Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perpustakaan Gratis Hanya Meminta Orang Mau Membaca Buku

by teguh
Agustus 4, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, satu kebiasaan perlahan menghilang tanpa banyak disadari yaitu, membaca buku. Waktu yang dulu orang habiskan untuk membuka halaman demi halaman buku kini bergeser menjadi guliran tanpa henti di layar ponsel.

Tabooo.id – Namun, di sudut Kota Surakarta, Jawa Tengah, Perpustakaan Ganesa tetap menjaga kebiasaan itu. Pengelolanya tidak menjual buku, tidak menarik biaya keanggotaan, bahkan membebaskan siapa pun meminjam koleksi yang tersedia. Mereka hanya berharap masyarakat masih mau datang dan membaca buku.

Harapan itu terdengar sederhana. Di tengah budaya digital hari ini, justru itulah yang terasa paling mahal.

Literasi Lahir dari Kepedulian, Bukan Perhitungan Bisnis

Sejak 2010, Perpustakaan Ganesa menjalankan misi sederhana menumbuhkan minat baca masyarakat Surakarta dan sekitarnya. Para pengelola membuka seluruh layanan tanpa memungut biaya agar siapa pun dapat menikmati buku.

Manager Perpustakaan Ganesa, Ibu Candra, menjelaskan bahwa Pak Michael dan Bu Debra dari Ohio, Amerika Serikat, menggagas perpustakaan ini bersama dengan pemilik Batik Pria Tampan di Solo.

“Perpustakaan Ganesa didirikan tahun 2010. Founder-nya ada Pak Michael dan Bu Debra dari Ohio, Amerika Serikat, yang berkolaborasi dengan pemilik gedung ini, yaitu pemilik Batik Pria Tampan. Gedung ini diberikan full support tempat tanpa biaya sewa untuk fasilitasi kegiatan literasi.”

Kolaborasi itu melahirkan ruang belajar yang tetap bertahan hingga sekarang. Ketika banyak layanan publik memasang tarif, Perpustakaan Ganesa justru memilih membuka pintunya secara cuma-cuma.

Ini Belum Selesai

30 Menit Anak-anak Najaten Melawan Jarak

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

Perpustakaan Gratis Hanya Meminta Orang Mau Membaca Buku
Manager Opersional Perpustakaan Ganesa Solo Ibu Candra (Kanan) dan Salah Satu Staff Administrasi

Buku Menjadi Alasan Orang-Orang Bertemu

Perpustakaan ini tidak hanya menyimpan ribuan buku. Setiap Sabtu, anak-anak memenuhi ruang depan untuk mengikuti kegiatan mendongeng. Mahasiswa membuka laptop sambil memanfaatkan WiFi gratis. Relawan membantu berbagai kegiatan literasi, sedangkan mahasiswa magang menerjemahkan buku impor agar lebih banyak orang dapat membacanya.

Setiap orang datang dengan tujuan yang berbeda. Namun perpustakaan mempertemukan mereka dalam ruang belajar yang sama.

Suasananya jauh dari hiruk pikuk, Algoritma media sosial tidak mengatur bacaan pengunjung, Iklan juga tidak berebut perhatian karena yang tumbuh justru percakapan, rasa ingin tahu, dan pengetahuan.

Pandemi Mengubah Kebiasaan Membaca

Pandemi COVID-19 ikut mengubah cara masyarakat memanfaatkan perpustakaan.

Sebelum pandemi, lebih dari seratus orang datang setiap hari. Kini jumlah itu turun menjadi sekitar 20 hingga 50 pengunjung.

Ibu Candra Manager Operasional Perpustakaan Ganesa Solo masih mengingat perubahan tersebut.

“Sebelum pandemi, kunjungan bisa lebih dari 100 orang per hari. Tapi setelah pandemi, pola masyarakat berubah, jadi rata-rata kunjungan sekarang sekitar 20 sampai 50 pengunjung per hari.”

Perubahan itu menunjukkan satu kenyataan. Masyarakat tidak berhenti mencari informasi.Mereka hanya mengubah cara mengaksesnya dan sebagian memilih layar ponsel.

Sebagian lainnya membiarkan algoritma menentukan apa yang mereka baca setiap hari. Ironisnya, ketika informasi datang tanpa henti, kemampuan untuk membaca secara mendalam justru semakin melemah.

Menjaga Buku Berarti Menjaga Kesempatan Orang Lain

Mengelola perpustakaan gratis bukan pekerjaan mudah.

Keterbatasan anggaran menghambat penambahan koleksi baru. Di sisi lain, sebagian peminjam belum mengembalikan buku yang mereka bawa pulang.

