Tabooo.id: Regional – Sonalia Safitri tidak tiba-tiba memenangkan gelar Putri Rinjani 2026. Ia datang dengan rencana. Mungkin banyak orang melihat kemenangan sebagai “keberuntungan”. Tapi bagaimana kalau kemenangan itu sebenarnya sudah dirancang diam-diam sejak lama?
Bukan Mimpi Mendadak
Sonalia Safitri, mahasiswi asal Dusun Telaga Segoar, Desa Loloan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, resmi meraih gelar Putri Rinjani 2026. Ia tumbuh jauh dari pusat perhatian, tapi justru datang dengan kesadaran yang tidak semua orang punya, yaitu sebuah arah.
Ia mengaku, langkahnya bukan spontan. Ia sudah memikirkan ini sejak 2024.
“Menjadi Putri Rinjani bukan sebuah mimpi bagi saya, melainkan sebuah perjalanan… saya sudah merencanakan sejak 2024,” ujar Sonalia kepada Tabooo.id, Selasa (07/04/2026) . “Waktu itu saya datang menyaksikan penganugerahan, lalu sempat foto dengan para winner. Dalam hati saya bilang, ‘foto dulu sama para winner, siapa tahu nanti kebagian jadi winner selanjutnya’,” imbuhnya.
Dan kalimat itu bukan sekadar harapan. Tahun ini, ia benar-benar berdiri di posisi yang dulu hanya ia bayangkan.
Identitasnya Adalah Sebuah Fakta
Dikenal sebagai “Nona Ambarwati”, Sonalia membawa identitas yang tidak dibuat-buat. Ia menempuh pendidikan di UIN Mataram, jurusan Pariwisata Syariah, sekaligus bekerja sebagai pemandu wisata profesional bersertifikasi nasional.
Ia aktif dalam berbagai organisasi seperti Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia, Himpunan Pramuwisata Indonesia, hingga komunitas perempuan pendaki Rinjani Women Adventure. Ia bahkan menjadi instruktur termuda di bidang kepemanduan di Nusa Tenggara Barat.
Prestasi Itu Nyata, Tapi Tanggung Jawabnya?
Namun, bagi Sonalia, gelar ini bukan sekadar pencapaian.
“Banyak yang bilang ini prestasi, dan memang benar. Tapi di balik kata prestasi, ada banyak tanggung jawab. Menurut saya, ini prestasi yang harus dijalankan dengan konsekuensi,” katanya.
Ia tidak berhenti pada gelar. Ia sadar, sorotan publik berarti ekspektasi yang ikut naik.
Perempuan Desa Diremehkan?
Di sela aktivitasnya, ia juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Gumi Torean Foundation, fokus pada pengembangan generasi muda di desanya. Ia terlibat dalam edukasi dan kampanye lingkungan, terutama di kawasan Rinjani.
Menariknya, ketika isu perempuan desa sering dipandang sebelah mata, Sonalia justru melihatnya dengan perspektif yang lebih sadar.
“Saya sendiri jarang mendengar diremehkan, karena sebelum ke kota saya sudah melakukan analisis bagaimana harus tampil. Tapi kalau bicara soal perempuan desa diremehkan, itu memang masih sering terjadi,” ungkapnya.
Bukan Sebuah Keberuntungan
Ini bukan cerita “perempuan desa yang beruntung”. Melainkan sebuah kisah tentang seseorang yang diam-diam sudah menyiapkan dirinya, sementara dunia “mungkin” masih sibuk meragukan.
Kisah Nona Ambarwati ini penting untuk diketahui, karena sering kali kita hanya menunggu “momen yang tepat”, padahal orang lain sudah mulai berjalan sejak kamu masih ragu.
Terlebih lagi, narasi sukses seringkali disederhanakan menjadi “kerja keras + keberuntungan”. Padahal realitanya lebih kompleks, ada kesadaran, ada strategi, ada keberanian membaca situasi.
Sonalia tidak sekadar percaya diri. Ia melakukan analisis. Ia memahami medan. Ia menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas. Dan di situ letak perbedaannya.
Masalahnya, tidak semua orang mau mengakui itu. Lebih mudah menyebutnya “beruntung” daripada mengakui bahwa ia memang siap.
Mungkin Hari Ini Bukan Puncak
Kalau kemenangan Sonalia sudah dirancang sejak dua tahun lalu, mungkin yang kita lihat hari ini bukan puncak, tapi hanya satu hasil dari proses yang selama ini dia jalani, tapi tidak kita perhatikan. Mungkin, puncaknya masih nanti.
Lalu, bagaimana denganmu? Kamu masih mengandalkan keberuntungan atau mulai menyusun perjalananmu sendiri? @tabooo






