Tabooo.id: Global – Perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat, New Strategic Arms Reduction Treaty (New START), resmi berakhir pada Kamis (5/2/2026). Berakhirnya kesepakatan ini sekaligus menutup salah satu pilar terakhir pembatasan senjata strategis antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.
Rusia dan Amerika Serikat menandatangani New START di Praha pada 2010, lalu mulai memberlakukannya pada 5 Februari 2011. Perjanjian ini menggantikan START I 1991 dan Perjanjian Pengurangan Serangan Strategis (SORT) 2002. Selama lebih dari satu dekade, kedua negara menjadikan New START sebagai fondasi utama untuk mengendalikan senjata nuklir strategis yang mampu menyerang pusat politik, militer, dan industri vital lawan.
Melalui kesepakatan tersebut, Washington dan Moskwa sepakat membatasi pengerahan hulu ledak nuklir strategis maksimal 1.550 unit untuk masing-masing pihak. Selain itu, kedua negara juga membatasi jumlah rudal balistik antarbenua, rudal kapal selam, dan pesawat pengebom hingga tidak lebih dari 700 unit, dengan total 800 peluncur.
Kini, ketika masa berlaku perjanjian berakhir dan belum ada kesepakatan pengganti, dunia memasuki babak baru ketidakpastian.
Setengah Abad Kendali Nuklir di Ujung Tanduk
Mengutip laporan Reuters, penghentian kepatuhan bersama AS dan Rusia terhadap batasan New START berpotensi mengakhiri lebih dari 50 tahun upaya pembatasan senjata nuklir strategis. Selama periode itu, berbagai perjanjian berperan sebagai penyangga agar perlombaan senjata tidak kembali ke pola keras era Perang Dingin.
Para pendukung pengendalian senjata menilai hilangnya New START langsung meningkatkan risiko nuklir global. Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena ketegangan geopolitik terus meningkat, terutama akibat perang Rusia-Ukraina dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
New START tidak hanya menetapkan angka batasan. Perjanjian ini juga membangun mekanisme transparansi melalui inspeksi mendadak di lokasi strategis. Dengan skema tersebut, masing-masing pihak dapat memverifikasi kepatuhan lawannya. Selama bertahun-tahun, mekanisme ini menjadi alat penting untuk menjaga kepercayaan minimum di tengah rivalitas.
Namun pada 2023, Presiden Rusia Vladimir Putin menangguhkan partisipasi Moskwa sebagai respons atas dukungan militer AS kepada Ukraina. Keputusan itu menghentikan inspeksi timbal balik dan memaksa kedua negara bergantung pada penilaian intelijen masing-masing.
Meski begitu, hingga menjelang berakhirnya perjanjian, baik Washington maupun Moskwa tidak menuduh satu sama lain melampaui batas jumlah hulu ledak.
Mengapa Tak Ada Perpanjangan?
Teks New START hanya memberi ruang satu kali perpanjangan. Kesempatan tersebut sudah digunakan pada 2021, tak lama setelah Joe Biden menjabat sebagai Presiden AS. Dengan demikian, secara hukum, kedua negara memang tidak dapat memperpanjang perjanjian ini lagi.
Menyadari kekosongan yang muncul, Putin sempat mengusulkan agar Rusia dan AS secara informal tetap mematuhi batasan hulu ledak selama satu tahun ke depan. Usulan itu bertujuan menahan lonjakan persenjataan sekaligus membuka ruang dialog baru.
Namun hingga kini, Presiden AS Donald Trump belum menyampaikan sikap resmi atas tawaran tersebut.
Di Washington, perdebatan internal berlangsung tajam. Sebagian kalangan mendorong penerimaan usulan Rusia sebagai sinyal komitmen untuk mencegah perlombaan senjata baru. Di sisi lain, kelompok penentang menilai AS justru perlu membebaskan diri dari batasan lama guna mempercepat modernisasi arsenal, terutama untuk mengantisipasi pertumbuhan pesat kekuatan nuklir China.
Yang Paling Terdampak: Publik Global
Berakhirnya New START bukan sekadar urusan elite politik dan militer. Dampaknya merambat langsung ke rasa aman masyarakat dunia. Ketika dua negara pemilik lebih dari 90 persen hulu ledak nuklir global tidak lagi terikat kerangka pembatasan formal, risiko salah perhitungan, eskalasi, dan perlombaan senjata meningkat tajam.
Negara-negara non-nuklir, terutama di kawasan rawan konflik, menempati posisi paling rentan. Mereka tidak memiliki kendali atas tombol peluncur, namun harus menanggung konsekuensi jika ketegangan berubah menjadi bencana.
Dunia kini bergerak di zona abu-abu nuklir tidak sepenuhnya tanpa aturan, tetapi juga tanpa pagar yang kokoh. Pertanyaannya, apakah para pemimpin global belajar dari sejarah atau justru bersiap mengulangnya dengan senjata yang jauh lebih mematikan? @dimas







