Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu merasa identitas kebangsaan kita sekarang seperti konten TikTok? Sekejap viral, sekejap hilang, dan dikendalikan oleh algoritma yang nggak pernah tidur. Nasionalisme di era digital memang nggak lagi cuma soal bendera, lagu kebangsaan, atau upacara di sekolah. Kini, ruang digital memproduksi, mereproduksi, bahkan mempertarungkan identitas kita. Kalau kamu nggak hati-hati, narasi tentang Indonesia bisa jadi bahan meme orang lain.
Dari Ruang Fisik ke Ruang Algoritmik
Dulu, nasionalisme tumbuh melalui sekolah, keluarga, organisasi, bahkan negara. Sekarang, medan perangnya sudah pindah. Ruang digital media sosial, forum online, grup chat menjadi arena baru. Di sana, loyalitas, identitas, dan persepsi kita tentang negara diuji setiap hari. Algoritma memutuskan konten apa yang muncul, apa yang trending, dan siapa yang terlihat paling “berpengaruh.” Keren? Bisa jadi. Berbahaya? Juga iya.
Saat mengikuti Program Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Angkatan 224 di Lemhannas RI, saya sadar bahwa ketahanan nasional bukan cuma soal militer atau ekonomi. Ancaman kini juga datang dari ranah digital. Misalnya, satu narasi negatif yang viral bisa melemahkan kepercayaan publik, memicu polarisasi, dan merusak integrasi sosial.
Algoritma Bukan Netral
Coba pikir: siapa yang mengendalikan algoritma? Platform digital bekerja dengan logika engagement. Konten yang memicu emosi, kontroversi, atau pertentangan biasanya lebih disukai daripada konten yang membangun kesadaran. Ini bukan konspirasi, ini matematika digital. Joseph Nye menyebutnya soft power kemampuan memengaruhi melalui daya tarik, bukan paksaan. Bedanya, sekarang setiap warganet bisa menjadi produsen soft power, sadar atau tidak.
Di sisi lain, siapa yang diuntungkan dari polarisasi ini? Tentu bukan rakyat biasa. Generasi muda dan masyarakat awam yang mengonsumsi informasi pasif menjadi pihak paling terdampak. Tanpa literasi digital dan kesadaran kebangsaan, kita mudah termakan narasi pesimis, bahkan delegitimasi terhadap institusi negara.
Ruang Digital Sebagai Peluang
Tapi jangan salah, ruang digital juga menawarkan peluang demokratisasi informasi. Siapa pun bisa menyuarakan opini, mengedukasi, atau memperkuat narasi positif. PPNK Lemhannas menekankan bahwa peserta bukan sekadar belajar teori mereka belajar menjadi agen perubahan. Mereka belajar memproduksi makna, bukan hanya menjalankan kebijakan. Seorang pemimpin di era digital harus mengelola narasi, membangun hegemoni budaya, dan melakukannya lewat jalur kreatif, kolaboratif, dan algoritmik.
Tabooo Menyimpulkan: Algoritma Kebangsaan Itu Nyata
Kalau sekarang kita ngomongin Indonesia Emas 2045, ingat ini bukan hanya soal infrastruktur, ekonomi, atau sumber daya alam. Ini soal narasi dan kesadaran kolektif. Dalam istilah Benedict Anderson, bangsa adalah “komunitas yang dibayangkan.” Komunitas itu terbentuk lewat cerita, opini, dan informasi kebanyakan kini berada di ruang digital. Algoritma kebangsaan bukan manipulasi teknologi, melainkan strategi kolektif untuk memastikan ruang digital memproduksi optimisme, kesadaran, dan solidaritas, bukan kekacauan dan sinisme.
Setiap peserta PPNK, setiap warganet, setiap intelektual, bahkan kamu yang sedang membaca ini, punya tanggung jawab. Narasi yang kamu sebarkan di grup chat, media sosial, atau forum mempengaruhi cara bangsa ini memandang dirinya sendiri. Apakah kita ingin ruang digital menjadi ladang harapan atau ladang pesimisme?
Penutup Santai tapi Tajam
Di era algoritma, medan perjuangan kebangsaan tidak lagi hanya di jalan atau aula rapat. Ia ada di feed media sosialmu, di chat WhatsApp teman-temanmu, dan di thread Twitter yang kamu scroll setiap pagi. Jadi, kamu di kubu mana? Jadi agen optimisme kebangsaan, atau cuma penonton pasif yang membiarkan algoritma menulis narasi kita? @dimas




