Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih kalian merasa hidup sedang ada di titik paling bawah? Rasanya semua buntu. Mau tidur susah, bangun pun malas. Dalam kondisi seperti itu, manusia kadang cuma butuh satu hal sederhana seporsi mie ayam hangat.
Kedengarannya sepele. Tapi justru dari hal kecil seperti itulah cerita besar sering muncul.
Itulah premis unik dari novel laris Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna yang kini akan hadir di layar lebar. Ya, mie ayam yang biasanya jadi penyelamat di tanggal tua, sekarang naik level menjadi titik balik sebuah kisah tentang hidup, putus asa, dan harapan.
Jika semua berjalan sesuai rencana, kisah sederhana ini akan segera hadir di bioskop.
Dari Novel Best Seller ke Layar Lebar
Sinergi Pictures menggandeng Ben Film untuk memproduksi film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Mereka menunjuk Kuntz Agus sebagai sutradara untuk menghidupkan emosi cerita di layar.
Produser Sinergi Pictures, Philip Lesmana, menjelaskan alasan timnya memilih novel ini sebagai bahan film. Menurutnya, cerita dalam buku tersebut terasa dekat dengan kehidupan banyak orang.
Philip menilai novel ini tidak hanya populer karena jumlah pembacanya tinggi. Ceritanya juga kuat secara emosional dan relevan dengan realitas sehari-hari.
“Selain karena banyak dibaca, alasan kami mengadaptasi novel ini adalah karena ceritanya sangat bagus, dekat dengan banyak orang, dan tentunya inspiratif,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (4/3/2026).
Produser Ben Film, Ardina Atles, juga memastikan tim produksi menyiapkan proses adaptasi dengan serius. Tim memilih filmmaker dan pemain dengan sangat hati-hati agar filmnya bisa memuaskan pembaca novel sekaligus menarik penonton baru.
Tim produksi sudah menggelar casting di sejumlah lokasi. Namun mereka masih merahasiakan siapa yang akan memerankan tokoh utama Ale.
Rencananya, kru film akan memulai proses syuting pada April 2026.
Kisah 24 Jam yang Mengubah Segalanya
Cerita film ini mengikuti Ale, seorang pria yang merasa hidupnya sudah jatuh ke titik paling rendah. Dalam kondisi putus asa itu, Ale membuat keputusan besar: ia ingin mengakhiri hidupnya.
Namun sebelum mengambil langkah terakhir, Ale punya satu keinginan sederhana ia ingin makan seporsi mie ayam.
Masalahnya, warung mie ayam yang ia tuju justru tutup.
Ironis? Jelas. Tragis? Sedikit. Tapi justru dari penundaan kecil itulah cerita mulai bergerak.
Selama 24 jam berikutnya, Ale bertemu berbagai orang dan mengalami peristiwa-peristiwa sederhana yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang kehidupan.
Di titik itu kita sadar: hidup sering berubah bukan karena momen besar. Kadang hidup berubah hanya karena mie ayam.
Ketika Hiburan Menyentuh Realita
Daya tarik cerita ini bukan cuma ada di plotnya. Pesan sosialnya juga terasa kuat.
Kita hidup di era ketika banyak orang terlihat baik-baik saja di media sosial, padahal diam-diam sedang berjuang sendirian. Tekanan hidup, rasa gagal, dan kesepian sering datang tanpa suara.
Cerita Ale terasa seperti cermin kecil dari realitas itu.
Banyak orang pernah berada di titik ketika hidup terasa tidak punya arah. Dan sering kali, yang menyelamatkan bukan motivasi besar atau kata-kata bijak viral. Kadang yang menyelamatkan hanyalah pertemuan kecil, percakapan singkat, atau… ya, seporsi mie ayam.
Di sinilah kekuatan cerita Brian Khrisna terasa. Ia mengangkat sesuatu yang sangat sehari-hari lalu mengubahnya menjadi refleksi tentang arti hidup.
Sederhana, tapi menampar.
Jadi, Seporsi Mie Ayam Bisa Menyelamatkan Hidup?
Tentu saja mie ayam bukan solusi semua masalah hidup. Kalau iya, antrean warung pasti penuh orang yang sedang krisis eksistensial.
Namun cerita ini mengingatkan kita pada satu hal penting: hidup sering berubah karena hal-hal kecil yang kita anggap sepele.
Pertemuan tak sengaja. Obrolan singkat. Atau keputusan untuk menunda sesuatu bahkan hanya karena warung mie ayam tutup.
Jadi sebelum merasa hidup sudah selesai, mungkin ada satu hal yang bisa kita lakukan dulu.
Cari mie ayam. Siapa tahu, dari situ cerita baru justru mulai. @eko







