Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Paapa Essiedu Belum Main, Tapi Sudah Dibunuh’ di Internet

by eko
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Kasus yang menimpa Paapa Essiedu ini bukan sekadar “drama fandom,” tapi sudah masuk wilayah serius rasisme, ancaman kekerasan, dan tekanan psikologis terhadap aktor yang hanya menjalankan pekerjaannya.

Dari Panggung ke Hogwarts

Paapa Essiedu mencuri perhatian lewat proyek seperti Black Mirror dan I May Destroy You. Setelah itu, pihak produksi menunjuknya untuk memerankan Severus Snape dalam serial reboot Harry Potter. Sebelumnya, Alan Rickman membangun citra Snape yang ikonik di versi film. Karena itu, perubahan casting terutama soal ras langsung memicu perdebatan keras di internet.

Ancaman yang Melewati Batas

Setelah pengumuman itu, Essiedu menerima pesan mengerikan di media sosial, termasuk ancaman pembunuhan. Ia menegaskan bahwa tidak ada orang yang pantas menghadapi hal seperti ini hanya karena bekerja. Fenomena ini menunjukkan banyak orang masih meremehkan kebencian digital, padahal dampaknya nyata baik secara emosional maupun dari sisi keamanan.

Kritik vs Serangan Personal

Publik tentu boleh mengkritik adaptasi, apalagi untuk franchise sebesar Harry Potter. Namun, sebagian orang melampaui batas. Mereka tidak lagi membahas kualitas cerita atau akting, tetapi langsung menyerang Essiedu secara personal dengan muatan rasis. Pola ini terus berulang setiap kali aktor kulit hitam masuk ke waralaba besar dan dianggap “tidak sesuai” oleh sebagian penggemar.

Dampak Emosional yang Nyata

Essiedu mengakui situasi ini memengaruhi emosinya. Ia sempat membandingkan pekerjaannya dengan profesi lain yang lebih berisiko, seolah mengecilkan beban yang ia rasakan. Namun, pernyataan itu justru menegaskan satu hal: tekanan mental tetap nyata, bahkan ketika seseorang hanya berakting.

Ini Belum Selesai

Amir Syarifuddin: Tokoh Komunis yang Membawa Injil saat Eksekusi

GTA 6 Habiskan Rp 26 Triliun, Ini Game atau Negara Kecil?

Dari Ancaman Jadi Motivasi

Alih-alih mundur, Essiedu memilih melangkah maju. Ia ingin membentuk versi Snape miliknya sendiri. Ia juga membawa motivasi personal: keinginan menghadirkan representasi bagi anak-anak yang dulu, seperti dirinya, hanya bisa membayangkan diri mereka berada di Hogwarts tanpa pernah melihat sosok yang mirip dengan mereka.

Lebih dari Sekadar Serial

Kasus ini membuka diskusi yang lebih luas tentang siapa yang layak hadir dalam dunia fiksi. Banyak orang masih menuntut karakter tetap sama seperti versi lama. Padahal, dunia fiksi memberi ruang untuk interpretasi baru. Reaksi berlebihan sering kali bukan soal cerita, tetapi soal siapa yang akhirnya tampil di layar.

Pertanyaan yang Tersisa

Kalau dunia sihir saja masih dipenuhi kebencian di dunia nyata, siapa sebenarnya yang perlu berubah? @eko

Kamu Melewatkan Ini

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

Berani Speak Up di Depan Juri: Sikap Kritis atau Tanda Mental Anak Makin Sehat?

by teguh
Mei 13, 2026

Sebuah video membuat publik berhenti scroll. Bukan karena keributan. Bukan juga karena drama panggung lomba. Publik justru menyorot keberanian seorang...

Perempuan Modern, Burnout, dan Semangkuk Seblak Pedas

Seblak Pedas, Burnout, dan Perempuan Modern

by Anisa
Mei 12, 2026

Seblak pedas bukan lagi sekadar jajanan kaki lima bagi banyak perempuan modern. Di tengah hidup yang penuh tekanan, makanan ini...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Next Post
Anak Tanpa Sosial Media: Proteksi atau Panik Kolektif?

Anak Tanpa Sosial Media: Proteksi atau Panik Kolektif?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id