Produk taktikal Indonesia mulai menarik perhatian militer Yordania. Delegasi Jordanian Armed Forces (JAF) mengunjungi kantor PT Molay Satrya Indonesia di Jakarta Selatan, Sabtu (19/09/2026).
Tabooo.id: Jakarta – Dalam kunjungan tersebut, JAF meminta beberapa sampel produk taktikal Indonesia dari PT Molay Satrya Indonesia. Mereka memilih tactical boots, kain desain loreng, topi, hingga battle guard untuk kebutuhan evaluasi.
Presiden Direktur PT Molay Satrya Indonesia Arie Setya Yudha mengatakan JAF menunjukkan respons positif setelah melihat produk Molay.
“Setelah melakukan kunjungan, JAF menunjukkan ketertarikan dan respon positif. Mereka sedang meminta beberapa sample produk.”
Produk Taktikal Indonesia: Bukan Cuma Boots, Ada Ujian Standar
Molay memperkenalkan BDU atau Battle Dress Uniform bersama sejumlah perlengkapan taktikal lainnya.
Arie mengatakan tactical boots menjadi salah satu produk unggulan Molay. Selama sekitar lima tahun, TNI menggunakan produk tersebut untuk mendukung kebutuhan mereka.
“Salah satu produk yang diperkenalkan adalah tactical boots yang telah menjadi produk unggulan Molay dan selama sekitar lima tahun dipercaya untuk mendukung kebutuhan TNI.”
Kini, Molay menghadapi kebutuhan yang berbeda. Jordan memiliki kondisi geografis, iklim, medan, serta kebutuhan operasional yang tidak sama dengan Indonesia.
Karena itu, Molay perlu menyesuaikan material, desain, kenyamanan, dan daya tahan produk dengan kebutuhan JAF.
JAF Minta Produk yang Sesuai Medan
Brigadir Jenderal JAF sekaligus Director of Logistic Supply Mohammad Almahaireh melihat peluang kerja sama setelah mengunjungi fasilitas Molay.
“Setelah melakukan kunjungan ke Molay, kami senang mengetahui bahwa Molay sudah berkembang pesat dan bisa mengembangkan produk sesuai custom. Dari sini tentu peluang kerja sama akan terbuka.”
Almahaireh juga menjelaskan bahwa Jordan membutuhkan perlengkapan taktikal yang sesuai dengan kebutuhan pasukan, kondisi iklim, medan, serta spesifikasi nasional mereka.
Artinya, JAF tidak sekadar melihat tampilan produk. Mereka juga perlu menguji kemampuan Molay dalam mengikuti kebutuhan spesifik pengguna militer.
Hubungan Indonesia-Yordania Sudah Punya Jalur
Penjajakan Molay dengan JAF muncul ketika Indonesia dan Yordania terus memperkuat kerja sama pertahanan.
Kementerian Pertahanan mencatat kedua negara menandatangani kerja sama pertahanan pada April 2025. Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan sumber daya manusia, latihan bersama, serta kerja sama industri pertahanan.
Kerja sama itu kemudian berlanjut melalui berbagai agenda pendidikan dan pelatihan militer. Kementerian Pertahanan juga mencatat peningkatan kerja sama kedua negara sepanjang 2025 hingga 2026.
Dalam konteks tersebut, kunjungan JAF ke Molay memberi dimensi baru: hubungan antarpemerintah mulai membuka ruang bagi komunikasi industri.
Industri Dalam Negeri Tak Cukup Jago di Kandang Sendiri
Pengamat pertahanan Khairul Fahmi sebelumnya menyoroti pentingnya memperkuat kapasitas industri pertahanan dalam negeri agar Indonesia tidak berhenti pada aktivitas perakitan.
Ia menilai pemerintah perlu menyelaraskan kebutuhan TNI dengan kemampuan industri domestik sekaligus menciptakan kepastian pasar bagi pelaku industri.
Kajian akademik juga mencatat bahwa ekspor dapat mendorong investasi, inovasi, dan pertumbuhan industri pertahanan. Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada komponen impor, kapasitas sumber daya manusia, kesinambungan pesanan domestik, serta keterbatasan anggaran riset dan pengembangan.
Karena itu, peluang Molay di Yordania tidak hanya berbicara soal satu perusahaan. Jika proses ini berlanjut, industri tekstil teknis, manufaktur, material, tenaga kerja, hingga riset produk taktikal ikut mendapat ruang berkembang.
Sampel Bukan Kontrak
Ini bagian yang tidak boleh dilewatkan. JAF memang meminta sampel dan delegasi juga menyatakan ketertarikan terhadap kemampuan Molay mengembangkan produk sesuai kebutuhan.
Namun, sampel belum berarti kontrak. Molay masih harus melewati proses evaluasi, pengujian spesifikasi, kesesuaian kebutuhan, hingga kemungkinan pembahasan kerja sama lanjutan.
Di titik ini, kualitas produk saja tidak cukup. Molay juga perlu membuktikan konsistensi produksi, kemampuan memenuhi spesifikasi, kapasitas pasokan, serta daya saing harga.
Yang Diuji Bukan Cuma Produk
Kunjungan JAF memberi sinyal awal. Tetapi pintu pasar Timur Tengah baru benar-benar terbuka jika sampel berubah menjadi produk yang lolos pengujian dan kerja sama yang konkret. Jika ekspansi ini berhasil, efeknya tidak berhenti di kantor Molay.
Permintaan ekspor dapat mendorong produksi, membuka kebutuhan tenaga kerja, memperluas rantai pasok, dan memacu pengembangan material serta desain produk di dalam negeri.
Namun, Indonesia perlu melihat peluang ini sebagai proses jangka panjang. Bukan sekadar bangga karena produk lokal dilirik, tetapi memastikan produk lokal mampu bertahan ketika standar global mulai mengetuk pintu. @teguh







