Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rekomendasi Film Hari Ibu, Film Netflix yang Pas Ditonton Bersama

by sigit
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Entertainment – “Kadang, cinta ibu tidak datang dalam bentuk pelukan. Ia datang sebagai tuntutan, jarak, bahkan keheningan.”
Kalimat itu terasa pas saat layar menyala dan film mulai berjalan. Selama ini, Hari Ibu sering kita rayakan dengan bunga, kartu ucapan, dan kalimat manis yang rapi. Namun, Netflix memilih jalur berbeda. Alih-alih menawarkan kisah serba sempurna, platform ini justru menghadirkan cerita yang berantakan, jujur, dan kadang tidak nyaman. Cerita tentang ibu yang jauh dari ideal. Tentang anak yang tumbuh sambil memikul luka. Dan, tentu saja, tentang cinta yang tidak selalu lembut, tapi tetap nyata.

Karena itu, jika kamu ingin menutup Hari Ibu dengan tontonan yang hangat sekaligus menampar pelan, daftar film ini layak masuk antrean.

Sinopsis Singkat: Ibu dalam Banyak Wajah

Lewat Dumplin’, penonton diajak masuk ke dunia kontes kecantikan remaja. Willowdean, gadis bertubuh besar, hidup di bawah bayang-bayang ibu yang mantan ratu kecantikan. Hubungan mereka penuh standar, tegang, dan miskin pujian. Meski begitu, di balik gaun dan catwalk, film ini bicara soal penerimaan bukan hanya dari ibu, tetapi juga dari diri sendiri.

Sementara itu, Enola Holmes tampil lebih ringan, namun tetap politis. Enola tumbuh bersama ibu yang “tidak lazim” di zamannya. Sang ibu memilih mengajarkan kebebasan berpikir ketimbang kepatuhan buta. Ketika ia menghilang, Enola berangkat mencarinya. Namun pencarian itu perlahan berubah menjadi perjalanan menemukan identitas di dunia yang menekan perempuan muda.

Berbeda lagi dengan The Life List yang bermain di wilayah sentimental. Seorang ibu meninggalkan “daftar hidup” untuk anak perempuannya sebelum meninggal. Sekilas terdengar manipulatif. Akan tetapi, justru di situlah film ini bekerja. Ia memperlihatkan bagaimana cinta ibu kadang hadir sebagai dorongan keras agar anaknya berani hidup tanpa rasa takut.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Lain halnya Marriage Story yang menggeser fokus. Film ini bukan tentang sosok ibu ideal. Ia bercerita tentang dua orang tua yang tetap mencintai anaknya di tengah perceraian yang menyakitkan. Tidak ada penjahat. Yang ada hanyalah orang dewasa yang gagal saling mencintai, namun tetap berusaha hadir sebagai orang tua.

Sebagai penutup, The Mother menawarkan versi ekstrem dari cinta ibu. Seorang pembunuh bayaran keluar dari persembunyian demi menyelamatkan anak yang tak pernah ia besarkan. Aksi brutal bertemu naluri keibuan. Ceritanya mungkin tidak halus dan jauh dari realistis, tetapi emosinya bekerja dengan efektif.

Analisis: Ibu, Ekspektasi, dan Tekanan Sosial

Yang menarik, seluruh film ini bertemu pada satu benang merah. Ibu selalu berada di persimpangan antara cinta dan tuntutan. Mereka bukan dewi. Sebaliknya, mereka manusia yang membawa trauma, ambisi, dan ketakutan sendiri.

Bagi anak muda, kisah-kisah ini terasa relevan karena kejujurannya. Banyak dari kita tumbuh dengan ibu yang mencintai, namun juga melukai. Ada ibu yang ingin melindungi, tetapi kerap terlalu mengatur. Ada pula ibu yang absen, lalu hadir kembali dalam bentuk penyesalan.

Secara sosial, film-film ini menantang narasi lama bahwa “ibu harus selalu benar”. Sebaliknya, mereka menunjukkan relasi ibu-anak sebagai negosiasi seumur hidup. Konflik muncul. Jarak tercipta. Namun di sana juga ada usaha untuk saling memahami, bahkan ketika usia dan peran terus berubah.

Dari sisi psikologis, tontonan ini bekerja layaknya cermin. Penonton diajak bertanya: luka mana yang benar-benar berasal dari rumah? Dan luka mana yang tanpa sadar kita bawa terus ke hubungan lain?

Di era media sosial yang gemar memoles Hari Ibu dengan caption sempurna, film-film ini terasa seperti udara segar. Mereka mengingatkan bahwa cinta tidak selalu rapi. Bahwa berdamai dengan ibu atau dengan diri sendiri sebagai anak adalah proses panjang yang penuh zig-zag.

Menonton film-film ini bersama ibu mungkin terasa canggung. Namun justru di situlah nilainya. Sebab, sering kali percakapan paling jujur lahir dari ketidaknyamanan.

Penilaian Akhir

Untuk Hari Ibu yang jujur, hangat, dan sedikit menyakitkan dengan cara yang baik:
Worth it. Bahkan… Tabooo banget. (red)

Tags: FilmibuNetflixSinopsis

Kamu Melewatkan Ini

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

Salridan-gil: Budaya Uji Nyali Baru di Korea

by Naysa
Mei 12, 2026

Salridan-gil memperlihatkan bagaimana rasa takut bisa berubah menjadi budaya uji nyali baru di Korea. Setelah Salmokji: Whispering Water viral, anak...

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

Kritikus dan Fans Mortal Kombat II Bisa Sebegitu Beda? Film Harus Pintar atau Seru?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau sebuah film dapat nilai “lumayan” dari kritikus tapi dipuja fans sampai susah move on, siapa yang sebenarnya benar? Pertanyaan...

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

Mortal Kombat II Dipuji Fans, Dihajar Kritikus: Film Buruk atau Fan yang Jujur?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau satu film seperti Mortal Kombat II bikin kritikus mengeluh tapi fans malah tepuk tangan, siapa yang sebenarnya paling benar...

Next Post
Perpol 10/2025: Uji Kepatuhan Konstitusional

Perpol 10/2025: Uji Kepatuhan Konstitusional

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id