Presiden Prabowo Subianto menghadiri syukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Tabooo.id: Ponorogo – Ribuan santri memenuhi jalan menuju Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Mereka menyambut Presiden Prabowo Subianto yang datang untuk menghadiri Syukuran 100 Tahun Gontor.
Prabowo mengenakan safari krem, peci hitam, dan kacamata hitam. Ia melambaikan tangan kepada para santri.
Sesekali, Prabowo mengepalkan tangan mengikuti irama lagu Maju Tak Gentar. Lagu itu mengiringi rombongan Presiden menuju lokasi acara.
Pemandangan tersebut memberi warna tersendiri pada perayaan satu abad Gontor. Di satu sisi, Presiden hadir sebagai kepala negara. Di sisi lain, ribuan santri menyambutnya dari lingkungan pendidikan yang telah bertahan selama satu abad.
Gontor Memasuki Usia Satu Abad
Prabowo kemudian memasuki ruangan utama untuk mengikuti acara syukuran. Kali ini, ia mengenakan baju koko putih, peci hitam, dan celana hitam.
Pondok Modern Darussalam Gontor menggelar puncak peringatan satu abad pada 18-20 September 2026. Panitia menyiapkan sejumlah agenda untuk menandai perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut.
Rangkaian acara mencakup Khotmul Qur’an, sujud syukur, resepsi kesyukuran, malam ukhuwah, senam bersama, dan Reuni Akbar.
Panitia memperkirakan sekitar 8.776 tamu akan mengikuti rangkaian kegiatan utama.
Namun, jumlah peserta terus berkembang menjelang puncak acara. Riza Azhari, Ketua Pelaksana Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG, menyebut antusiasme alumni meningkat sejak persiapan dimulai.
“Rangkaian puncak 100 tahun dimulai hari Jumat. Kita awali dengan khotmul Qur’an,” kata Riza dalam keterangan yang dirilis Jumat (18/9/2026).
Menurut Riza, kegiatan tersebut melibatkan seluruh pondok, pondok alumni, UNIDA putra dan putri, serta alumni yang belum dapat hadir langsung di Gontor.
Ketika Puluhan Ribu Orang Kembali
Sejak Jumat, suasana Gontor berubah menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
Santri mengikuti rangkaian kegiatan di lingkungan pondok. Pada saat yang sama, para alumni berdatangan dari berbagai daerah.
Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan seremoni. Mereka kembali ke tempat yang pernah membentuk perjalanan pendidikan mereka.
Karena itu, peringatan satu abad Gontor tidak berhenti pada angka 100.
Angka tersebut menjadi penanda perjalanan sebuah lembaga yang telah melewati pergantian generasi. Setiap generasi membawa pengalaman sendiri, tetapi mereka tetap bertemu pada satu titik: Gontor.
Di sinilah makna reuni menjadi lebih besar.
Alumni tidak sekadar mengulang kenangan. Mereka juga membawa kembali cerita tentang kehidupan setelah keluar dari pondok.
Ada yang menjadi pendidik, ada yang bergerak di bidang usaha dan ada pula yang mengabdi di berbagai ruang sosial.
Gontor kemudian menjadi titik temu dari perjalanan tersebut.
Presiden Masuk ke Ruang Perayaan
Kehadiran Prabowo menambah dimensi kenegaraan dalam momentum satu abad Gontor.
Presiden hadir ketika komunitas pesantren dan alumni berkumpul dalam jumlah besar. Ia menyaksikan langsung suasana perayaan di lingkungan pondok.
Namun, sorotan pagi itu tidak hanya tertuju kepada Presiden.
Barisan santri, lagu Maju Tak Gentar, dan mobil Maung membentuk satu adegan yang kuat. Adegan itu mempertemukan simbol negara dengan tradisi pendidikan pesantren.
Pertemuan tersebut menunjukkan posisi pesantren dalam ruang sosial Indonesia.
Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama. Banyak pesantren juga membangun jaringan alumni yang kemudian bergerak di berbagai bidang kehidupan.
Gontor memperlihatkan gambaran itu melalui perayaan satu abadnya.
Setelah Perayaan, Apa yang Tersisa?
Pada Sabtu malam, Gontor menyiapkan dua agenda bagi alumni. Panitia membagi peserta berdasarkan angkatan.
Malam ukhuwah di BPPM mengangkat tema tahadduts bin ni’mah. Sementara itu, malam keakraban menghadirkan penampilan musik.
Ahmad menjelaskan bahwa kedua agenda tersebut akan berlangsung secara bersamaan dengan konsep berbeda.
Rangkaian peringatan kemudian berlanjut pada Minggu (20/9).
Gontor akan menggelar senam bersama dan Reuni Akbar mulai pukul 08.00 WIB. Agenda tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian peringatan satu abad.
Namun, penutupan acara tidak otomatis mengakhiri cerita.
Satu abad Gontor justru membuka pertanyaan baru. Apa yang akan terjadi setelah generasi yang merayakan usia 100 tahun ini kembali ke daerah masing-masing?
Pertanyaan itu penting karena umur sebuah lembaga tidak hanya bergantung pada lamanya waktu.
Ia juga bergantung pada manusia yang meneruskan nilai, tradisi, dan pengetahuannya.
Karena itu, satu abad Gontor bukan sekadar perayaan masa lalu.
Ini juga menjadi titik untuk melihat masa depan.
Presiden datang, santri menyambut, alumni berkumpul. Setelah semua rangkaian selesai, Gontor akan kembali menjalani rutinitasnya.
Namun, jejak satu abad tetap tinggal.
Dan di situlah pertanyaan sebenarnya bermula ketika perayaan selesai, nilai apa yang akan dibawa pulang oleh generasi berikutnya? @dimas








