Tabooo.id: Global – Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump. Ia menilai Washington kini menjauh dari semangat kerja sama internasional yang selama puluhan tahun menopang stabilitas global.
Dalam pandangannya, kebijakan AS tidak lagi memperkuat tatanan dunia, tetapi justru menggerusnya. Steinmeier menegaskan, perubahan arah ini berisiko melemahkan solidaritas transatlantik yang menjadi fondasi politik global pascaperang.
Peringatan dari Berlin
Steinmeier menyampaikan kritik tersebut dalam sebuah simposium di Berlin, pada Rabu (8/1/2026) malam. Dalam pidato yang jarang ia sampaikan secara terbuka, ia mengingatkan dunia agar tidak membiarkan tatanan internasional berubah menjadi “lubang perampok”.
Ia menggambarkan kondisi itu sebagai situasi ketika negara kuat bebas mengambil keuntungan tanpa menghormati keadilan, hukum internasional, dan norma bersama. Menurutnya, dunia tidak boleh tunduk pada logika kekuatan semata.
Sekutu Lama, Nilai yang Memudar
Steinmeier menilai kebijakan luar negeri AS saat ini mencerminkan kemunduran nilai dari sekutu utama Eropa. Ia menyebut Washington sebagai salah satu arsitek tatanan dunia pascaperang yang kini justru melemahkan bangunan yang pernah ia dirikan sendiri.
Ia menautkan kebijakan Trump dengan meningkatnya ketidakpastian global. Steinmeier menyinggung langkah AS terhadap Venezuela yang memicu kecaman luas dari komunitas internasional. Baginya, kebijakan tersebut menunjukkan berkurangnya komitmen AS terhadap kerja sama multilateral.
Seruan Menjaga Aturan Global
Dalam pidatonya, Steinmeier menyerukan keterlibatan lebih luas dari negara-negara besar lain. Ia menyebut Brasil dan India sebagai contoh kekuatan global yang perlu ikut menjaga hukum internasional.
Menurut Steinmeier, dunia tidak bisa lagi menggantungkan stabilitas global pada satu negara. Ia menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif untuk mencegah runtuhnya tatanan berbasis aturan.
Kepercayaan Publik Jerman Tergerus
Kritik Steinmeier mencerminkan kegelisahan yang berkembang di Eropa. Survei terbaru dari broadcaster publik Jerman menunjukkan sekitar 76 persen warga Jerman menilai AS tidak lagi dapat diandalkan sebagai mitra strategis.
Sebaliknya, hanya sekitar 15 persen responden yang masih menaruh kepercayaan pada AS. Banyak warga Jerman kini merasa lebih dekat dan bergantung pada negara-negara Eropa lain, seperti Prancis dan Inggris.
Sejumlah pemimpin Eropa juga mulai menyuarakan sikap serupa. Mereka menilai kebijakan luar negeri AS yang berfokus pada kepentingan domestik telah melemahkan semangat multilateral dan solidaritas internasional.
Dampak Nyata bagi Dunia
Ketegangan hubungan transatlantik tidak berhenti di level diplomasi. Ketidakpastian ini memengaruhi pasar, kebijakan keamanan, dan arah kerja sama global. Negara-negara kecil dan berkembang menjadi pihak yang paling rentan.
Selama ini, negara-negara tersebut bergantung pada sistem multilateral untuk menjaga stabilitas dan keamanan. Ketika aturan global melemah, mereka menghadapi risiko terbesar dalam persaingan kekuatan besar.
Sektor strategis seperti perdagangan, teknologi, dan lingkungan juga ikut terdampak. Ketika AS mengedepankan agenda “Amerika dulu”, negara lain terpaksa menyesuaikan kebijakan ekonomi dan diplomasi mereka.
Refleksi Akhir
Pernyataan terbuka Steinmeier menandai babak baru ketegangan hubungan AS dan Eropa. Kritik itu bukan sekadar perbedaan politik, melainkan peringatan tentang rapuhnya tatanan dunia.
Di balik jargon kedaulatan dan kepentingan nasional, tersimpan ironi yang tajam. Ketika negara adidaya sibuk mengamankan kepentingannya sendiri, dampak terbesarnya justru dirasakan oleh mereka yang paling lemah warga dunia yang berharap aturan tetap lebih kuat daripada kekuasaan. @dimas




