Tabooo.id: Food- Pernah nggak kamu sadar kalau setiap kali bingung mau makan apa, otakmu otomatis memunculkan tiga pilihan ayam geprek, kopi susu, dan… ramen? Aneh memang. Padahal ramen itu bukan comfort food lokal, tapi entah kenapa rasanya nempel banget di hati (dan di aplikasi ojek online).
Fenomena lucu ini bikin kita bertanya-tanya kenapa sih restoran Jepang tumbuh subur di Indonesia kayak skincare baru yang lagi viral? Bahkan saat ekonomi naik-turun, restoran Jepang tetap muncul di mall, di pinggir jalan, sampai di timeline TikTok.
Ternyata, jawabannya lebih menarik dari sekadar “karena enak”.
Fakta Pasar Jepang Memang Menggoda
General Manager of Operation PT Sriboga Matahari Nusantara, Andrias Chandra, mengaku bahwa permintaan makanan Jepang di Indonesia masih sangat besar. Bahkan, ia melihat kompetisi restoran Jepang justru menandakan satu hal orang Indonesia memang cocok dengan cita rasa Jepang.
“Kalau dilihat positifnya, artinya permintaannya ada. Masyarakat Indonesia cocok nih masakan Jepang,” ujarnya.
Selain itu, kelas menengah Indonesia terus tumbuh. Akibatnya, lebih banyak orang punya daya beli untuk nongkrong, makan enak, dan eksplorasi kuliner global.
Andrias yakin selama ekonomi makro stabil, industri F&B akan terus bergerak. Karena itu, Sriboga membawa brand ramen ZUNDO-YA langsung dari Himeji, Jepang, dan membuka outlet pertamanya di Jakarta.
ZUNDO-YA sendiri datang dengan tiga komitmen utama:
- ramen otentik khas Himeji,
- kualitas rasa lembut dan ringan,
- serta komitmen Halal yang bikin pelanggan muslim makan dengan tenang.
CEO ZUNDO-YA, Shinsuka Umaba, bahkan bilang ia bahagia karena akhirnya orang Indonesia bisa menikmati ramen otentik tanpa rasa waswas.

Analisis Ringan: Kenapa Kita Semua Candu Kuliner Jepang?
a. Rasa Aman, Familiar, tapi Tetap Exotic
Masakan Jepang punya formula unik: rasanya ringan, tekniknya rapi, penyajiannya cantik, tapi tetap terasa asing dalam cara yang menyenangkan. Kombinasi ini bikin orang Indonesia merasa aman saat mencoba makanan baru, sekaligus tetap dapat “sensasi luar negeri”.
Ramen lembut seperti ZUNDO-YA, misalnya, cocok untuk lidah lokal yang suka kuah kaya tapi nggak mau yang terlalu menantang.
Kita jadi bisa bilang, “Aku lagi pengen makan Jepang,” padahal sebenarnya kita pengen suasana baru yang tetap terasa dekat.
b. Pengaruh Pop Culture Nggak Main-main
Anime, drama Jepang, sampai food vlogger TikTok punya pengaruh besar. Setiap kali tokoh anime menyeruput ramen dengan suara “slurp” yang maksimal, otak kita langsung mengeluarkan notifikasi “Makan ramen sekarang juga.”
Kekuatan visual ini merembes ke dunia nyata. Akibatnya, kita lebih cepat penasaran dan lebih mudah tergerak untuk mencoba restoran baru.
Industri F&B sudah sangat sadar soal ini, dan mereka mengemas brand Jepang dengan estetika yang semakin relevan cozy, clean, dan fotogenik.
c. Kelas Menengah Mencari Kenyamanan
Ketika ekonomi membaik, orang Indonesia biasanya langsung balik ke kebiasaan lama: makan enak di luar. Makanan Jepang memenuhi kebutuhan itu dengan sempurna.
Harganya variatif (dari murah sampai premium), teksturnya nyaman, dan ambiance restorannya sering bikin kita merasa “lebih dewasa” kayak anak kantor produktif yang lagi healing setelah meeting.
Karena itu, restoran Jepang terus tumbuh. Mereka menangkap kebutuhan emosional kelas menengah butuh hiburan, butuh kenyamanan, dan butuh experience kecil yang bikin hidup terasa lebih teratur.
d. Identitas Brand Menjadi Kunci Berkelanjutan
Andrias menekankan bahwa pelaku F&B harus punya identitas unik untuk bersaing. Dan ini masuk akal. Dengan banyaknya restoran Jepang di Indonesia, pelanggan makin pintar menilai keaslian.
ZUNDO-YA datang membawa ciri khas Himeji yang jelas, dan itu memberi nilai tambah. Brand yang kuat membuat pelanggan merasa mereka nggak sekadar makan ramen mereka mengalami sesuatu.
Ini selaras dengan gaya hidup hari ini: kita mencari makanan yang bisa kita ceritakan, bukan cuma yang bisa kita makan.
Reflektif: Apa Dampaknya Buat Kamu?
Fenomena ramen, sushi, dan restoran Jepang yang makin menjamur bukan sekadar tren kuliner. Ini gambaran sederhana tentang perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia.
Kita hidup di generasi yang mencari rasa baru, tapi tetap butuh kenyamanan. Kita ingin mengenal dunia, tapi tetap ingin merasa dekat dengan rumah. Dan makanan Jepang kebetulan mengisi ruang itu dengan sangat pas.
Buat kamu, fenomena ini mungkin berarti tiga hal:
- Pilihan kuliner makin beragam, jadi kamu bisa eksplorasi tanpa takut kehabisan opsi.
- Kualitas makin meningkat, karena setiap brand bersaing untuk memenangkan hati kamu.
- Kamu semakin sadar bahwa makanan bukan cuma soal perut, tapi soal identitas, pengalaman, dan cara kamu menghadiahi diri setelah hari yang berat.
Pada akhirnya, restoran Jepang yang terus tumbuh menunjukkan bahwa kita semua sedang mencari hal yang sama sesuatu yang hangat, otentik, dekat, tapi tetap bikin hidup terasa sedikit lebih spesial.
Jadi, minggu ini kamu mau makan apa? Kalau tiba-tiba kepikiran ramen… ya itu wajar. Normal banget. Kita semua pernah jadi korban “slurp effect”.@teguh




