Tabooo.id: Global – Misi perdamaian seharusnya melindungi. Namun di Lebanon, justru nyawa melayang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kini mengungkap fakta awal yang memicu pertanyaan besar seberapa aman pasukan penjaga perdamaian?
PBB menyebut peluru tank Merkava milik Israel menewaskan Kopral Dua (Anumerta) Farizal Rhomadhon. Tim investigasi menemukan bukti itu langsung di lokasi ledakan.
Arah Tembakan Teridentifikasi
Pusat Informasi PBB (UNIC) Jakarta merilis pernyataan pada Rabu (8/4/2026). Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric menyampaikan hasil analisis awal dari New York.
“Analisis lokasi dampak dan fragmen proyektil menunjukkan peluru kaliber 120 milimeter berasal dari tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel yang menembak dari arah timur,” ujar Dujarric.
PBB sebelumnya sudah mengirim koordinat lengkap posisi UNIFIL kepada militer Israel pada 6 dan 22 Maret. Tujuannya jelas mencegah salah sasaran.
Namun, tembakan tetap terjadi.
Serangan Beruntun Hantam Kontingen RI
Insiden ini tidak berdiri sendiri. Rangkaian serangan terjadi dalam waktu berdekatan.
Pada 30 Maret, ledakan lain menewaskan prajurit TNI. PBB menduga kelompok Hizbullah memasang IED di lokasi tersebut.
“Karakter ledakan dan konteks kejadian mengarah pada IED yang kemungkinan dipasang Hizbullah,” kata Dujarric.
Sehari kemudian, kendaraan Kontingen Garuda melintas dan menyentuh kawat pemicu ranjau darat. Ledakan langsung terjadi.
Insiden itu menewaskan:
- Mayor (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar
- Sersan Kepala (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan
Dua prajurit lain mengalami luka.
Serangan belum berhenti. Ledakan kembali mengguncang fasilitas UNIFIL di El-Adeisse dan melukai tiga anggota TNI.
Indonesia Desak Investigasi Terbuka
Indonesia langsung bereaksi. Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, meminta penyelidikan menyeluruh dan transparan.
“Kami menuntut penyelidikan langsung oleh PBB, bukan sekadar penjelasan dari Israel,” tegasnya.
Ia juga menilai serangan berulang Israel ke wilayah Lebanon mengancam stabilitas global. Menurutnya, tindakan tersebut berpotensi masuk kategori kejahatan perang dalam hukum internasional.
Misi Damai di Zona yang Tak Lagi Aman
Situasi di lapangan semakin kompleks. Militer Israel bahkan sempat memblokade konvoi logistik UNIFIL dan menahan satu penjaga perdamaian.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menilai tindakan itu melanggar hukum internasional secara terang-terangan.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa rangkaian insiden ini menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap pasukan perdamaian.
Di saat yang sama, operasi militer Israel di Lebanon selatan terus berlangsung dan memperbesar risiko bagi personel PBB.
Investigasi Berjalan, Risiko Tetap Nyata
PBB masih melanjutkan investigasi penuh untuk mengungkap seluruh fakta. Mereka melibatkan berbagai pihak agar bisa memahami konteks kejadian secara utuh.
Namun satu hal sudah terlihat jelas pasukan yang datang membawa misi damai justru berdiri di garis paling berbahaya.
Kalau penjaga perdamaian saja bisa menjadi target, lalu siapa yang benar-benar aman di tengah konflik ini? @dimas







