Tabooo.id: Nasional – Perpindahan matra TNI kembali jadi sorotan. Nama Rizki Juniansyah berada di pusat perhatian. Atlet angkat besi nasional itu naik pangkat dua tingkat sekaligus. Ia juga berpindah dari TNI Angkatan Laut ke TNI Angkatan Darat. Publik langsung bertanya. Ini keputusan luar biasa? Atau cerita lama yang kembali viral?
Bukan Fenomena Baru
Pengamat politik dan pertahanan keamanan Universitas Nasional, Selamat Ginting, menjawab lugas. Perpindahan matra di tubuh TNI bukan hal baru. TNI sudah melakukannya sejak awal pembentukan. Jauh sebelum nama Rizki dikenal publik.
Selamat menegaskan, kasus Rizki bukan yang pertama. Bahkan bukan yang paling ekstrem. Ia mengajak publik menengok sejarah. Tepatnya pada masa Operasi Trikora, 1961–1962.
Sejarah Bicara
Saat itu, TNI memindahkan perwira lintas matra demi kepentingan operasi militer. Dua perwira Korps Zeni Angkatan Darat masuk ke TNI Angkatan Laut. Langkah ini punya tujuan jelas. Mereka memperkuat Korps Komando Operasi, atau KKO, yang kini dikenal sebagai Korps Marinir.
Tanpa langkah itu, TNI AL kesulitan membentuk Batalyon Zeni KKO. Kebutuhan strategis mendesak. Organisasi harus bergerak cepat.
Nama kedua perwira itu tercatat rapi dalam sejarah militer. Lettu CZI TGM Harahap dan Letda CZI Sujono. Keduanya lulusan Akademi Zeni Angkatan Darat di Bandung. Sujono bahkan satu angkatan dengan Try Sutrisno, yang kelak menjabat Wakil Presiden RI.
Pindah Korps Juga Lazim
Tak hanya pindah matra. Perpindahan korps juga jamak terjadi di TNI. Banyak perwira Zeni, Komlek, hingga Peralatan beralih ke Korps Infanteri. Jalurnya jelas. Biasanya setelah mereka lulus pendidikan komando Kopassus.
Sebaliknya, perwira Infanteri juga bisa masuk ke satuan administrasi. Korps Ajudan Jenderal salah satunya. Alasan utamanya kondisi fisik. Cedera tempur. Kecelakaan. Atau pertimbangan organisasi.
Kenapa Kasus Rizki Penting?
Di sinilah posisi Rizki Juniansyah menjadi krusial. Ia menerima Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Dari Letnan Dua langsung ke Kapten. Ia juga berpindah matra dari AL ke AD. Presiden Prabowo Subianto mengumumkan keputusan itu setelah Rizki meraih emas dan memecahkan rekor dunia di SEA Games 2025 Thailand.
Berita ini penting karena menyentuh rasa keadilan publik. Banyak orang khawatir soal privilese. Tapi sejarah memberi konteks. TNI bergerak berdasarkan kebutuhan negara. Bukan semata popularitas. Memahami ini membantu publik tetap kritis, tanpa kehilangan rasa adil. (red)





