Pilot Malaysia Airlines positif narkotika setelah membawa puluhan ribu ekstasi. Kasus ini memicu kekhawatiran terhadap keselamatan penerbangan.
Tabooo.id: Jakarta – Sebuah koper berisi 70.114 butir ekstasi senilai sekitar Rp60 miliar mengguncang dunia penerbangan Asia Tenggara. Namun, ancaman terbesar dalam kasus ini bukan hanya penyelundupan narkotika. Seorang pilot aktif diduga juga mengonsumsi sabu.
Kasus itu memunculkan pertanyaan yang jauh lebih serius. Seberapa aman seorang pilot menerbangkan pesawat ketika narkotika menguasai kesadaran dan pengambilan keputusannya?
Petugas Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta menangkap pilot Malaysia Airlines, Mohd Saufi bin Othman (39), saat membawa puluhan ribu butir ekstasi dari Kuala Lumpur menuju Jakarta. Pemeriksaan lanjutan juga menemukan sekitar empat gram sabu yang diduga akan ia konsumsi sendiri.
Temuan tersebut langsung mengubah arah pembahasan. Aparat kini tidak hanya membongkar jaringan penyelundupan narkotika, tetapi juga menyoroti ancaman terhadap keselamatan penerbangan.
Pilot Harus Mengambil Keputusan dalam Hitungan Detik
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menegaskan bahwa narkotika dapat menurunkan kemampuan berpikir seorang pilot. Obat-obatan terlarang juga mengganggu konsentrasi dan memperlambat proses pengambilan keputusan.
Menurut Soerjanto, kondisi itu sangat berbahaya. Pilot harus mengambil keputusan penting hanya dalam hitungan detik ketika menghadapi situasi darurat.
“Kalau dia juga pengguna, akan berpengaruh sekali terhadap kemampuan berpikir kognitifnya dan proses pengambilan keputusan,” ujar Soerjanto.
Dalam dunia penerbangan, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi kecelakaan besar. Karena itu, kondisi fisik dan mental pilot menjadi bagian penting dari sistem keselamatan.
Jaringan Narkoba Terus Mencari Celah
Kasus Mohd Saufi bukan kejadian pertama. Indonesia beberapa kali membongkar penyelundupan narkotika yang memanfaatkan jalur penerbangan.
Pada 2024, kurir narkoba melibatkan seorang karyawan maskapai Lion Air untuk menyelundupkan sabu dan ekstasi melalui Bandara Soekarno-Hatta.
Sebelumnya, pada 2017, petugas kargo di Bandara Ngurah Rai membantu meloloskan 14 kilogram sabu dari Malaysia. Pelaku mengatur agar paket tidak melewati pemeriksaan sinar-X sebelum diterbangkan ke Jakarta.
Rangkaian kasus itu menunjukkan pola yang sama. Jaringan narkotika terus memanfaatkan profesi yang memiliki akses khusus di bandara dan maskapai.
Sistem Pengawasan Harus Bergerak Lebih Cepat
KNKT menilai setiap maskapai sudah memiliki Aviation Security (Avsec). Selain itu, Avsec juga bekerja sama dengan Komite Nasional Keamanan Penerbangan (KNKP), kepolisian, dan Kementerian Perhubungan.
Namun, Soerjanto meminta seluruh pihak memperkuat koordinasi intelijen. Langkah itu penting agar petugas dapat mendeteksi penyelundupan yang melibatkan pilot, awak kabin, maupun pekerja bandara sejak awal.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta juga memastikan akan memperketat pengawasan.
Assistant Deputy Communication & Legal Bandara Soekarno-Hatta, Yudistiawan, mengatakan pihaknya mendukung seluruh proses penegakan hukum. Pengelola bandara juga terus memperkuat pengawasan bersama seluruh pemangku kepentingan.
Pemeriksaan Pilot Dipertanyakan
Ketua Umum Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (Apjapi), Alvin Lie, menilai kasus ini membuka kelemahan dalam sistem pemeriksaan kesehatan pilot di Malaysia.
Menurut Alvin, seorang pilot profesional wajib menjalani pemeriksaan kesehatan setiap enam bulan. Namun, pemeriksaan berkala belum cukup untuk mendeteksi pengguna narkotika.
Ia mendorong maskapai dan otoritas penerbangan menerapkan random drug test sebelum penerbangan. Pemeriksaan acak akan mempersempit peluang pilot menyembunyikan kebiasaan menggunakan narkotika.
Alvin juga mempertanyakan sistem pemeriksaan bagasi di Malaysia. Puluhan ribu butir ekstasi berhasil lolos hingga masuk ke bagasi seorang kru penerbangan.
Sebaliknya, Indonesia mewajibkan seluruh bagasi keluar melewati pemeriksaan sinar-X. Pemeriksaan itu bertujuan mendeteksi barang berbahaya, termasuk narkotika dan senjata.
Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Reputasi Maskapai
Kasus ini memperlihatkan dua ancaman sekaligus. Pertama, jaringan narkotika terus mencari jalur distribusi yang sulit terdeteksi. Kedua, keselamatan penerbangan ikut terancam ketika pilot diduga menjadi pengguna narkotika.
Kepercayaan publik terhadap transportasi udara lahir dari disiplin, kesehatan kru, dan pengawasan yang ketat. Jika salah satu unsur itu gagal bekerja, seluruh sistem ikut melemah.
Ini bukan sekadar perkara seorang pilot yang membawa narkotika. Kasus ini memperlihatkan bahwa keamanan penerbangan tidak hanya bergantung pada teknologi modern. Sistem itu juga bergantung pada manusia yang duduk di balik kokpit.
Sebab, ketika seorang pilot kehilangan kejernihan berpikir, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi maskapai. Ratusan nyawa ikut berada dalam satu keputusan yang salah. @dimas








