek ElinaPemkot SurabayaPerlindungansurabaya
Next Post
Lebih dari 131 PS: ZX-636, Adrenalin, dan Identitas Baru Generasi Jalanan

Lebih dari 131 PS: ZX-636, Adrenalin, dan Identitas Baru Generasi Jalanan

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Jalan yang Tidak Pernah Benar-Benar Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sedap Malam: Ketika Ogoh-Ogoh Tidak Lagi Sekadar Dibakar, Tapi Mengingatkan Luka yang Belum Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiamat Tidak Menunggu Zona Waktu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai yang Kita Banggakan, atau yang Kita Abaikan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.