Tabooo.id: Regional – Nama Syafiq Ridhan Ali Razhan sempat menghilang dari peta pendakian. Namun, hingga kini, ia tetap hidup dalam ingatan keluarga, relawan, dan warga di sekitar Gunung Slamet. Setelah 17 hari pencarian tanpa henti, tim akhirnya menemukan pendaki asal Magelang itu. Sayangnya, kepastian datang bersama duka. Syafiq meninggal dunia di jalur Gunung Malang, wilayah Purbalingga.
Dengan temuan itu, pencarian berakhir. Namun, bagi keluarga, perjalanan emosional justru memasuki fase penerimaan.
Keluarga Hanya Ingin Kepastian, Bukan Sensasi
Dokter telah memperkirakan waktu kematian Syafiq. Bagi keluarga, informasi ini tidak bertujuan membuka luka baru. Sebaliknya, mereka hanya membutuhkan kepastian sederhana untuk menentukan hari tahlil. Setelah doa panjang dan ikhtiar tanpa jeda, keluarga akhirnya memilih ikhlas.
Karena alasan itu pula, mereka menolak otopsi. Tidak ada tuntutan. Tidak ada tudingan. Keluarga menutup semua dengan penerimaan yang tenang.
Pendakian Kedua yang Menjadi Terakhir
Dari cerita sang ayah, Dani Rusman, terungkap fakta penting. Syafiq bukan pendaki berpengalaman. Gunung Andong menjadi pendakian pertamanya. Setelah itu, ia memilih Gunung Slamet sebagai gunung kedua dan ternyata, yang terakhir.
Lebih jauh, rencana pendakian pun berubah di tengah jalan. Awalnya, Syafiq pamit untuk mendaki Gunung Sumbing. Namun, entah karena dorongan spontan atau perubahan keputusan, ia justru berbelok ke Gunung Slamet. Pilihan singkat itu kemudian menjadi titik balik hidupnya.
Pesan Pendek, Peringatan Panjang
Sebelum hilang kontak, Syafiq sempat mengirim pesan kepada ibunya. Pesan itu kini menjadi kenangan paling pilu.
“Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet.”
Kalimat singkat tersebut menyimpan makna besar. Ia menjadi alarm keras tentang risiko pendakian tanpa persiapan matang, terutama bagi pendaki pemula yang kerap meremehkan medan.
Tak Ada yang Untung, Semua Belajar
Lalu, siapa yang diuntungkan dari tragedi ini? Tidak ada. Namun demikian, masyarakat mendapat pelajaran mahal. Gunung bukan sekadar tempat mencari konten atau pelarian sesaat. Ia menuntut perencanaan serius, izin yang jelas, restu orang tua, serta kesiapan fisik dan mental.
Sebaliknya, kerugian tampak nyata. Keluarga kehilangan anak. Relawan mengorbankan tenaga dan waktu. Alam kembali menjadi saksi bisu duka manusia.
Ikhtiar Tanpa Pamrih di Tengah Cuaca Buruk
Selama 15 hari pencarian, tim SAR gabungan, relawan, dan warga Desa Clekatakan bergerak tanpa pamrih. Menyusuri jalur terjal, tim SAR gabungan bersama relawan naik turun gunung siang dan malam, menembus hujan serta badai. Tanpa mengejar sensasi, seluruh upaya itu mereka lakukan demi satu tujuan sederhana: membawa pulang satu nama yang lama hilang.
Di sisi lain, isu miring soal kronologi dan keterangan teman Syafiq langsung ditutup keluarga. Mereka menolak prasangka. “Saya sudah ikhlas,” ujar Dani. Di tengah duka, keluarga memilih menjaga kemanusiaan.
Catatan Sunyi dari Gunung Slamet
Syafiq memang telah pergi. Namun, kisahnya tertinggal sebagai peringatan keras. Satu keputusan spontan bisa berdampak seumur hidup bagi banyak orang. Maka, sebelum melangkah ke gunung berikutnya, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: kita benar-benar siap, atau sekadar merasa berani? (red)




