Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PDI-P Angkat Isu Ekologi dan Pilkada dalam Rakernas di Ancol

by dimas
Januari 10, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 yang dirangkai dengan rapat kerja nasional (Rakernas) pada Sabtu (10/1/2026) hingga Senin (12/1/2026). Agenda ini berlangsung di Beach City International Stadium (BCIA), Ancol, Jakarta, dan menjadi momentum penting konsolidasi partai di awal tahun politik 2026.

Rakernas kali ini tidak berhenti pada seremoni ulang tahun. PDI-P memanfaatkan forum tersebut untuk merumuskan sikap politik dan membedah isu strategis yang berdampak langsung pada kehidupan publik. Isu krisis ekologis, wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah, hingga arah politik nasional dan global masuk dalam daftar pembahasan utama.

Krisis Lingkungan Menguatkan Alarm Politik

PDI-P menempatkan isu kerusakan lingkungan sebagai sorotan utama Rakernas. Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menyebut krisis ekologis telah memicu bencana beruntun di berbagai daerah. Banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera menjadi contoh paling nyata.

Hasto mengungkapkan bahwa partainya menerima banyak masukan agar pemerintah menetapkan status bencana nasional di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menilai langkah tersebut dapat mempercepat penanganan sekaligus membuka kesadaran publik bahwa bencana tidak hadir secara tiba-tiba. Menurutnya, kebijakan konversi hutan selama bertahun-tahun ikut memperparah kerentanan lingkungan.

Sebagai respons politik, PDI-P berencana membentuk subkomisi khusus yang fokus menangani isu ekologi dan lingkungan hidup. Hasto menegaskan langkah ini sejalan dengan perhatian Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri terhadap isu perubahan iklim global. Ia juga menyinggung pertemuan Megawati dengan mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore sebagai bagian dari dialog lintas negara soal krisis iklim.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Pilkada Lewat DPRD Kembali Diperbincangkan

Selain isu lingkungan, Rakernas membuka kembali diskusi soal mekanisme pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Wacana ini mencuat setelah sejumlah kader daerah menyuarakan evaluasi terhadap pilkada langsung. Mereka menilai sistem tersebut menyedot biaya besar dan kerap memicu konflik politik di tingkat lokal.

Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira menegaskan bahwa partai belum mengambil keputusan resmi. Ia menyatakan sikap final baru akan muncul setelah Rakernas menyepakati arah politiknya. Pernyataan ini menunjukkan PDI-P masih menghitung dampak perubahan sistem pilkada terhadap demokrasi, partisipasi publik, dan stabilitas pemerintahan daerah.

Bagi masyarakat, wacana ini bukan sekadar perdebatan elite. Mekanisme pilkada menyentuh langsung hak memilih warga dan menentukan relasi kekuasaan di tingkat lokal.

Menentukan Sikap di Tengah Tekanan Nasional dan Global

Rakernas juga menjadi ruang bagi PDI-P untuk menetapkan sikap politik terhadap berbagai isu strategis lain. Hasto menyebut partai akan membahas persoalan geopolitik, tekanan ekonomi global, penegakan hukum, hingga agenda pemberantasan korupsi. Semua isu tersebut, kata dia, berkaitan langsung dengan tanggung jawab kerakyatan partai.

Melalui forum ini, PDI-P ingin menegaskan perannya sebagai partai penyeimbang di tengah dinamika kekuasaan nasional. Hasto menekankan bahwa partainya memilih fokus pada kerja nyata di tengah masyarakat, terutama saat publik masih menghadapi tekanan ekonomi dan dampak bencana alam.

Tema Ideologis dan Konsolidasi Internal

Rakernas PDI-P tahun ini mengusung tema “Satyam Eva Jayate” dengan subtema “Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya”. Hasto menjelaskan tema tersebut menegaskan komitmen partai pada nilai kebenaran, keberpihakan kepada rakyat, dan keberanian bersikap kritis di tengah pragmatisme politik.

Agenda dimulai dengan perayaan HUT ke-53 PDI-P pada Sabtu (10/1/2026), lalu berlanjut dengan Rakernas hingga Senin (12/1/2026). Forum ini dihadiri jajaran pengurus pusat dan daerah, anggota DPR dan DPRD Fraksi PDI-P, serta kepala dan wakil kepala daerah yang diusung partai.

Rakernas ini juga menindaklanjuti hasil Kongres ke-VI PDI-P yang digelar pada Agustus 2025. Karena itu, keputusan yang lahir dari Ancol diharapkan menjadi panduan arah politik partai dalam menghadapi kontestasi dan tantangan ke depan.

Di tengah sorotan publik terhadap isu lingkungan, pilkada, dan ekonomi, Rakernas PDI-P tidak lagi sekadar agenda internal. Forum ini akan menguji apakah konsolidasi politik mampu menjawab keresahan rakyat. Di dalam stadion, arah disusun rapi. Namun di luar Ancol, publik menunggu satu hal sederhana: keputusan yang benar-benar berpihak, bukan sekadar slogan ulang tahun. @dimas

Tags: DemokrasiIsuKebijakanKonsolidasiLingkunganPartaipdipPilkadaPolitik IndonesiaRakernasSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Next Post
Indonesia dan Turki Sepakati Perluasan Kerja Sama Pertahanan Jangka Panjang

Indonesia dan Turki Sepakati Perluasan Kerja Sama Pertahanan Jangka Panjang

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id