Jumat, Mei 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Relasi Kuasa di Balik Panti: Anak-anak Dibungkam, Kekerasan Dibiarkan

by dimas
April 2, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Kasus dugaan kekerasan seksual dan penganiayaan anak di panti asuhan Buleleng, Bali, memperlihatkan bagaimana kekuasaan bisa berubah menjadi alat penindasan. Polisi menemukan bahwa tersangka JMW (57) secara aktif memakai posisinya sebagai ketua yayasan untuk mengontrol dan menekan anak-anak asuh.

Kapolres Buleleng AKBP Ruzi Gusman menjelaskan, pelaku memanfaatkan ketergantungan korban untuk menjalankan aksinya. Anak-anak yang tinggal di panti tidak memiliki ruang aman untuk menolak atau mencari pertolongan.

“Korban menyampaikan terduga pelaku memanfaatkan posisinya sebagai ketua yayasan untuk melakukan kejahatan, sehingga korban merasa sedikit terintimidasi,” ujar Ruzi, Kamis (2/4/2026), di Mapolres Buleleng.

Kekerasan Jadi Alat Kendali

Pelaku tidak hanya menekan secara psikologis. Ia juga menyerang secara fisik untuk memperkuat kontrol. Polisi mencatat, pelaku mencambuk dan mencekik salah satu korban dengan kabel hingga korban mengalami luka dan memar.

Insiden itu terjadi saat korban keluar dari panti tanpa izin. Pelaku menghukum korban di sebuah ruangan dan memaksa anak-anak lain menyaksikan kejadian tersebut.

Ini Belum Selesai

Bundaran UGM Jadi Sorotan, Spanduk Permintaan Maaf Terbentang

Perlawanan Dari Titik Nol: Reformasi Dipidatokan, Ketidakadilan Dilestarikan

“Penganiayaan dilakukan karena korban keluar dari panti, tidak izin kepada pelaku (JMW). Sehingga korban dipukul di suatu ruangan, disaksikan sesama anak panti yang lain,” kata Ruzi.

Melalui aksi itu, pelaku mengirim ancaman terbuka. Ia memperingatkan bahwa siapa pun yang melanggar aturan akan menerima perlakuan yang sama. Ancaman ini menumbuhkan rasa takut dan membuat anak-anak lain memilih diam.

Keberanian yang Membuka Fakta

Kasus ini mulai terbongkar ketika satu korban memutuskan untuk berbicara. Ia mengadu kepada kakak kandungnya dan menceritakan kekerasan yang dialaminya. Dari pengakuan itu, polisi menemukan dugaan kejahatan yang lebih serius korban mengaku pelaku memperkosanya berulang kali, dengan kejadian terakhir pada Februari 2026.

Polisi segera menindaklanjuti laporan tersebut. Petugas memeriksa kondisi korban, lalu mendatangi panti untuk menyelidiki lebih lanjut. Tim kemudian mengamankan anak-anak lain yang diduga mengalami kejadian serupa agar mereka terhindar dari tekanan.

“Kami langsung bergerak cepat, periksa kesehatan korban dan bergerak cepat ke panti untuk penyelidikan. Hasilnya, kami amankan anak-anak yang lain, yang mengalami kejadian serupa untuk mencegah intimidasi,” ujar Ruzi.

Bantahan dari Pihak Kuasa Hukum

Kuasa hukum JMW, Kadek Cita Ardana Yudi, membantah tuduhan tersebut. Ia menilai laporan yang beredar tidak sepenuhnya mencerminkan kejadian yang sebenarnya.

“Berdasarkan penjelasan dan data serta analisis sementara, kami menduga ada hal yang jauh berbeda telah terjadi dari yang dilaporkan,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).

Anak Panti di Titik Paling Rentan

Kasus ini menegaskan bahwa anak-anak dalam pengasuhan institusi berada di posisi paling rentan ketika pengawasan melemah. Satu orang yang memegang kendali penuh bisa dengan mudah menyalahgunakan kekuasaan.

Di tempat yang seharusnya memberi perlindungan, rasa takut justru tumbuh. Keberanian satu korban memang membuka jalan, tetapi banyak anak lain masih terjebak dalam diam bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena tidak punya pilihan. @dimas

Tags: AnakBulelengKeadilankekerasankorbanRelasi KuasaStopSuara Korban

Kamu Melewatkan Ini

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

by dimas
Mei 11, 2026

Perempuan pembela HAM sering melangkah dari pengalaman melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Keberanian itu mendorong mereka bersuara, mendampingi...

Relasi Kuasa di Sekolah: Dugaan Pelecehan Guru terhadap Siswi di Wonogiri Terungkap

Relasi Kuasa di Sekolah: Dugaan Pelecehan Guru di Wonogiri Terbongkar

by dimas
Mei 11, 2026

Relasi kuasa di ruang kelas seharusnya melindungi siswa dan menciptakan rasa aman dalam proses belajar. Namun di sebuah sekolah menengah...

Agamawan Juga Manusia: Mengapa Kita Tak Berani Mengawasi Mereka?

Agamawan Juga Manusia: Mengapa Kita Tak Berani Mengawasi Mereka?

by dimas
Mei 9, 2026

Kasus kekerasan seksual yang melibatkan tokoh agama di sebuah pesantren di Pati, Jawa Tengah tidak hanya memicu kemarahan publik, tetapi...

Next Post
Gempa 5,0 Magnitudo Guncang Maluku Tenggara

Gempa M 7,6 Guncang Bitung-Ternate, Warga Lari, Pesisir Siaga

Pilihan Tabooo

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Ribuan Salib Merah di Papua, Apakah Fakta?

Mei 11, 2026

Realita Hari Ini

Pacitan Diguncang Gempa Magnitudo 6,4, Tidak Berpotensi Tsunami

Gempa Berkekuatan 6,4 Magnitudo Guncang Pacitan

Februari 6, 2026

KPK Tetapkan Reza Maullana Sebagai Tersangka Suap Proyek Kereta Api

Februari 3, 2026

Dari Desa ke Karung: Jejak Uang Korupsi Bupati Pati

Januari 22, 2026

Inbox Lebih Kalem: Saat Gmail Pakai AI Buat Ngurangin Drama Email

Mei 8, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id