Outfit keren sekarang ada di mana-mana. Timeline penuh orang dengan gaya rapi, warna estetik, dan penampilan yang terlihat percaya diri. Tapi anehnya, semakin banyak orang tampil stylish, ternyata mereka juga diam-diam semakin sering meragukan kekerenan dirinya sendiri.
Tabooo.id: Life – Pernah berdiri lama di depan cermin hanya untuk memilih kaos?
Padahal agendanya biasa saja. Nongkrong sebentar. Beli kopi. Ketemu teman. Namun entah kenapa, rasanya selalu ada yang salah. Celana terasa aneh. Warna terlihat gagal. Potongan baju seperti tidak cocok dengan badan sendiri.
Lalu hari dimulai dengan rasa tidak nyaman.
Pakaian dan Beban Sosial
Beberapa tahun lalu, orang memakai baju karena fungsi. Praktis. Nyaman. Selesai.
Hari ini berbeda.
Orang sekarang membaca pakaian sebagai identitas. Mereka menilai selera, status, bahkan karakter hanya dari penampilan luar. Banyak orang melihat sepatu sebagai simbol kelas sosial. Mereka juga mengaitkan jaket tertentu dengan gaya hidup tertentu. Kadang, warna pakaian saja sudah cukup untuk memunculkan asumsi.
Tekanannya terasa halus. Tapi terus muncul.
Media sosial memperbesar semuanya. Timeline penuh wajah simetris, tubuh proporsional, dan gaya yang terlihat effortless. Padahal banyak foto melewati editing, pencahayaan, sampai puluhan percobaan sebelum diunggah.
Namun otak tetap membandingkan.
Dan karena pakaian langsung melekat pada tubuh, tekanan itu akhirnya ikut terasa setiap kali orang berpakaian.
Banyak Orang Tidak Merdeka Memilih Gayanya Sendiri
Lemari penuh. Referensi berserakan di TikTok. Inspirasi tinggal scroll.
Tetap saja bingung.
Karena banyak orang sebenarnya tidak sedang mencari outfit yang mereka suka.
Mereka lebih mencari rasa aman. Tidak ingin terlalu mencolok. Takut terlihat aneh. Sebisa mungkin menghindari komentar orang.
Pelan-pelan, orang mulai kehilangan selera pribadinya sendiri. Mereka berpakaian supaya lolos dari penilaian sosial.
Bagian paling aneh ada di sini.
Kadang seseorang membeli baju mahal, lalu tetap merasa kecil saat memakainya.
Jadi rasa tidak nyaman itu bukan soal kain semata. Ada hal lain yang ikut terbawa.
Internet Membuat Semua Orang Merasa Kurang
Dulu perbandingan terjadi di lingkungan kecil, seperti di sekolah, kampus, tempat kerja. Sekarang tidak.
Dalam lima menit, seseorang bisa melihat model internasional, influencer gym, artis Korea, sampai fashion creator dengan tubuh ideal. Semua muncul dalam satu layar kecil.
Sulit untuk tidak merasa tertinggal.
Apalagi algoritma terus mendorong standar visual yang hampir seragam. Pinggang kecil. Kulit bersih. Outfit clean. Pose santai.
Lama-lama orang mulai percaya bahwa penampilan seperti itu adalah bentuk “normal”.
Padahal bukan.
Makanya ada orang yang langsung kehilangan mood hanya karena merasa bajunya tidak cocok.
Bukan perkara sepele ternyata.
Tubuh Asli Tidak Selalu Cocok dengan Tren
Industri fashion jarang membicarakan satu hal ini secara jujur.
Banyak brand merancang tren untuk tipe tubuh tertentu. Karena itu, outfit yang terlihat bagus di internet belum tentu terasa cocok di kehidupan nyata. Potongan oversized bisa membuat sebagian orang kehilangan proporsi tubuhnya. Celana low rise mungkin terlihat keren di kamera, tapi banyak orang merasa tidak nyaman saat memakainya seharian.
Sayangnya, banyak orang justru menyalahkan dirinya sendiri.
“Badan gue aneh.”
“Kayaknya gue nggak pantas pakai beginian.”
Padahal bisa jadi desain pakaiannya memang tidak dibuat untuk bentuk tubuh mereka.
Namun internet jarang memberi ruang untuk realitas seperti itu.
Semuanya terlihat mulus di layar.
Ada Orang yang Sebenarnya Tidak Minder dengan Outfitnya
Kenapa ada orang memakai pakaian sederhana tapi terlihat tenang. Sebaliknya, ada yang tampil mahal namun tetap terlihat gelisah.
Karena rasa percaya diri tidak lahir dari label brand.
Percaya diri muncul saat seseorang tidak sibuk meminta validasi setiap kali bercermin. Dan itu mungkin makin langka sekarang, karena orang terlalu sering melihat dirinya lewat mata orang lain.
Banyak Orang Lelah Karena Penampilan
Capek menjaga penampilan supaya tetap menarik. Terus mengejar tampilan yang terlihat aesthetic. Belum lagi pikiran tentang omongan orang lain yang tidak pernah benar-benar hilang.
Beberapa bahkan mengganti pakaian berkali-kali sebelum pergi keluar. Ada yang batal datang ke acara hanya karena merasa tidak cocok dengan penampilannya sendiri.
Hal kecil seperti itu mulai dianggap biasa. Padahal tubuh dan pikiran sedang terus menerima tekanan.
Di pusat perbelanjaan, orang sibuk mencari outfit baru. Di saat yang sama, banyak yang sebenarnya sedang mencari rasa cukup. Sedangkan itu dua hal berbeda. Ironis. @naysa







