Tabooo.id: Nasional – Penipuan digital di Indonesia tidak lagi sekadar cerita horor di grup WhatsApp keluarga. Angkanya nyata, dampaknya besar, dan korbannya datang dari semua lapisan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini membuka peta masalahnya secara terang-terangan.
Rp 9,1 Triliun Lenyap, Ratusan Ribu Warga Jadi Korban
Melalui Indonesia Anti Scam Center (IASC), OJK mencatat 432.637 laporan scam dari masyarakat sejak diluncurkan pada 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026. Total kerugian warga Indonesia mencapai Rp 9,1 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan tabungan yang raib, gaji yang hilang, dan mimpi yang terpaksa ditunda.
Lonjakan laporan ini menunjukkan satu hal scam sudah menjadi kejahatan massal, bukan insiden sporadis.
Lima Modus Scam Paling Banyak Menjerat Warga
Berdasarkan data IASC, ada lima modus scam yang paling sering memakan korban di Indonesia.
Pertama, penipuan transaksi belanja dengan 73.743 laporan. Modus ini biasanya menyasar pembeli online yang tergiur harga miring. Barang tak pernah datang, uang lebih dulu melayang.
Kedua, impersonation atau fake call dengan 44.446 laporan. Pelaku menyamar sebagai bank, kurir, atau instansi resmi. Suara meyakinkan sering kali cukup untuk membuat korban lengah.
Ketiga, penipuan investasi yang mencatat 26.365 laporan. Janji cuan cepat masih jadi senjata ampuh, terutama di tengah tekanan ekonomi.
Keempat, penipuan kerja dengan 23.469 laporan. Lowongan palsu menyasar pencari kerja yang sedang butuh penghasilan.
Kelima, penipuan melalui media sosial sebanyak 19.983 laporan, memanfaatkan akun palsu, giveaway fiktif, hingga DM jebakan.
Kenapa Scam Sulit Dideteksi?
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa scam berbeda dari kejahatan finansial konvensional. Pelaku tidak merampok secara paksa. Mereka membujuk korban untuk menyerahkan akses secara sukarela.
Korban memberikan password, OTP, hingga PIN tanpa sadar sedang membuka pintu ke rekening sendiri. Saat sadar, dana sudah berpindah tangan.
Ia juga menjelaskan bahwa setiap kasus scam hampir selalu melibatkan dua unsur utama nomor rekening sebagai tujuan dana dan nomor telepon sebagai alat komunikasi pelaku.
Siapa Dirugikan, Siapa Diuntungkan?
Yang paling dirugikan tentu masyarakat. Korban kehilangan uang, rasa aman, dan kepercayaan pada sistem digital. Kelompok rentan seperti lansia, pencari kerja, dan pelaku UMKM sering kali menjadi sasaran empuk.
Di sisi lain, pelaku kejahatan memanfaatkan celah koordinasi antar sektor. Selama sistem pengawasan belum terhubung rapat, scammer akan terus menemukan ruang bermain.
Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Sekadar Imbauan
OJK menilai penanganan scam tidak bisa berjalan sendiri. Regulator, industri jasa keuangan, aparat penegak hukum, hingga sektor telekomunikasi harus bergerak dalam kebijakan terpadu dan responsif.
Kolaborasi ini penting untuk mencegah sejak awal, mendeteksi lebih cepat, menindak lebih tegas, dan memulihkan hak korban tanpa berbelit.
Pada akhirnya, maraknya scam mengingatkan satu hal pahit di era digital, ancaman tidak selalu datang dari sistem yang diretas, tapi dari kepercayaan yang terlalu mudah diberikan. @teguh







