Panjat pinang menyimpan jejak kolonial yang kemudian diubah menjadi tradisi kemerdekaan dan simbol gotong royong masyarakat Indonesia.
Tabooo.id – Setiap Agustus, sebatang pinang berdiri di tengah kampung. Tubuh-tubuh saling bertumpuk di bawahnya. Oli membuat batang itu licin. Hadiah menggantung di puncak. Tawa pecah setiap kali seseorang jatuh.
Sekilas, tidak ada yang lebih Indonesia dari adegan itu.
Namun, ada sejarah yang jarang ikut naik ke puncak.
Panjat pinang ternyata menyimpan jejak kolonial. Permainan serupa dikenal di Eropa sebagai mastklimmen atau panjat tiang. Tradisi itu kemudian hadir di Hindia Belanda dan berkembang sebagai hiburan dalam berbagai perayaan kolonial. Dokumentasi sekitar 1940 di Madiun bahkan mencatat permainan mastklimmen dengan batang pinang yang dilumuri pelumas dan hadiah di bagian atas.
Masalahnya, sejarah panjat pinang tidak berhenti pada pertanyaan sederhana: siapa yang menciptakannya?
Justru di situlah ceritanya menjadi menarik.
Ketika Tiang Menjadi Panggung Kolonial
Pada masa Hindia Belanda, panjat pinang muncul dalam berbagai pesta dan perayaan. Salah satu konteks pentingnya ialah perayaan yang berkaitan dengan Ratu Wilhelmina dan Pasar Gambir.
Penelitian Esti Asmira menunjukkan Pasar Gambir menjadi sebuah pertunjukan kolonial yang mempertemukan pameran, pasar, hiburan, dan masyarakat jajahan. Festival itu berlangsung bertepatan dengan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Namun, masyarakat pribumi tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga menjadi peserta dan konsumen dalam pertunjukan tersebut.
Penelitian Susie Protschky juga menunjukkan bahwa perayaan monarki Belanda di Hindia berlangsung dalam skala besar. Perayaan tersebut terhubung dengan upaya membangun citra monarki dan hubungan simbolik antara koloni dengan negeri Belanda.
Di tengah panggung seperti itu, panjat pinang punya fungsi yang sederhana sekaligus problematis.
Ia menghibur.
Tetapi ia juga memperlihatkan siapa yang memanjat dan siapa yang menonton.
Dokumentasi kolonial memperlihatkan peserta pribumi memanjat batang licin demi mendapatkan hadiah. Hadiahnya bisa berupa makanan, pakaian, atau barang kebutuhan yang pada masa itu memiliki nilai tinggi bagi masyarakat bawah. Sementara itu, orang-orang Eropa sering hadir sebagai penonton.
Di sana, tubuh rakyat menjadi bagian dari tontonan.
Dan sejarah tidak selalu nyaman ketika kita melihatnya dari dekat.
Dari Objek Tontonan Menjadi Permainan Kita
Namun, mengatakan panjat pinang sebagai sekadar “warisan Belanda” juga terlalu sederhana.
Sebab budaya tidak bekerja seperti barang di gudang.
Ia berpindah. Ia berubah. Ia ditafsirkan ulang.
Ketika permainan itu masuk ke ruang sosial masyarakat Indonesia, aturan dan maknanya mengalami perubahan. Tiang kolonial berubah menjadi batang pinang. Hadiah berubah. Penonton berubah. Konteksnya berubah.
Yang paling penting, maknanya berubah.
Hari ini orang tidak memanjat untuk menghibur pejabat kolonial. Mereka memanjat bersama tetangga untuk merayakan kemerdekaan.
Di bawah tiang, tidak ada lagi pembagian sederhana antara penjajah dan yang dijajah.
Yang ada adalah tubuh-tubuh yang saling menopang.
Orang paling bawah memang menanggung beban paling berat. Ia mungkin tidak pernah menyentuh hadiah. Namun tanpa dirinya, orang lain tidak akan mencapai puncak.
Ironisnya, justru di situlah masyarakat Indonesia menulis ulang permainan tersebut.
Permainan individual berubah menjadi kerja kolektif.
Tontonan kolonial berubah menjadi gotong royong.
Objek hiburan berubah menjadi simbol perjuangan.
Itulah bentuk pengambilalihan budaya yang sering luput dari pembicaraan tentang dekolonisasi.
Tidak Semua Warisan Kolonial Harus Dibuang
Belakangan, pembicaraan tentang warisan kolonial semakin ramai karena proses restitusi benda budaya dari Belanda ke Indonesia.
