Tabooo.id: Otomotif – Coba jujur. Kalau beberapa tahun lalu motor China sering kamu anggap “murah tapi ragu”, sekarang ceritanya mulai beda. Salah satu contohnya QJMotor. Merek asal China ini nggak cuma jualan motor, tapi juga sibuk nongol di lintasan balap internasional. Dari Moto2 sampai World Super Sport, namanya makin sering terdengar. Pertanyaannya, ini cuma strategi branding, atau tanda serius mau naik kelas?
Dari Moto2 ke World Super Sport, QJMotor Ngegas
Musim 2025 jadi momen penting buat QJMotor. Mereka tampil sebagai sponsor tim Moto2 QJMotor Frinsa MSI, setelah sebelumnya juga mendukung Gresini Moto2. Buat brand yang relatif baru di telinga orang Indonesia, langkah ini jelas bukan main-main.
Nggak berhenti di situ, motor sport flagship mereka, SRK 800 RR, sudah mengantongi homologasi untuk turun di ajang World Super Sport (WSS). Dalam dunia otomotif, balap bukan sekadar hobi mahal. Motorsport adalah etalase teknologi, kualitas mesin, dan mental brand. Kalau berani balapan, berarti siap diuji di level tertinggi.
Kenapa Brand China Sekarang Ngebet Masuk Balap?
Fenomena ini menarik kalau dilihat dari sisi lifestyle dan psikologis konsumen. Dulu, banyak orang membeli motor hanya soal harga. Sekarang, identitas dan gengsi ikut bermain. Anak muda ingin produk yang “punya cerita”, punya prestasi, dan terlihat global.
Balap motor menjawab kebutuhan itu. Ketika sebuah brand tampil di Moto2 atau WSS, citranya otomatis naik. Konsumen jadi melihat motor bukan cuma alat transportasi, tapi simbol kecepatan, inovasi, dan keberanian bersaing. QJMotor paham betul pola ini. Mereka sadar, kalau mau lepas dari stigma “motor China”, mereka harus bertarung di arena paling keras.
Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?
Pertanyaan berikutnya sederhana apakah QJMotor Indonesia mau ikut ngegas di lintasan balap lokal atau Asia? Jawabannya iya, tapi belum sekarang.
Budi Kurniawan, VP Branding & Marketing Communication PT QJMotor Industry Indonesia, mengakui bahwa motorsport masuk dalam rencana mereka. Namun, ia juga menegaskan bahwa regulasi dan kecocokan produk masih jadi pekerjaan rumah. Menurutnya, QJMotor sedang mengolah strategi agar langkahnya tepat, bukan sekadar ikut-ikutan.
Saat ini, lini motor sport fairing QJMotor di Indonesia baru diisi dua model SRK 800 RR dan CiTO 150. Secara realistis, belum ada yang benar-benar pas untuk turun balap tahun ini. Namun, mereka sudah melirik 2026 sebagai momentum baru.
SRK 250 dan Harapan Baru
Menariknya, QJMotor berencana meluncurkan motor sport fairing baru di Indonesia tahun depan. Model yang santer disebut adalah SRK 250, dengan harga yang diprediksi di bawah Rp 60 juta. Kalau rumor ini jadi kenyataan, peta persaingan bisa berubah.
Motor sport 250 cc selama ini identik dengan harga tinggi dan brand Jepang. Kehadiran SRK 250 berpotensi membuka opsi baru buat anak muda yang ingin motor sporty, tampilan agresif, tapi tetap ramah kantong. Di sinilah motorsport kembali berperan. Kalau QJMotor berhasil mengaitkan produk ini dengan dunia balap, daya tariknya bisa berlipat.
Lebih dari Sekadar Motor, Ini Soal Identitas
Tren ini menunjukkan perubahan cara kita memandang kendaraan. Motor bukan cuma soal mesin dan spesifikasi, tapi juga narasi. QJMotor mencoba membangun narasi bahwa mereka bukan “brand alternatif”, melainkan pemain global yang berani diuji di lintasan.
Buat Gen Z dan Milenial, narasi ini penting. Kita hidup di era di mana pilihan konsumsi sering berkaitan dengan identitas diri. Pakai motor apa, dukung brand apa, semua punya makna sosial. QJMotor membaca sinyal itu dengan cukup jeli.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Kalau kamu penggemar motor, kehadiran QJMotor di dunia balap berarti satu hal pilihan makin banyak. Persaingan memaksa semua brand meningkatkan kualitas, fitur, dan harga yang lebih masuk akal.
Di sisi lain, kamu juga perlu lebih kritis. Jangan cuma terpukau embel-embel balap, tapi lihat konsistensi produk, layanan purna jual, dan komitmen jangka panjang.
Namun satu hal jelas era motor China yang hanya jadi opsi “murah meriah” perlahan berakhir. Sekarang mereka ingin dipandang sejajar, bahkan menantang. Tinggal kamu yang menentukan, mau ikut gas atau tetap nonton dari pinggir lintasan? @dimas




