Tabooo.id: Global – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menyiapkan langkah besar di sektor nuklir. Ia mengkaji perluasan armada nuklir sekaligus membuka peluang uji coba senjata nuklir bawah tanah. The New York Times melaporkan pada Senin (9/2) bahwa Gedung Putih menyusun sejumlah opsi setelah perjanjian New START dengan Rusia resmi berakhir pada 5 Februari.
Dengan berakhirnya perjanjian itu, AS tak lagi menghadapi batasan jumlah hulu ledak strategis.
Selama ini, New START membatasi maksimal 1.550 hulu ledak strategis untuk masing-masing negara. Namun Trump menolak usulan perpanjangan informal dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Pada hari yang sama, ia menegaskan bahwa AS membutuhkan kesepakatan baru yang “lebih baik dan modern.”
Keputusan itu langsung mengubah arah kebijakan nuklir Amerika.
Gedung Putih Siapkan Sejumlah Opsi
Pejabat senior AS menyatakan pemerintah sedang menilai penempatan senjata nuklir tambahan. Tim keamanan nasional juga menghitung kemungkinan mengaktifkan kembali hulu ledak cadangan yang selama ini tersimpan.
Selain itu, Trump dapat mengizinkan Angkatan Laut memaksimalkan tabung peluncur rudal di kapal selam kelas Ohio. Jika pemerintah mengambil langkah tersebut, armada kapal selam bisa membawa lebih banyak rudal balistik.
Di forum perlucutan senjata di Jenewa, Wakil Menteri Luar Negeri Thomas DiNanno menegaskan bahwa New START membatasi ruang gerak AS secara sepihak. Ia menekankan bahwa kini Washington bebas memperkuat kemampuan nuklirnya.
Trump juga mendorong uji coba nuklir baru. Ia beralasan AS perlu bertindak setara dengan Rusia dan China. DiNanno bahkan menuduh kedua negara itu kemungkinan melakukan uji coba berskala kecil yang sulit terdeteksi.
Strategi Tekanan atau Awal Perlombaan?
Selama beberapa dekade, Washington dan Moskow menurunkan jumlah senjata nuklir melalui perjanjian bilateral. Kini Trump memilih jalur berbeda. Ia mengandalkan tekanan kekuatan untuk mendorong negosiasi baru.
Sebagian pakar mendukung strategi itu. Mereka percaya Rusia dan China hanya akan serius berunding jika AS menunjukkan kesiapan penuh.
Namun analis lain melihat risiko besar. Jika AS menambah kapasitas, Rusia dan China hampir pasti merespons. Situasi itu bisa memicu perlombaan senjata generasi baru lebih cepat, lebih canggih, dan lebih mahal.
Dampaknya ke Dunia
Sekutu AS di Eropa dan Asia Timur menghadapi konsekuensi paling nyata. Negara-negara NATO, Jepang, dan Korea Selatan mungkin merasa lebih aman di bawah payung nuklir Washington. Namun mereka juga berdiri di garis depan jika ketegangan meningkat.
Negara berkembang ikut terdampak secara tidak langsung. Ketika negara besar menaikkan anggaran militer, pasar global bereaksi. Investor mencari aman, harga energi berfluktuasi, dan stabilitas ekonomi terguncang.
Sementara itu, publik global menyaksikan ketegangan meningkat tanpa bisa mengendalikan arah kebijakan tersebut.
Trump kini memegang kendali penuh atas arah baru kebijakan nuklir Amerika. Dunia menunggu apakah ia benar-benar mengincar kesepakatan baru atau sekadar menguji batas kekuatan lawan.
Satu hal pasti: ketika negara adidaya kembali menghitung jumlah hulu ledak, masyarakat dunia hanya bisa menghitung risiko.
Dan dalam politik nuklir, kesalahan kecil bisa menghasilkan konsekuensi yang terlalu besar untuk diperbaiki.@eko