Namun, perlu diluruskan bahwa pada September 2025 pemerintah Belanda mengumumkan pengembalian lebih dari 28.000 fosil dari Koleksi Dubois kepada Indonesia. Koleksi itu berada di Naturalis Biodiversity Center di Leiden. Pengembalian tersebut berbeda dari restitusi artefak budaya, meski sama-sama terkait sejarah kolonial dan persoalan kepemilikan.
Belanda juga terus mengembalikan benda budaya lain. Pada 2024, misalnya, pemerintah Belanda menyetujui pengembalian 288 objek kepada Indonesia, termasuk benda dari koleksi Puputan Badung dan sejumlah arca Hindu-Buddha.
Tetapi panjat pinang tidak membutuhkan pesawat untuk pulang.
Ia sudah pulang.
Bukan karena batang pinangnya dikembalikan.
Bukan karena Belanda mengakui kepemilikannya.
Melainkan karena masyarakat Indonesia sudah mengubah maknanya.
Ini bukan sekadar kejadian budaya.
Ini adalah pola.
Yang Direbut Bukan Bendanya, Melainkan Maknanya
Dekolonisasi sering dibayangkan sebagai proses mengembalikan benda.
Padahal, persoalan kolonial juga menyangkut cara kita melihat sesuatu.
Sebuah arca bisa kembali ke Indonesia, tetapi tetap dipajang tanpa cerita tentang bagaimana benda itu dirampas. Dalam kondisi seperti itu, bendanya memang sudah pulang.
Namun, cara pandangnya belum tentu berubah.
Panjat pinang menawarkan cerita yang berbeda.
Bendanya tidak berubah.
Tiangnya tetap licin.
Peserta tetap jatuh.
Hadiah tetap menggantung.
Tetapi siapa yang menentukan maknanya sudah berubah.
Dulu, permainan itu dapat menjadi bagian dari tontonan kolonial. Sekarang, masyarakat menjadikannya bagian dari perayaan kemerdekaan.
Di sinilah budaya menunjukkan kekuatannya.
Kita tidak selalu melawan warisan kolonial dengan menghancurkannya. Kadang kita melawannya dengan mengambil alih maknanya.
Kita melakukan hal yang sama pada banyak unsur lain.
Rel kereta tidak kita bongkar hanya karena kolonialisme membangunnya. Bahasa Melayu yang berkembang dalam administrasi kolonial juga tidak kita buang. Sebaliknya, bahasa itu kita angkat menjadi bahasa persatuan.
Budaya bukan museum.
Budaya hidup karena manusia terus menggunakannya.
Tetapi Jangan Sampai Sejarahnya Dihapus
Ada satu jebakan lain.
Ketika panjat pinang disebut sebagai “kearifan lokal”, kita bisa saja terlalu cepat membersihkan sejarahnya.
Kita membuang bagian yang tidak nyaman.
Kita menyisakan oli, tawa, hadiah, dan gotong royong. Namun kita menghapus cerita tentang kolonialisme yang pernah mengitarinya.
Itu sama berbahayanya.
Sebab mengubah makna bukan berarti menghapus asal-usul.
Justru sejarah kolonialnya perlu tetap diceritakan.
Kita perlu tahu bahwa permainan itu pernah hadir dalam ruang kolonial, kita perlu tahu siapa yang memanjat, kita perlu tahu siapa yang menonton dan kita perlu tahu mengapa hadiah tertentu terasa begitu berharga.
Dengan begitu, panjat pinang tidak hanya menjadi permainan.
Ia menjadi arsip hidup.
Setiap Agustus, batang pinang itu seperti mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum. Kadang sejarah berdiri di lapangan kampung, dilumuri oli, lalu dipanjat anak-anak yang bahkan tidak pernah mengenal nama Wilhelmina.
Dan mungkin, justru di situlah kemenangan kebudayaan terjadi.
Bukan ketika kita berhasil menghapus jejak masa lalu.
Melainkan ketika kita mampu mengambil sesuatu dari masa lalu, mengubah aturannya, lalu menjadikannya milik kita sendiri.
Delapan puluh satu tahun setelah Proklamasi, panjat pinang masih berdiri.
Ia bukan lagi panggung untuk kolonialisme.
Ia sudah menjadi panggung kita.
Namun setiap kali seseorang berdiri di bahu orang lain untuk mencapai puncak, ada satu pertanyaan yang layak kita ingat:
Kalau sejarah pernah membuat kita menjadi tontonan, bukankah kemerdekaan berarti kita sekarang berhak menentukan sendiri apa arti pertunjukan itu? @dimas








