Oleh: KPA Hari Andri Winarso Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)
Tabooo.id: Commissioner’s Note – Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian, tanpa layar, tanpa suara, tanpa distraksi? Bukan sendirian secara fisik. Tapi sendirian dengan pikiranmu sendiri.
Nyepi datang setiap tahun, membawa satu hal yang jarang kita temui di zaman ini: keheningan total. Namun yang sering tidak kita sadari, yang kita hadapi saat Nyepi bukanlah kesepian. Melainkan sesuatu yang jauh lebih menakutkan, yakni diri kita sendiri.
Dunia yang Terlalu Bising untuk Jujur
Kita hidup di era di mana kebisingan adalah standar. Notifikasi yang tidak pernah berhenti. Konten yang tidak pernah habis. Opini datang dari segala arah, bahkan sebelum kita sempat membentuk pikiran sendiri.
Kita terbiasa mengisi setiap detik dengan sesuatu. Scrolling, chatting, bekerja, menonton, dan apa pun, yang penting kita tidak harus diam.
Karena diam berarti memberi ruang, dan ruang berarti membuka banyak kemungkinan. Kemungkinan tentang pikiran-pikiran yang selama ini kita tekan, Kemungkinan munculnya pertanyaan yang kita hindari, dan kenyataan yang mungkin tidak kita sukai.
Dalam dunia seperti ini, Nyepi terasa seperti gangguan. Sebuah “pause” yang tidak kita minta, tapi sesungguhnya justru kita butuhkan.
Nyepi: Saat Tidak Ada Tempat untuk Lari
Di hari Nyepi, semua berhenti. Bandara tutup. Jalanan kosong. Lampu dipadamkan. Tidak ada distraksi eksternal. Itu berarti satu hal, yaitu tidak ada tempat untuk kita bersembunyi.
Selama ini, kita mengira kita takut sepi. Padahal yang kita takutkan adalah apa yang muncul ketika kita tidak lagi sibuk.
Mungkin rasa lelah yang selama ini kita abaikan. Mungkin kegelisahan yang tidak pernah kita akui. Atau mungkin pertanyaan sederhana yang terlalu lama kita tunda: Apakah hidup yang kita jalani ini benar-benar kita pilih?
Nyepi memaksa kita untuk duduk bersama semua itu. Tanpa pelarian. Tanpa filter.
Identitas yang Dibangun dari Luar
Sebagian besar dari kita membangun identitas dari apa yang terlihat, pekerjaan, pencapaian, jumlah followers, validasi sosial. Kita menjadi apa yang dunia lihat, bukan apa yang kita rasakan.
Masalahnya, identitas yang dibangun dari luar selalu rapuh. Ia bergantung pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita kendalikan. Dan ketika semua itu berhenti, seperti saat Nyepi, kita mulai merasa kosong.
Bukan karena kita tidak punya apa-apa, tapi karena kita tidak benar-benar mengenal siapa diri kita tanpa semua itu.
Keheningan yang Mengungkap Kebenaran
Nyepi bukan sekadar tradisi. Ia adalah mekanisme refleksi yang paling jujur.
Dalam keheningan, tidak ada distraksi yang bisa kita gunakan untuk menipu diri sendiri. Tidak ada suara luar yang bisa menutupi suara dalam. Dan di situlah kebenaran mulai muncul. Kadang tidak nyaman, kadang menyakitkan. Tapi justru sebenarnya di situlah awal dari kesadaran. Karena kesadaran tidak pernah lahir dari kebisingan. Ia lahir dari keberanian untuk diam dan mendengar.
Generasi yang Selalu Terkoneksi, Tapi Jarang Terhubung
Kita adalah generasi yang paling terhubung dalam sejarah, tapi ironisnya, juga yang paling mudah merasa kehilangan arah. Kita tahu apa yang terjadi di dunia, tapi sering tidak tahu apa yang terjadi di dalam diri kita.
Nyepi memberikan satu pelajaran yang sederhana, tapi jarang diajarkan bahwa koneksi paling penting dalam hidup ini bukan dengan dunia, tapi dengan diri sendiri. Dan koneksi itu tidak bisa dibangun dalam kebisingan.
Setelah Nyepi, Apakah Kita Akan Kembali Sama?
Pertanyaan terbesar bukan apa yang kita rasakan saat Nyepi, melainkan apa yang kita lakukan setelahnya. Apakah kita akan kembali ke rutinitas yang sama, mengisi setiap detik dengan distraksi, dan kembali menghindari diri sendiri? Atau kita mulai membawa sedikit keheningan itu ke dalam hidup kita?
Mungkin tidak dengan mematikan dunia sepenuhnya, tapi dengan memberi ruang untuk berpikir, untuk merasakan, untuk jujur. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa ramai kita terlihat, tapi seberapa jujur kita mengenal diri sendiri.
Sunyi yang Mengajak Pulang
Nyepi bukan tentang kehilangan aktivitas. Ia tentang menemukan arah. Bukan tentang menjauh dari dunia, tapi tentang kembali ke dalam. Dan mungkin, yang selama ini kita hindari bukanlah kesepian, melainkan pertemuan dengan diri sendiri yang belum pernah benar-benar kita kenal.
Nyepi mengingatkan kita akan satu hal sederhana, bahwa sebelum kita mencari makna di luar, kita perlu berani menemukannya di dalam. Karena di situlah semuanya bermula, dan di situlah semuanya kembali.
Rahajeng Rahina Nyepi Warsa Saka 1948. @tabooo




