Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Papua dan Angka Kemiskinan: Realita atau Ilusi Kesenjangan yang Dibiarkan?

by dimas
April 14, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Angka sering kali terdengar dingin, tapi di Papua, angka itu punya wajah. Ada keluarga yang masih bertahan dengan keterbatasan, sementara grafik kemiskinan belum benar-benar turun signifikan.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkap fakta yang tak bisa diabaikan. Kesenjangan antara Papua dan angka nasional masih terlalu lebar untuk disebut wajar.

Kesenjangan yang Masih Terbuka Lebar

Dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR pada Senin (13/4/2026), Tito menyebut rata-rata kemiskinan di sejumlah wilayah Papua masih berada jauh di atas angka nasional.

“Ini bukan bagus, di atas. Karena makin besar angkanya menunjukkan bahwa persentase masyarakat yang miskin besar,” ujar Tito.

Ia menjelaskan, tingkat kemiskinan nasional saat ini berada di angka 8,25 persen. Sementara beberapa wilayah di Papua masih berada di atas 20 persen.

Ini Belum Selesai

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Data yang Bergerak, Tapi Tidak Seragam

Tito memaparkan, tidak semua wilayah menunjukkan kondisi yang sama.

Di Papua Pegunungan, angka kemiskinan turun dari 32,97 persen (2024) menjadi 27,21 persen (2025).

Namun di Papua Tengah, kondisinya berbeda. Angka kemiskinan masih stagnan di 29,45 persen.

“Papua Tengah relatif tidak banyak pergerakan. Hampir sepertiga masyarakatnya masuk kelompok miskin,” kata Tito.

Sementara itu, Papua Barat Daya mencatat penurunan menjadi 17,5 persen.

Namun, tren berbeda terjadi di Papua Selatan yang justru naik dari 17,44 persen menjadi 19,26 persen.

Twist: Ini Bukan Sekadar Angka

Di balik statistik ini, ada pola yang lebih besar dari sekadar naik-turun grafik.

Ini bukan hanya soal satu wilayah miskin atau tidak. Ini tentang ketimpangan yang bergerak tidak seragam, seolah sistemnya tidak bekerja dengan kecepatan yang sama di semua tempat.

Ketika satu wilayah turun, wilayah lain stagnan atau bahkan naik. Di titik ini, kemiskinan bukan lagi sekadar kondisi, tapi struktur yang berjalan sendiri.

Human Impact: Ini Dampaknya Buat Kamu

Ketika angka kemiskinan di satu wilayah masih di atas 20 persen, itu berarti akses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan juga ikut tertahan.

Dan meski kamu tidak tinggal di Papua, ketimpangan seperti ini berdampak pada stabilitas ekonomi nasional jangka panjang. Karena kesenjangan yang dibiarkan terlalu lama tidak pernah benar-benar lokal, ia selalu jadi masalah bersama.

Analisis Tabooo

Masalah Papua bukan hanya soal “turun atau tidak turun”.

Yang lebih penting adalah kenapa penurunan itu tidak terjadi merata.

Apakah ini soal geografis, distribusi kebijakan, atau ada lapisan sistem yang membuat beberapa wilayah selalu tertinggal?

Pertanyaan ini penting, karena kalau tidak dijawab, kita hanya akan terus membaca grafik yang sama setiap tahun dengan cerita yang berbeda tapi masalah yang serupa.

Penutup

Kalau angka bisa turun di satu tempat tapi stagnan di tempat lain, sebenarnya yang sedang kita perbaiki itu sistemnya atau hanya tampilannya saja? @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaKemiskinanKetimpanganNasionalpapua

Kamu Melewatkan Ini

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

Mentan Tantang Kampus Wujudkan Swasembada Pangan

by teguh
Juni 6, 2026

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan swasembada...

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

by dimas
Juni 5, 2026

Pembodohan struktural dan kemiskinan bukan sekadar masalah sosial. Keduanya dapat menjadi alat politik yang melemahkan daya kritis warga dan menguntungkan...

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Katanya Rupiah Mau ke Rp15.000, Kok Malah Nyasar ke Rp18.000?

by dimas
Juni 5, 2026

Pemerintah menargetkan rupiah kembali ke Rp15.000 per dolar AS. Namun pasar justru mendorongnya tembus Rp18.000. Salah strategi atau krisis kepercayaan?...

Next Post
Dugaan Pelecehan Verbal di FH, UI Bertindak Tegas

Dugaan Pelecehan Verbal di FHUI, UI Bertindak Tegas

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id