Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, satu kebiasaan perlahan menghilang tanpa banyak disadari yaitu, membaca buku. Waktu yang dulu orang habiskan untuk membuka halaman demi halaman buku kini bergeser menjadi guliran tanpa henti di layar ponsel.
Tabooo.id – Namun, di sudut Kota Surakarta, Jawa Tengah, Perpustakaan Ganesa tetap menjaga kebiasaan itu. Pengelolanya tidak menjual buku, tidak menarik biaya keanggotaan, bahkan membebaskan siapa pun meminjam koleksi yang tersedia. Mereka hanya berharap masyarakat masih mau datang dan membaca buku.
Harapan itu terdengar sederhana. Di tengah budaya digital hari ini, justru itulah yang terasa paling mahal.
Literasi Lahir dari Kepedulian, Bukan Perhitungan Bisnis
Sejak 2010, Perpustakaan Ganesa menjalankan misi sederhana menumbuhkan minat baca masyarakat Surakarta dan sekitarnya. Para pengelola membuka seluruh layanan tanpa memungut biaya agar siapa pun dapat menikmati buku.
Manager Perpustakaan Ganesa, Ibu Candra, menjelaskan bahwa Pak Michael dan Bu Debra dari Ohio, Amerika Serikat, menggagas perpustakaan ini bersama dengan pemilik Batik Pria Tampan di Solo.
“Perpustakaan Ganesa didirikan tahun 2010. Founder-nya ada Pak Michael dan Bu Debra dari Ohio, Amerika Serikat, yang berkolaborasi dengan pemilik gedung ini, yaitu pemilik Batik Pria Tampan. Gedung ini diberikan full support tempat tanpa biaya sewa untuk fasilitasi kegiatan literasi.”
Kolaborasi itu melahirkan ruang belajar yang tetap bertahan hingga sekarang. Ketika banyak layanan publik memasang tarif, Perpustakaan Ganesa justru memilih membuka pintunya secara cuma-cuma.

Buku Menjadi Alasan Orang-Orang Bertemu
Perpustakaan ini tidak hanya menyimpan ribuan buku. Setiap Sabtu, anak-anak memenuhi ruang depan untuk mengikuti kegiatan mendongeng. Mahasiswa membuka laptop sambil memanfaatkan WiFi gratis. Relawan membantu berbagai kegiatan literasi, sedangkan mahasiswa magang menerjemahkan buku impor agar lebih banyak orang dapat membacanya.
Setiap orang datang dengan tujuan yang berbeda. Namun perpustakaan mempertemukan mereka dalam ruang belajar yang sama.
Suasananya jauh dari hiruk pikuk, Algoritma media sosial tidak mengatur bacaan pengunjung, Iklan juga tidak berebut perhatian karena yang tumbuh justru percakapan, rasa ingin tahu, dan pengetahuan.
Pandemi Mengubah Kebiasaan Membaca
Pandemi COVID-19 ikut mengubah cara masyarakat memanfaatkan perpustakaan.
Sebelum pandemi, lebih dari seratus orang datang setiap hari. Kini jumlah itu turun menjadi sekitar 20 hingga 50 pengunjung.
Ibu Candra Manager Operasional Perpustakaan Ganesa Solo masih mengingat perubahan tersebut.
“Sebelum pandemi, kunjungan bisa lebih dari 100 orang per hari. Tapi setelah pandemi, pola masyarakat berubah, jadi rata-rata kunjungan sekarang sekitar 20 sampai 50 pengunjung per hari.”
Perubahan itu menunjukkan satu kenyataan. Masyarakat tidak berhenti mencari informasi.Mereka hanya mengubah cara mengaksesnya dan sebagian memilih layar ponsel.
Sebagian lainnya membiarkan algoritma menentukan apa yang mereka baca setiap hari. Ironisnya, ketika informasi datang tanpa henti, kemampuan untuk membaca secara mendalam justru semakin melemah.
