Tabooo.id: Vibes – Ada yang berbeda dari cara orang Solo menunggu azan magrib. Sebagian memilih scroll TikTok sampai baterai 5 persen, sementara yang lain berburu takjil di pinggir jalan. Di sudut yang lebih tenang, beberapa orang justru melangkah ke pojok utara alun-alun, duduk di antara tumpukan buku berdebu, lalu tenggelam dalam halaman-halaman menguning.
Ramadan selalu membawa ritme yang melambat. Kota terasa lebih teduh, dan waktu bergerak lebih jinak. Karena itu, tempat-tempat sunyi menemukan momentumnya. Salah satunya Pasar Buku Gladak yang orang kenal sebagai Taman Buku dan Majalah di sisi utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Di sana, ngabuburit berubah menjadi pertemuan kecil antara manusia dan kata-kata. Orang membuka buku, membolak-balik halaman, lalu membiarkan cerita bekerja pelan di kepala mereka.
Jejak 1980-an yang Masih Bernapas
Sejak 1980-an, para pedagang menjaga denyut Pasar Buku Gladak dengan koleksi yang beragam. Mereka menata buku anak-anak, novel klasik, komik lama, kamus, hingga majalah yang kini sulit ditemukan. Setiap rak memuat potongan zaman yang berbeda.
Meski toko daring terus bermunculan, pasar ini tetap berdiri dengan caranya sendiri. Para pedagang tidak mengejar konsep estetik atau desain kekinian. Sebaliknya, mereka mempertahankan rak kayu, lorong sempit, dan tumpukan buku yang menjulang. Kesederhanaan itu justru menjadi identitas.
Harga yang ramah semakin memperkuat daya tariknya. Dengan Rp5.000 hingga Rp35.000, siapa pun bisa membawa pulang bacaan. Karena itu, membaca terasa inklusif dan membumi, bukan aktivitas eksklusif yang mahal.
Ketika Viral Menghidupkan Kembali
Beberapa bulan lalu, seorang kreator TikTok merekomendasikan Pasar Buku Gladak sebagai hidden gem literasi di Solo. Video singkat itu menyebar cepat dan memantik rasa penasaran. Anak muda pun berdatangan, bukan hanya untuk membuat konten, tetapi juga untuk merasakan suasananya secara langsung.
Fenomena ini menghadirkan ironi yang menarik. Media sosial kerap dituduh menurunkan minat baca, tetapi kali ini justru mendorong orang datang ke kios buku bekas. Rasa ingin tahu membawa mereka masuk, sementara pengalaman yang hangat membuat sebagian kembali lagi.
Kios-kios biasanya buka sekitar pukul 10 pagi dan mulai tutup menjelang pukul 4 sore. Walau jumlah pengunjung tak selalu membludak, aktivitas jual beli tetap berjalan. Seorang pembeli menemukan novel lama yang lama ia cari, sementara yang lain tersenyum saat melihat komik masa kecilnya. Di setiap sudut, selalu ada cerita kecil yang tercipta.
Ramadan dan Jeda yang Disengaja
Memasuki Ramadan, ritme pasar ikut berubah. Siang hari terasa lebih lengang karena banyak orang memilih beristirahat. Namun menjelang sore, suasana perlahan menghangat.
Saat matahari turun dan cahaya berubah keemasan, beberapa pengunjung datang untuk mengisi waktu sebelum berbuka. Mereka berjalan pelan di antara rak, menyentuh sampul buku, lalu membaca beberapa paragraf. Tanpa tergesa, mereka menikmati jeda.
Berbeda dari kafe yang riuh, pasar buku menawarkan ketenangan yang intim. Tidak ada musik keras atau antrean panjang. Yang terdengar hanya suara halaman dibalik dan percakapan pelan antar pembeli. Karena itu, ngabuburit di sini terasa lebih reflektif.
Ramadan memang mengajarkan orang untuk menahan diri. Selain menahan lapar dan dahaga, banyak yang belajar mengurangi distraksi. Dalam konteks itu, buku bekas menjadi teman yang setia: sunyi, namun penuh makna.
Kota, Algoritma, dan Kebetulan
Solo selalu memelihara keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Mal dan coffee shop tumbuh di berbagai sudut kota, sementara keraton dan pasar tradisional tetap kokoh menjaga akar budaya. Pasar Buku Gladak berdiri di pertemuan dua arus tersebut.
Di era algoritma, aplikasi sering menentukan bacaan berdasarkan riwayat pencarian. Sebaliknya, di pasar buku bekas, orang menemukan judul lewat kebetulan. Mereka membuka satu buku, lalu tergoda oleh sampul lain di rak sebelah. Rasa ingin tahu memimpin langkah, bukan sistem rekomendasi.
Buku bekas juga menyimpan jejak pemilik sebelumnya. Kadang ada nama yang tertulis di halaman pertama, kadang ada coretan kecil di tepi paragraf. Detail-detail itu menghadirkan lapisan cerita tambahan, seolah pembaca ikut masuk dalam perjalanan yang lebih panjang.
Refleksi Tabooo: Melambat sebagai Sikap
Di tengah budaya serba cepat, Pasar Buku Gladak mengajak orang mengambil jeda secara sadar. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tetapi ia setia menunggu mereka yang ingin melambat.
Ramadan memperjelas makna tersebut. Saat orang menata ulang prioritas hidup, sebagian memilih membaca sebagai cara menyelami diri. Pilihan itu mungkin sederhana, namun ia menyimpan pesan kuat: tidak semua hal harus berlangsung cepat.
Membaca buku bekas menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap budaya instan. Duduk sebentar, membuka halaman, dan benar-benar hadir di sana adalah kemewahan yang jarang kita sadari. @eko





