Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Akan Berakhir, Apa Dampaknya?

by dimas
Februari 3, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat, New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), resmi berakhir pada Kamis (5/2/2026). Berakhirnya kesepakatan ini sekaligus menutup salah satu pilar terakhir pembatasan senjata strategis antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Rusia dan Amerika Serikat menandatangani New START di Praha pada 2010, lalu mulai memberlakukannya pada 5 Februari 2011. Perjanjian ini menggantikan START I 1991 dan Perjanjian Pengurangan Serangan Strategis (SORT) 2002. Selama lebih dari satu dekade, kedua negara menjadikan New START sebagai fondasi utama untuk mengendalikan senjata nuklir strategis yang mampu menyerang pusat politik, militer, dan industri vital lawan.

Melalui kesepakatan tersebut, Washington dan Moskwa sepakat membatasi pengerahan hulu ledak nuklir strategis maksimal 1.550 unit untuk masing-masing pihak. Selain itu, kedua negara juga membatasi jumlah rudal balistik antarbenua, rudal kapal selam, dan pesawat pengebom hingga tidak lebih dari 700 unit, dengan total 800 peluncur.

Kini, ketika masa berlaku perjanjian berakhir dan belum ada kesepakatan pengganti, dunia memasuki babak baru ketidakpastian.

Setengah Abad Kendali Nuklir di Ujung Tanduk

Mengutip laporan Reuters, penghentian kepatuhan bersama AS dan Rusia terhadap batasan New START berpotensi mengakhiri lebih dari 50 tahun upaya pembatasan senjata nuklir strategis. Selama periode itu, berbagai perjanjian berperan sebagai penyangga agar perlombaan senjata tidak kembali ke pola keras era Perang Dingin.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Para pendukung pengendalian senjata menilai hilangnya New START langsung meningkatkan risiko nuklir global. Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena ketegangan geopolitik terus meningkat, terutama akibat perang Rusia-Ukraina dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

New START tidak hanya menetapkan angka batasan. Perjanjian ini juga membangun mekanisme transparansi melalui inspeksi mendadak di lokasi strategis. Dengan skema tersebut, masing-masing pihak dapat memverifikasi kepatuhan lawannya. Selama bertahun-tahun, mekanisme ini menjadi alat penting untuk menjaga kepercayaan minimum di tengah rivalitas.

Namun pada 2023, Presiden Rusia Vladimir Putin menangguhkan partisipasi Moskwa sebagai respons atas dukungan militer AS kepada Ukraina. Keputusan itu menghentikan inspeksi timbal balik dan memaksa kedua negara bergantung pada penilaian intelijen masing-masing.

Meski begitu, hingga menjelang berakhirnya perjanjian, baik Washington maupun Moskwa tidak menuduh satu sama lain melampaui batas jumlah hulu ledak.

Mengapa Tak Ada Perpanjangan?

Teks New START hanya memberi ruang satu kali perpanjangan. Kesempatan tersebut sudah digunakan pada 2021, tak lama setelah Joe Biden menjabat sebagai Presiden AS. Dengan demikian, secara hukum, kedua negara memang tidak dapat memperpanjang perjanjian ini lagi.

Menyadari kekosongan yang muncul, Putin sempat mengusulkan agar Rusia dan AS secara informal tetap mematuhi batasan hulu ledak selama satu tahun ke depan. Usulan itu bertujuan menahan lonjakan persenjataan sekaligus membuka ruang dialog baru.

Namun hingga kini, Presiden AS Donald Trump belum menyampaikan sikap resmi atas tawaran tersebut.

Di Washington, perdebatan internal berlangsung tajam. Sebagian kalangan mendorong penerimaan usulan Rusia sebagai sinyal komitmen untuk mencegah perlombaan senjata baru. Di sisi lain, kelompok penentang menilai AS justru perlu membebaskan diri dari batasan lama guna mempercepat modernisasi arsenal, terutama untuk mengantisipasi pertumbuhan pesat kekuatan nuklir China.

Yang Paling Terdampak: Publik Global

Berakhirnya New START bukan sekadar urusan elite politik dan militer. Dampaknya merambat langsung ke rasa aman masyarakat dunia. Ketika dua negara pemilik lebih dari 90 persen hulu ledak nuklir global tidak lagi terikat kerangka pembatasan formal, risiko salah perhitungan, eskalasi, dan perlombaan senjata meningkat tajam.

Negara-negara non-nuklir, terutama di kawasan rawan konflik, menempati posisi paling rentan. Mereka tidak memiliki kendali atas tombol peluncur, namun harus menanggung konsekuensi jika ketegangan berubah menjadi bencana.

Dunia kini bergerak di zona abu-abu nuklir tidak sepenuhnya tanpa aturan, tetapi juga tanpa pagar yang kokoh. Pertanyaannya, apakah para pemimpin global belajar dari sejarah atau justru bersiap mengulangnya dengan senjata yang jauh lebih mematikan? @dimas

Tags: ASGeopolitikGlobalInternasionalKeamanan NegaraKrisis GlobalNuklirPolitik IndonesiaRusiasenjata

Kamu Melewatkan Ini

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

Tan Malaka vs Soekarno-Hatta: Pertarungan Kuasa di Awal Republik

by Tabooo
Juni 8, 2026

Di awal berdirinya republik, Tan Malaka menuntut Merdeka 100%, sementara Soekarno-Hatta memilih jalan negara, pengakuan internasional, dan kalkulasi politik yang...

Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabil atau Berbahaya?

Demokrasi Tanpa Oposisi: Stabil atau Berbahaya?

by dimas
Juni 8, 2026

Demokrasi membutuhkan pengawasan. Namun ketika oposisi melemah, apakah suara rakyat masih memiliki wakil yang kuat? Tabooo.id - Langit demokrasi tidak...

Next Post
Kronologi Bahar bin Smith Aniaya Anggota Banser

Iman, Kuasa, dan Pukulan: Membaca Kasus Bahar bin Smith Lebih Dalam

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id