Rapat dua kubu Keraton Surakarta berakhir, tetapi dualisme kepemimpinan belum usai. Kirab Pusaka Malam 1 Suro tetap digelar di bawah bayang dua takhta dan sengketa legitimasi.
Tabooo.id: Surakarta – Menjelang malam 1 Suro, Kota Solo kembali berdiri di persimpangan antara tradisi dan konflik. Di satu sisi, ribuan warga menunggu prosesi kirab pusaka yang sakral. Di sisi lain, sengketa kepemimpinan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat masih menyisakan luka yang belum sembuh.
Sekretaris Daerah Kota Solo, Budi Murtono, menegaskan bahwa Pemkot Solo bersama aparat keamanan berkomitmen menjaga kelancaran seluruh rangkaian kegiatan budaya tersebut.
Menurut Budi, masing-masing pihak memaparkan rencana kirab mereka. Pemerintah kemudian menyelaraskan pelaksanaan di lapangan agar setiap pihak memiliki ruang yang cukup dan tidak saling berbenturan.
Pernyataan itu terdengar sederhana. Namun persoalan yang mereka hadapi jauh lebih rumit daripada sekadar mengatur jadwal keberangkatan atau rute kirab. Mereka sedang mengelola dua klaim legitimasi yang sama-sama menganggap diri sebagai penerus sah takhta Kasunanan Surakarta.
Tradisi yang Berjalan di Atas Retakan
Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro bukan sekadar pergantian tahun. Tradisi ini menghadirkan ruang spiritual yang menghubungkan masa kini dengan warisan leluhur.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menunjukkan kesediaan untuk saling memberi ruang. Salah satu pihak bahkan siap menyesuaikan urutan keberangkatan demi menghindari ketegangan di lapangan.
Langkah itu memang meredakan potensi konflik jangka pendek. Namun langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan yang selama ini memecah Keraton Solo.
Pertarungan Legitimasi yang Terus Berlanjut
Kuasa hukum kubu PB XIV Purbaya, KPAA Ferry Firman Nurwahyu, memastikan pihaknya tetap melaksanakan kirab. Ia juga menolak anggapan bahwa Keraton Solo memiliki dua raja.
“Rajanya kan cuma satu,” ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa perdebatan utama bukan terletak pada prosesi kirab, melainkan pada hak atas takhta.
Kubu PB XIV Purbaya mendasarkan klaim mereka pada Sabda Sri Susuhunan SISKS Pakoe Boewono XIII Nomor 001 Tahun 2025. Dokumen tersebut menegaskan bahwa suksesi keraton harus mengikuti garis keturunan, paugeran, legitimasi spiritual, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Sementara itu, kubu Lembaga Dewan Adat (LDA) bersama KGPH Panembahan Agung Tedjowulan terus menjalankan aktivitas adat dan pengelolaan keraton sebagaimana selama beberapa tahun terakhir.
Akibatnya, Keraton Surakarta kini menghadapi situasi yang tidak biasa. Satu institusi budaya memiliki dua pusat legitimasi yang berjalan dalam jalurnya masing-masing.
Pusaka Menjadi Simbol Wibawa
Ketua LDA, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, memastikan pihaknya siap menggelar kirab sesuai tradisi yang berlaku. Mereka juga akan membawa sejumlah pusaka dari Sasana Pustaka untuk mengikuti prosesi tersebut.
Bagi keraton, pusaka tidak hanya menyimpan nilai sejarah. Pusaka juga merepresentasikan otoritas, kesinambungan tradisi, dan kehormatan lembaga adat.
Karena itu, setiap keputusan mengenai pusaka selalu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar urusan seremoni.
Perbedaan sikap terkait pusaka yang akan ikut kirab semakin memperlihatkan bahwa masing-masing kubu memegang tafsir berbeda mengenai kewenangan dan legitimasi adat.
Menjaga Solo, Menunda Penyelesaian
KGPH Panembahan Agung Tedjowulan mengaku puas dengan hasil pertemuan tersebut. Ia optimistis seluruh rangkaian kirab dapat berlangsung dalam satu kesatuan rute seperti tahun-tahun sebelumnya.
Optimisme itu memberi harapan bahwa malam 1 Suro akan berlangsung aman. Namun optimisme tersebut belum menjawab pertanyaan terbesar yang terus mengemuka.
Siapa yang sebenarnya memegang legitimasi tertinggi di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat?
Besok malam, pusaka akan keluar dari penyimpanannya. Kebo bule akan kembali melangkah di jalan-jalan Solo. Ribuan warga akan memadati rute kirab untuk menyaksikan tradisi yang telah hidup selama berabad-abad.
Namun di balik suasana sakral itu, Keraton Solo masih memikul persoalan yang sama. Konflik kepemimpinan belum menemukan titik akhir.
Masalah terbesar Keraton Solo hari ini bukan soal siapa yang berjalan paling depan dalam kirab. Masalah terbesarnya adalah siapa yang kelak berhasil memperoleh pengakuan sejarah sebagai pewaris sah takhta Kasunanan Surakarta.
Dan selama pertanyaan itu belum terjawab, setiap malam 1 Suro akan selalu membawa dua iring-iringan sekaligus: kirab pusaka dan kirab panjang perebutan legitimasi. @dimas






