Tabooo.id: Global – Ribuan warga Iran kembali turun ke jalan di berbagai kota besar dan kecil. Teheran menjadi pusatnya, tetapi gaung protes menjalar hingga wilayah barat dan perbatasan Irak. Aksi yang awalnya dipicu krisis ekonomi kini berubah menjadi tuntutan politik terbuka mengakhiri republik teokrasi yang telah berkuasa lebih dari empat dekade.
Sejak akhir Desember 2025, warga dari berbagai latar belakang muda dan tua, kelas menengah hingga elite turut memadati jalan. Mereka menyuarakan kemarahan yang selama ini terpendam, terutama akibat biaya hidup yang melonjak dan nilai mata uang yang terus anjlok. Di titik ini, protes tak lagi sekadar soal harga bahan pokok, melainkan soal masa depan negara.
Dari Dompet Kosong ke Keberanian Melawan Rezim
Gelombang protes bermula dari mogok massal pedagang di pasar besar Teheran pada 28 Desember 2025. Anjloknya nilai rial memukul keras kehidupan sehari-hari, terutama bagi pedagang kecil dan pekerja sektor informal. Tak lama kemudian, kemarahan itu merembet ke kampus-kampus.
Pemerintah merespons cepat dengan menutup universitas, dengan alasan cuaca dingin. Namun, langkah itu justru memicu kecurigaan publik. Protes terlanjur menyebar dan menguat, terutama di wilayah barat Iran, yang selama ini dikenal lebih kritis terhadap pusat kekuasaan.
Akibatnya, ketidakpuasan lama soal kebebasan politik, korupsi, dan inflasi tinggi kembali mencuat ke permukaan.
Suara Jalanan yang Semakin Berani
Berbeda dari gelombang protes sebelumnya, warga kali ini menunjukkan keberanian baru. Sina, warga Karaj berusia 29 tahun, menggambarkan bagaimana orang-orang mulai berbicara lantang menentang rezim bahkan di siang hari. Menurutnya, momentum protes belum mereda meski aparat meningkatkan tekanan.
Seorang perempuan muda di Teheran mengaku ikut turun ke jalan karena merasa masa depannya dirampas. Ia menyebut hidup di Iran kini terasa tanpa arah dan harapan.
“Kami masih punya suara untuk berteriak,” ujarnya dikutip dari BBC.
Keluhan serupa muncul dari berbagai kota. Warga merasa hidup dalam ketidakpastian berkepanjangan, terjepit antara tuntutan ekonomi dan pembatasan politik yang kian ketat.
Elite Ikut Bergerak, Retakan Makin Terlihat
Protes kali ini juga menembus lingkaran elite. Seorang perempuan di kota Ilam menceritakan bagaimana anak-anak dari keluarga yang berafiliasi dengan pemerintah ikut bergabung dalam aksi, bahkan tanpa sepengetahuan orang tua mereka yang bekerja di institusi negara.
Fenomena ini memperlihatkan retakan serius di tubuh sosial Iran. Ketika loyalitas elite mulai goyah, rezim menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar demonstrasi jalanan.
Di sisi lain, massa pro-pemerintah juga turun ke jalan di sejumlah kota untuk membela Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Kehadiran dua kubu di ruang publik menegaskan polarisasi yang semakin tajam.
Dari “Azadi” ke Seruan Kembalinya Monarki
Slogan “Azadi, Azadi” kembali menggema, mengingatkan publik pada protes 2022 akibat kematian Mahsa Amini. Namun, kali ini muncul nada baru. Seruan “Pahlavi akan kembali” terdengar di sejumlah aksi, merujuk pada Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979.
Reza Pahlavi secara terbuka menyerukan rakyat Iran untuk turun ke jalan pada 8 Januari 2026. Sejak itu, dukungan terhadap gagasan pemulihan monarki mulai menguat, terutama di kalangan generasi muda yang frustrasi terhadap sistem saat ini.
Sebagian warga melihat Pahlavi sebagai simbol alternatif, meski tak sedikit pula yang menekankan bahwa persatuan rakyat lebih penting daripada sosok tertentu.
Pemerintah Menuding Asing, Publik Menuntut Jawaban
Presiden Iran Masoud Pezeshkian akhirnya angkat bicara. Ia menuding kekerasan dalam aksi protes melibatkan aktor asing yang ingin menciptakan kekacauan. Pemerintah, menurutnya, menghadapi upaya sistematis untuk merusak stabilitas nasional.
Meski begitu, Pezeshkian juga menyatakan kesiapan pemerintah mendengarkan suara rakyat dan menyelesaikan persoalan ekonomi yang memicu kemarahan publik. Pernyataan ini datang di tengah laporan korban tewas yang terus bertambah dan tekanan internasional yang meningkat.
Antara Janji Stabilitas dan Kemarahan Rakyat
Kini, Iran berada di persimpangan jalan. Warga yang paling terdampak pedagang kecil, mahasiswa, dan kelas menengah terus menekan rezim agar berubah. Sementara itu, pemerintah berupaya menjaga stabilitas dengan kombinasi narasi ancaman asing dan janji perbaikan ekonomi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah protes ini akan berhenti, melainkan ke mana arahnya. Sebab, ketika tuntutan ekonomi berubah menjadi tuntutan sistem, jalan pulang biasanya tak lagi sederhana.
Dan di jalan-jalan Iran, teriakan “kebebasan” kini terdengar lebih seperti ultimatum daripada sekadar keluhan. @dimas




