Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pasar Buku Gladag Solo, Spot Ngabuburit Literasi di Bulan Ramadan

by eko
Maret 5, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada yang berbeda dari cara orang Solo menunggu azan magrib. Sebagian memilih scroll TikTok sampai baterai 5 persen, sementara yang lain berburu takjil di pinggir jalan. Di sudut yang lebih tenang, beberapa orang justru melangkah ke pojok utara alun-alun, duduk di antara tumpukan buku berdebu, lalu tenggelam dalam halaman-halaman menguning.

Ramadan selalu membawa ritme yang melambat. Kota terasa lebih teduh, dan waktu bergerak lebih jinak. Karena itu, tempat-tempat sunyi menemukan momentumnya. Salah satunya Pasar Buku Gladak yang orang kenal sebagai Taman Buku dan Majalah di sisi utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Di sana, ngabuburit berubah menjadi pertemuan kecil antara manusia dan kata-kata. Orang membuka buku, membolak-balik halaman, lalu membiarkan cerita bekerja pelan di kepala mereka.

Jejak 1980-an yang Masih Bernapas

Sejak 1980-an, para pedagang menjaga denyut Pasar Buku Gladak dengan koleksi yang beragam. Mereka menata buku anak-anak, novel klasik, komik lama, kamus, hingga majalah yang kini sulit ditemukan. Setiap rak memuat potongan zaman yang berbeda.

Meski toko daring terus bermunculan, pasar ini tetap berdiri dengan caranya sendiri. Para pedagang tidak mengejar konsep estetik atau desain kekinian. Sebaliknya, mereka mempertahankan rak kayu, lorong sempit, dan tumpukan buku yang menjulang. Kesederhanaan itu justru menjadi identitas.

Ini Belum Selesai

De Tjolomadoe: Dari Pabrik Gula ke Ruang Sejarah

Pameran Keris Keluar dari Museum, Solo Mengajak Wisatawan Menyentuh Ingatan

Harga yang ramah semakin memperkuat daya tariknya. Dengan Rp5.000 hingga Rp35.000, siapa pun bisa membawa pulang bacaan. Karena itu, membaca terasa inklusif dan membumi, bukan aktivitas eksklusif yang mahal.

Ketika Viral Menghidupkan Kembali

Beberapa bulan lalu, seorang kreator TikTok merekomendasikan Pasar Buku Gladak sebagai hidden gem literasi di Solo. Video singkat itu menyebar cepat dan memantik rasa penasaran. Anak muda pun berdatangan, bukan hanya untuk membuat konten, tetapi juga untuk merasakan suasananya secara langsung.

Fenomena ini menghadirkan ironi yang menarik. Media sosial kerap dituduh menurunkan minat baca, tetapi kali ini justru mendorong orang datang ke kios buku bekas. Rasa ingin tahu membawa mereka masuk, sementara pengalaman yang hangat membuat sebagian kembali lagi.

Kios-kios biasanya buka sekitar pukul 10 pagi dan mulai tutup menjelang pukul 4 sore. Walau jumlah pengunjung tak selalu membludak, aktivitas jual beli tetap berjalan. Seorang pembeli menemukan novel lama yang lama ia cari, sementara yang lain tersenyum saat melihat komik masa kecilnya. Di setiap sudut, selalu ada cerita kecil yang tercipta.

Ramadan dan Jeda yang Disengaja

Memasuki Ramadan, ritme pasar ikut berubah. Siang hari terasa lebih lengang karena banyak orang memilih beristirahat. Namun menjelang sore, suasana perlahan menghangat.

Saat matahari turun dan cahaya berubah keemasan, beberapa pengunjung datang untuk mengisi waktu sebelum berbuka. Mereka berjalan pelan di antara rak, menyentuh sampul buku, lalu membaca beberapa paragraf. Tanpa tergesa, mereka menikmati jeda.

Berbeda dari kafe yang riuh, pasar buku menawarkan ketenangan yang intim. Tidak ada musik keras atau antrean panjang. Yang terdengar hanya suara halaman dibalik dan percakapan pelan antar pembeli. Karena itu, ngabuburit di sini terasa lebih reflektif.

Ramadan memang mengajarkan orang untuk menahan diri. Selain menahan lapar dan dahaga, banyak yang belajar mengurangi distraksi. Dalam konteks itu, buku bekas menjadi teman yang setia: sunyi, namun penuh makna.

Kota, Algoritma, dan Kebetulan

Solo selalu memelihara keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Mal dan coffee shop tumbuh di berbagai sudut kota, sementara keraton dan pasar tradisional tetap kokoh menjaga akar budaya. Pasar Buku Gladak berdiri di pertemuan dua arus tersebut.

Di era algoritma, aplikasi sering menentukan bacaan berdasarkan riwayat pencarian. Sebaliknya, di pasar buku bekas, orang menemukan judul lewat kebetulan. Mereka membuka satu buku, lalu tergoda oleh sampul lain di rak sebelah. Rasa ingin tahu memimpin langkah, bukan sistem rekomendasi.

Buku bekas juga menyimpan jejak pemilik sebelumnya. Kadang ada nama yang tertulis di halaman pertama, kadang ada coretan kecil di tepi paragraf. Detail-detail itu menghadirkan lapisan cerita tambahan, seolah pembaca ikut masuk dalam perjalanan yang lebih panjang.

Refleksi Tabooo: Melambat sebagai Sikap

Di tengah budaya serba cepat, Pasar Buku Gladak mengajak orang mengambil jeda secara sadar. Ia tidak berteriak meminta perhatian, tetapi ia setia menunggu mereka yang ingin melambat.

Ramadan memperjelas makna tersebut. Saat orang menata ulang prioritas hidup, sebagian memilih membaca sebagai cara menyelami diri. Pilihan itu mungkin sederhana, namun ia menyimpan pesan kuat: tidak semua hal harus berlangsung cepat.

Membaca buku bekas menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap budaya instan. Duduk sebentar, membuka halaman, dan benar-benar hadir di sana adalah kemewahan yang jarang kita sadari. @eko

Tags: Kraton SurakartaSolo

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Tragis, Anak 7 Tahun Hanyut di Irigasi Waduk Gajah Mungkur Sukoharjo

Tragis, Anak 7 Tahun Hanyut di Irigasi Waduk Gajah Mungkur Sukoharjo

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id