Menjaga Buku Berarti Menjaga Kesempatan Orang Lain
Mengelola perpustakaan gratis bukan pekerjaan mudah.
Keterbatasan anggaran menghambat penambahan koleksi baru. Di sisi lain, sebagian peminjam belum mengembalikan buku yang mereka bawa pulang.
Karena itu, pengelola mulai menerapkan aturan denda keterlambatan sebesar Rp500 per hari untuk setiap kartu anggota sejak awal 2026.
Ibu Candra menjelaskan,
“Untuk jam operasional kita buka Senin sampai Sabtu mengikuti manajemen pabrik, Minggu kita libur. Mengenai peminjaman, maksimal buku dipinjam 20 hari. Sejak awal 2026 ini kami mulai memberlakukan denda keterlambatan sebesar Rp500 per hari per kartu untuk meningkatkan kedisiplinan peminjam.”
Nominalnya memang kecil namun tujuan aturan itu bukan menambah pemasukan. Pengelola ingin setiap buku segera kembali ke rak agar pembaca lain juga memperoleh kesempatan yang sama.
Kolaborasi Menjadi Cara Merawat Literasi
Perpustakaan Ganesa tidak menunggu masyarakat datang. Pengelola aktif mengadakan berbagai kegiatan literasi.
Mereka rutin menggelar Storytelling setiap Sabtu untuk anak-anak, membuka kelas Ganesa English Speaking, menggandeng Read Aloud Solo Raya dan Maybank, serta menerima mahasiswa magang dari Program Studi Sastra Inggris maupun Ilmu Perpustakaan.
Ibu Candra mengatakan,
“Kita ada program rutin seperti Storytelling atau mendongeng untuk anak-anak TK dan SD setiap hari Sabtu jam 11 siang, serta Ganesa English Speaking untuk latihan bahasa Inggris. Kami juga berkolaborasi dengan komunitas seperti Read Aloud Solo Raya, perbankan seperti Maybank, hingga menerima mahasiswa magang dari Sastra Inggris dan Ilmu Perpustakaan untuk bantu penerjemahan buku impor serta kelola sirkulasi.”
Melalui berbagai kegiatan itu, perpustakaan tidak sekadar mengajak orang membaca. Pengelola juga membangun kebiasaan belajar bersama.
Kepercayaan Menjadi Modal Terbesar
Di tengah dunia yang semakin transaksional, Perpustakaan Ganesa tetap mengandalkan kepercayaan.
Pengelola yakin buku akan kembali ke rak. Mereka juga percaya anak-anak masih ingin mendengar cerita.
Harapan yang sama tumbuh kepada masyarakat yang rela menyumbangkan koleksi buku tanpa meminta imbalan.
Lebih dari semuanya, mereka meyakini membaca masih mampu mengubah kehidupan seseorang.
Keyakinan sederhana itulah yang membuat perpustakaan ini tetap hidup selama lebih dari satu dekade.
Membaca Masih Menjadi Bentuk Perlawanan
Perpustakaan Ganesa memang tidak memiliki gedung megah. Pengelola juga tidak melengkapi setiap sudut dengan teknologi mutakhir.
Namun kesederhanaan itulah yang mengingatkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya bergantung pada jalan raya, pusat perbelanjaan, atau internet berkecepatan tinggi.
Sebuah kota juga membutuhkan ruang yang memelihara rasa ingin tahu. Ruang itu mempertemukan manusia dengan pengetahuan.
Ruang itu menghidupkan harapan bahwa budaya membaca belum benar-benar hilang.
Selama anak-anak masih datang setiap Sabtu, mahasiswa tetap belajar di antara rak buku, relawan terus menyumbangkan waktu, dan masyarakat masih berbagi koleksi bacaan, harapan itu akan tetap menyala.
Perpustakaan Ganesa tidak pernah meminta bayaran. Pengelolanya hanya mengajak masyarakat melakukan satu hal yang kini semakin langka yaitu, Membuka buku, lalu membacanya. @teguh