Karena itu, pengelola mulai menerapkan aturan denda keterlambatan sebesar Rp500 per hari untuk setiap kartu anggota sejak awal 2026.

Ibu Candra menjelaskan,

“Untuk jam operasional kita buka Senin sampai Sabtu mengikuti manajemen pabrik, Minggu kita libur. Mengenai peminjaman, maksimal buku dipinjam 20 hari. Sejak awal 2026 ini kami mulai memberlakukan denda keterlambatan sebesar Rp500 per hari per kartu untuk meningkatkan kedisiplinan peminjam.”

Nominalnya memang kecil namun tujuan aturan itu bukan menambah pemasukan. Pengelola ingin setiap buku segera kembali ke rak agar pembaca lain juga memperoleh kesempatan yang sama.

Kolaborasi Menjadi Cara Merawat Literasi

Perpustakaan Ganesa tidak menunggu masyarakat datang. Pengelola aktif mengadakan berbagai kegiatan literasi.

Mereka rutin menggelar Storytelling setiap Sabtu untuk anak-anak, membuka kelas Ganesa English Speaking, menggandeng Read Aloud Solo Raya dan Maybank, serta menerima mahasiswa magang dari Program Studi Sastra Inggris maupun Ilmu Perpustakaan.

Ibu Candra mengatakan,

“Kita ada program rutin seperti Storytelling atau mendongeng untuk anak-anak TK dan SD setiap hari Sabtu jam 11 siang, serta Ganesa English Speaking untuk latihan bahasa Inggris. Kami juga berkolaborasi dengan komunitas seperti Read Aloud Solo Raya, perbankan seperti Maybank, hingga menerima mahasiswa magang dari Sastra Inggris dan Ilmu Perpustakaan untuk bantu penerjemahan buku impor serta kelola sirkulasi.”

Melalui berbagai kegiatan itu, perpustakaan tidak sekadar mengajak orang membaca. Pengelola juga membangun kebiasaan belajar bersama.

Kepercayaan Menjadi Modal Terbesar

Di tengah dunia yang semakin transaksional, Perpustakaan Ganesa tetap mengandalkan kepercayaan.

Pengelola yakin buku akan kembali ke rak. Mereka juga percaya anak-anak masih ingin mendengar cerita.

Harapan yang sama tumbuh kepada masyarakat yang rela menyumbangkan koleksi buku tanpa meminta imbalan.

Lebih dari semuanya, mereka meyakini membaca masih mampu mengubah kehidupan seseorang.

Keyakinan sederhana itulah yang membuat perpustakaan ini tetap hidup selama lebih dari satu dekade.

Membaca Masih Menjadi Bentuk Perlawanan

Perpustakaan Ganesa memang tidak memiliki gedung megah. Pengelola juga tidak melengkapi setiap sudut dengan teknologi mutakhir.

Namun kesederhanaan itulah yang mengingatkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya bergantung pada jalan raya, pusat perbelanjaan, atau internet berkecepatan tinggi.

Sebuah kota juga membutuhkan ruang yang memelihara rasa ingin tahu. Ruang itu mempertemukan manusia dengan pengetahuan.

Ruang itu menghidupkan harapan bahwa budaya membaca belum benar-benar hilang.

Selama anak-anak masih datang setiap Sabtu, mahasiswa tetap belajar di antara rak buku, relawan terus menyumbangkan waktu, dan masyarakat masih berbagi koleksi bacaan, harapan itu akan tetap menyala.

Perpustakaan Ganesa tidak pernah meminta bayaran. Pengelolanya hanya mengajak masyarakat melakukan satu hal yang kini semakin langka yaitu, Membuka buku, lalu membacanya. @teguh

Tags: Budaya MembacaBudaya ScrollHuman StoryLiterasi DigitalLiterasi IndonesiaPerpustakaan GaneshaPerpustakaan GratisSolo

Kamu Melewatkan Ini

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

by eko
Agustus 21, 2026

Rajamala menempuh perjalanan dari Canthik hingga menjadi ikon Solo. Namun, seberapa jauh masyarakat memahami cerita dan makna di balik wajah...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Ketika Regenerasi Putus, Budaya Bisa Kehilangan Masa Depannya

Ketika Regenerasi Putus, Budaya Bisa Kehilangan Masa Depannya

by eko
Agustus 20, 2026

Wayang Potehi kembali hidup di Solo. Namun, pelestarian tidak cukup dengan membuka panggung. Budaya membutuhkan generasi yang mau belajar dan...

Next Post
Perpustakaan Buku: Tempat Healing yang Sering Dilupakan

Perpustakaan Buku: Tempat Healing yang Sering Dilupakan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id